Otsus Jilid II ibarat “Racun Pemusnah OAP”

Oleh: Gamoye Makiimee

SELAMA 19 tahun Otonomi Khusus (Otsus) diberlakukan, akhirnya 1 Januari 2021, atau awal tahun depan akan berakhir. Sebab dikontrak selama 20 tahun sebagai “bargaining” kemerdekaan Papua. OAP telah mengetahui bahwa tujuan utama UU Otsus diberlakuan adalah untuk kesejahteraan dan kedamaian rakyat Papua sebagai bagian dari Indonesia. Singkatnya, Otsus diberlakukan supaya Papua tidak merdeka, atau kemerdekaan Papua dipending karena Otsus didahulukan. Pertanyaannya, apakah benar Negara mewujudkan tujuan pemberlakukan Otsus? Apa indikasi dasar keberhasilan Otsus? selanjutnya, mengapa rakyat Papua mengatakan Otsus tidak berhasil? Mengapa rakyat Papua mengatakan Otsus sudah dikuburkan (mati dan menjadi almarhum)? Bukankah Otsus adalah “racun” yang memusnahkan rakyat asli Papua? Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak rakyat Papua secara khusus dan masyarakat dunia lebih jelih melihat realisasi dari Otsus. Dengan demikian, semua “stakeholder” tidak saling menipu dan menjatuhkan.

Jakarta klaim Otsus berhasil

Rakyat Papua mengatakan, “hanya orang bodoh yang mengatakan Otsus berhasil”. pernyataan ini menyindir pemerintah Pusat (Jakarta) yang mengklaim bahwa Otsus telah berhasil. Jakarta mengatakan Otsus berhasil tanpa bukti. Sebab justru di era Otsus (selamat 19 tahun) banyak terjadi korban nyawa, belum terhitung korban harta kekayaan dan alam.

Indonesia melalui antek-antek NKRI mengubah wajahnya “ganas, jahat dan sadis” menjadi “halus, baik dan bermoral”. Indonesia mengkerahkan kaum candekiawan (professor-doktor, ahli dan kaum cerdik pandai) untuk membalikan fakta (realitas) sejati di tanah Papua di mata dunia. Kekerdelian ilmu dan pengetahuan meraja lelah di budi kaum terdidik. Terlihat jelas, bahwa predikat dan tingkatan ilmu diperoleh bukan untuk memerdekakan manusia, namun untuk membodohi (menindas) kaum lemah dan rakyat miskin.

Kaum professor dan doktor Indonesia berjuang mati-matian membenarkan tindakan dosa, anarkis, pembunuhan, pembantaian rakyat Papua dengan tulisan-tulisan murahan di manca Negara. Termasuk pemberlakuan Otsus. Otsus yang secara nyata telah gagal, tidak berlaku dan diberlakukan secara penuh, bahkan atas nama Otsus banyak manusia gagal, diberitakan kepada dunia: melalui aneka media, seolah-olah sukses. Kaum cerdik pandai tidak merasa berdosa dan bersalah atau penipuan publik yang dipraktekan. Bahkan, mereka tidak menyadari bahwa mereka sendiri “memandulkan ilmu yang diperoleh”: mereka jatuh setingkat TK (Taman Kanak-kanak). Mereka menjadi penghianat, paling bodoh dari segenap manusia demi uang, jabatan dan politik kekuasaan.

Artinya, mengatakan bahwa Otsus berhasil dengan aneka dalil yang diperjuangkan dengan aneka logika dan ilmu ada “membunuh diri”, baik saat ini, maupun diakhirat. Sebab, pada dasarnya (secara real) Otsus benar-benar gagal, sebagaimana dipaparkan bukti-bukti oleh bapak Natalis Pigai (Pegiat HAM NKRI) juga 57 Pastor Pribumi Papua pada beberapa minggu yang lalu.

Dengan demikian, Indonesia dengan cara apa pun dan oleh siapa pun tidak bisa “mengklaim” atau membenarkan bahwa Otsus berhasil. Otsus benar-benar gagal, karena itu Indonesia harus memberikan “kemerdekaan” kepada rakyat Papua karena tawaran dari Otsus adalah Merdeka.

Papua mengatakan Otsus gagal

Indikasi utama Papua mengatakan Otsus gagal adalah sejak Otsus diberlakukan (1 Januari 2001) hinggga saat ini (tahun 2020) banyak manusia yang mati. Kasus paling panas adalah pada 19 Agustus 2020, di Timika 3 orang ditembak mati oleh TNI dan POLRI atas nama: Demu Newegalen, Uter Newegalen dan Demerina Wamang.

Korban di atas korban dialami rakyat Papua. masih belum sebutkan ribuan bahkan jutaan manusia Papua yang korban di era Otsus: baik secara langsung maupun tidak langsung, baik nyata maupun terselubung. Di samping itu harta benda, kekayaan alam Papua, juga aneka sistem dan struktur yang menindas. Terlihat bahwa Otsus diberlakukan bukan untuk “mensejahterakan dan juga mendamaikan” Papua, melainkan mengacaukan, bahkan membunuh dan memusnahkan rakyat Papua dari muka bumi. Rakyat Papua mengatakan Otsus Papua gagal bukan sebuah ide, pembenaran dan penipuan, melainkan kenyataan, situasi real. Bahwa otsus itu racun yang menghabiskan rakyat Papua.

Kesimpulan OAP tentang Otsus: Racun

Nama Otsus itu terdengar indah, menarik, namun tersirat duka, kebohongan dan kejahatan. Otsus itu sebuah kejahatan Negara. Otsus itu cara Negara untuk menghabiskan orang Papua. jadi otsus itu racun.
Kejahatan lewat Otsus tidak terlihat karena memang tak berdarah dan tak terdengar karena tak berbunyi. Dana otsus pun tidak dirasakan oleh orang Papua sepanjang 19 tahun. Semua undang-undang yang dibuat pun satu pun tidak diberlakukan. Apa yang “tertulis” di kertas lain, dan “praktek” juga lain. Orang Papua hanya makan hati, tertipu dan dibodohi oleh Negara.

Otsus jilid II yang sedang dirancang Negara saat ini pun dalam nada yang sama. Untuk Negara menjadi nada “kebahagiaan, pujian, kemerdekaan dan kemenangan” karena dapat menipu rakyat Papua, sedangkan pihak rakyat papua menjadi nada “perkabungan, kedukaan, isak-tangis, jeritan” karena pembodohan, kematian dan kemusnahan. Karena itu, otsus sampai jilid ke berapa pun Papua tetap menolak. Papuan tidak butuh bantuan, bangunan dan apa pun bentuk dari Jakarta. Papua hanya minta merdeka.

Memperjuangkan “Harga Hidup”: Merdeka

Bagi rakyat Papua merdeka adalah pilihan pertama, terbaik dan paling utama. Otsus apa pun jilid dan bentuknya, bukan keinginan rakyat Papua. Harga hidup bagi rakyat Papua hanya “merdeka”.

Jakarta jangan membodohi rakyat Papua. Jakarta juga jangan memaksa kehendak Merdeka rakyat Papua dengan gula-gula politik Otsus yang pada akhirnya bukan demi menyelamatkan manusia, melainkan membunuh manusia. Rakyat Papua pun ingin merdeka seperti Indonesia. Bangsa Papua mau duduk setara di kanca dunia, sebagai sesama bangsa yang berdaulat.

Karena Indonesia tidak mau memberikan hak penentuan nasib sendiri (referendum) bagi rakyat Papua, maka tinggal satu di benak rakyat Papua, ialah merdeka. Papua pasti merdeka, bukan karena perjuangan rakyat Papua, namun karena sifat Negara Indonesia yang diskriminatif, represif, militeristik, yang membuat rakyat Papua ya atau tidak. Mau atau tidak mau harus membentuk sebuah Negara yang terpisah dari Indonesia. Indonesia memberikan racun terhadap rakyat Papua, karena itu, Indonesia sendiri yang memerdekakan bangsa Papua supaya rakyat Papua tidak musnah.

*] Penulis adalah pemerhati sosial-politik Papua

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares