Otsus jilid II diberlakukan artinya Papua Merdeka!

  • Bagikan

 

Oleh: Marius Goo

Undang-Undang Otsus Papua tahun 2001 telah mengantar Papua pada gerbang kemerdekaan bangsanya. Sadar atau tidak, suka atau tidak suka Otsus tahun 20 tahun yang telah berlalu, atau di era Otsus pemerintah telah gagal total mengindonesiakan Papua, bahkan makin memperkuat dan memperdalam nasionalisme bagi rakyat Papua. Alasan mendasarnya ialah Undang-undang Otsus tidak diberlakukan secara tepat, bahkan berkebalikan. Kata lainnya, “tulis lain buat lain”. Berdasarkan pengalaman 20 tahun yang lalu, kalau pun otsus jilid II diberlakukan, tetap berindikasi Papua merdeka. Mengapa dikatakan demikian? Ada apa dengan Otsus berjilid-jilid?

Otsus 2001 versus Papua Merdeka

Undang-undang nomor 21 tahun 2001 dikatakan tidak berlaku, gagal dan mati dari kubu rakyat Papua yang adalah tujuan, sasaran dari otsus itu. Sementara dari pemerintah pusat mengatakan berhasil. Papua melihatnya dari realitas, sedangkan pemerintah Pusat melihat dari politik dan idealitas.

Mengapa rakyat Papua mengatakan Otsus gagal total:

Pertama, masih menjamur kesenjangan sosial. Antara propinsi Papua dan lain tidak merata (adil) dalam pembangunan. Rakyat Papua menjadi korban atas nama pembangunan. Pembangunan di Papua terlaksana sebatas kata-kata, tulisan dan bukan praktek. Realitas amat berbeda dari tulisan dan omongan pemerintah pusat. Bukti-bukti telah disampaikan oleh 57 Pastor Pribumi Papua dan bapak Natalis Pigai yang bergulat dalam Konas HAM RI.
Kedua, dalam tampuk pemerintahan: baik legislatif, eksekutif maupun yudikatif dikuasai oleh orang orang pendatang (antek-antek NKRI). Tidak terlaksana penuh keistimewaan otsus. Otsus dirasakan bukan orang asli Papua, melainkan orang pendatang (orang Indonesia) di Papua. Misalnya, sekda Propinsi Papua, wakil Wali Kota Jayapura, Wakil Bupati Mimika, beberapa DPRD Mimika, beberapa DPRP, beberapa DPR Nabire, beberapa DPR Merauke, dan lainnya.
Ketiga, penerimaan PNS, bukan (80%:20%), melainkan hampir (50%:50%). Terlihat orang Papua disingkirkan secara tersistematis dan sedang menjadi penonton di tanah sendiri.
Terbuktinya kegagalan otsus ini makin meningkatkan nasionalisme di kubu rakyat Papua. Rakyat merasa ditipu dan memilih jalan merdeka. Bahkan otsus diambilnya sebagai jalan tempuh memasuki gerbang kemerdekaan.

Otsus Jilid II versus Papua Merdeka

Otsus Jilid II bagi rakyat Papua pengakuan kemerdekaan Papua. Sekali lagi, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, otsus jilid II adalah sebuah kemerdekaan Papua: bukan merdeka dalam Indonesia, melainkan merdeka sebagai sebuah bangsa berdaulat, terpisah dari NKRI.

Negara merasa bahwa memberlakukan otsus berjilid-jilid untuk meredam niat rakyat Papua untuk merdeka. Namun, negara juga gagal melihat dengan otsus berjilid-jilid itu telah membuat Papua terpisah dari NKRI.

Yang jelas, atas nama Otsus (apa pun jilid dan bentuknya) Papua tetap merdeka. Otsus dilakukan hanya merugikan negara. Sebab keinginan merdeka di tubuh rakyat Papua makin kuat dan dalam. Tak dapat dibendung dan dihentikan dengan apa pun dan bagimana pun.

Bahkan otsus yang adalah bargaining tertinggi tertinggi kemerdekaan Papua, bukan lain “bargaining” melainkan kemerdekaan Papua itu sendiri. Otsus itu untuk kemerdekaan Papua. Ketika otsus jilid II diberlakukan, saat itu pula bendera pusaka bangsa Papua akan berkibar. Sebab otsus jilid II sama artinya dengan meminta Papua merdeka secara otomatis. Jika tidak, sebagaimana kebanyakan rakyat Papua menyerukan referendum, pemerintah pusat segera gelar referendum.

Gelar Referendum Sebelum Terlambat
Sebagaimana para pastor menyerukan bersama seluruh rakyat Papua untuk gelar referendum, mumpung selagi ada waktu segera gelar referendum, daripada terlambat dan menyesal. Bagi rakyat Papua, merdeka adalah agenda tunggal. Yang ada di hati rakyat Papua adalah ingin merdeka, karena itu supaya pemerintah pusat meredam isu itu, segera gelar referendum, sebab kalau tidak Papua sudah merdeka.

Otsus jilid II bukan meredam isu Papua merdeka, melainkan mewujudkan impian rakyat Papua untuk merdeka. Yang meredam isu Papua merdeka adalah referendum. Segera gelar referendum.

*] Penulis adalah alumni STFT “Fajar Timur” Jayapura

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *