Otsus di Papua, Jakarta yang pegang kendali

  • Bagikan

Oleh: Doulos Alear Yoman

PEMBERLAKUAN Undang-undang Otonomi Khusus [Otsus] bagi Papua hanyalah opini publik belaka. Sebab pada kenyataannya selama 18 tahun Otsus berjalan di Papua, ternyata Pemerintah Pusat atau Jakarta hanya berikan uang, sedangkan hal-hal prinsip lain yang dianggap mendasar tidak diberikan.

Sejumlah besar Perdasus dan Perdasi yang dibuat dan diajukan oleh Gubernur Papua ditolak oleh Jakarta. Jakarta, berpandangan bahwa orang asli Papua atau OAP cukup kasih uang saja, dan akan diam. Jadi, anggaran Rp 94.74 Triliun yang disebutkan oleh Jokowi adalah uang tutup mulut selama 18 tahun ini.

Pandangan ini memposisikan OAP sebagai manusia rendahan atau tak bernilai apa-apa. Kondisi objektif OAP selalu Jakarta pakai untuk mendatangkan uang dari kelompok negara yang mendukung Resolusi PBB 2504. Resolusi pembangunan inilah yang membuat Jakarta terus berusaha menekan sumber daya manusia OAP agar tidak berkembang, tapi SDM OAP persis seperti sombi atau robot yang hanya bisa beraktivitas apabila digerakkan. Secara jumlah, banyak sekolah dibuka di Papua baik swasta maupun negeri, namun tidak berkualitas. Sehingga menghasilkan lulusan yang tidak berkualitas pula, akibatnya tak terpakai. Hal ini sengaja diciptakan agar kesan yang muncul adalah Indonesia sudah berusaha keras bangun SDM Papua tapi OAP sendiri yang tdk bisa berkembang, sehingga butuh SDM dr luar Papua datang bangun tanah Papua.

Rp 94 trilyunan yang disebutkan oleh Jokowi itu hanya bunyi saja yang besar, tapi sesungguhnya uang itu hanya singgah sebentar saja di Papua dan telah dibawa kembali oleh masyarakat nusantara yang telah dikirim Pemerintah Pusat melalui kapal laut maupun pesawat udara ke tanah Papua.

Pada hal, tanah Papua ini wilayah Otonomi khusus, tapi manusia dari luar seenaknya masuk wilayah itonomi khusus datang kuasai ekonomi, pendidikan, kesehatan, tanah adat, dan nama adat. Penambahan militer meningkatkan dari waktu ke waktu. Ketika OAP merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka, justru OAP dibantai. Sesungguhnya otonomi khusus Papua bukannya membawa kebaikan tapi justru membawa malapetaka bagi OAP.
Pemberlakuan otonomi khusus Papua ini hanyalah untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan di luar tanah Papua.

Rakyat bangsa Papua Barat harus sadar bahwa kita hanya diperlakukan sebagai sapi perah. Rakyat bangsa Papua Barat jangan takut dan tunduk ketika mereka yang berpakaian loreng dan pakaian coklat datang menghampiri mu. Ingat, nenek moyang kita dahulu adalah mambri yang melindungi segenap bangsa dan tanah Papua barat dengan sekuat tenaga untuk menghalau kaum penjajah menaklukkan negeri ini.

Kita harus percaya bahwa kita adalah bangsa yang cerdas yang mampu membangun diri sendiri dengan nilai nilai moral yang baik. Kita mampu membuat keputusan untuk masa depan bangsa Papua Barat sendiri tanpa Indonesia.

*] Penulis adalah pemuda Gereja Baptis Papua, tinggal di Port Numbay

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *