PHP Dev Cloud Hosting

Terbukti, Otsus Papua telah Gagal!

  • Bagikan

Oleh: Marius Goo

PADA beberapa hari yang lalu, bapak Natalis Pigai (Anggota Komnas HAM RI 2012-2017) telah memaparkan bukti-bukti yang “valid” berkaitan dengan kegagalan Otsus. Tentang pro-kotra: di mana Jakarta mengklaim telah sukses, sedangkan Papua mengatakan gagal. Bapak Natalis lebih memilih mengatakan Otsus gagal dengan memberikan bukti-bukti yang tak terbantahkan.

Diantaranya: perbandingan dana otsus dan kontribusi Papua ke Pusat, perbandingan jumlah orang miskin di Papua tahun 2001-2019, kemiskinan orang Papua yang bertambah setiap tahun, Papua tingkat inflasi dan biaya hidup yang tinggi di Indonesia, HIV/AIDS yang tidak ditangani secara serius, Indek Pembangunan Manusia (IPM) paling rendah, Partisispasi pendidikan paling terrendah, angka kematian lebih tinggi dibanding kelahiran, dan lain-lain. Dari bukti-bukti yang disampaikan bapak Natalis Pigai, juga yang belum disampaikan dan telah dan sedang dialami dalam aneka sejarah derita rakyat Papua, dapat dikatakan, “otsus Papua telah gagal”.

Terbukti: Otsus Papua telah Gagal

Orang Indonesia sendiri mengartikan bahwa bukti itu, “sesuatu yang mengatakan kebenaran suatu peristiwa; keterangan yang nyata, suatu tanda nyata”. Dengan demikian, terbukti berarti, “terlihat sesuatu itu benar, nyata dan tak dapat diragukan”. Bahwa benar Otsus itu telah gagal, tak diragukan, taka dapat diklaim lagi. Artinya, Indonesia tidak bisa mengklaim bahwa Otsus telah berhasil. Ada beberapa indikasi klaim Indonesia bahwa Otsus berhasil:

Pertama, indikasi politik: diklaim Otsus telah berhasil oleh Jakarta bernada politis. Jakarta mengklaim demikian karena Papua tetap ada dalam Indonesia. Negara mempolitisir kenyataan kegagalan demi mempertahankan Papua tetap dalam Indonesia, walaupun Otsus telah gagal.

Kedua, Indikasi Ekonomi: Jakarta mengklaim Otsus berhasil karena Papua menjadi lahan bisnis (pertumbuhan ekonomi) yang subur bagi Indonesia. Jakarta lebih memilih kekayaan alam (seperti kata pastor Nelles Tebay: demi Emas, masnya dikorbankan) daripada manusia. Demi ekonomi, Jakarta mengorbankan orang Papua. Di era Otsus orang Papua dianeksasi, diburu dan dipenjarakan.

Jakarta mengklaim Otsus sukses hanya karena kedua indikasi ini. Semua demi ekonomi dan politik, bukan demi kemanusiaan Papua. Manusia Papua menjadi korban pertarungan politik (ideologi Pancasil) dan Ekonimo (kesejahteraan Indonesia). Otsus diberlakukan agar Papua merasa bagian dari Indonesia (artinya kemerdekaan Papua dipending) dan agar Papua sejahtera (artinya setara Jakarta), namun kenyataannya semua hanyalah gula-gula politik.

Klaim Jakarta bahwa Otsus sukses, namun sejatinya bak “pemberian kotak emas berisi ular bisa”. Artinya, kedengaran (gaung)nya bagus, namun buktinya untuk menjajah rakyat Papua, atau meniadakan kemerdekaan Papua. Saat ini terlihat jelas: bahwa Otsus bukan untuk mensejahterakan atau membangun rakyat Papua, bahkan menindas rakyat Papua. Otsus diberikan untuk menambah luka dan duka bagi rakyat Papua. Karena itu, untuk mengobati dan menyembuhkan luka hati rakyat Papua tidak lain adalah hanya referendum.

Hanya Satu: Referendum

Dari bukti-bukti yang ada, terbukti bahwa “tiada masa depan rakyat Papua dalam Negara Indonesia.” Indonesia tidak mampu menjamin rakyat Papua bagian dari Indonesia dengan indikasi: adanya kesenjangan bidang antara Jakarta dan Papua, adanya korban yang berjatuhan, adanya rasisme, adanya diskriminasi, adanya pelanggaran HAM Papua, dan lain sebagainya.

Karena itu, di akhir Otsus ini, melakukan “referendum” menjadi satu “keharusan: imperatif” agar rakyat Papua merasakan kemanusiaan, dan demokrasi yang bermartabat. Biarkan rakyat Papua menentukan nasib sendiri.

Entah tetap dengan Indonesia atau menjadi Negara sendiri adalah konsekuesi logis dari pilihan dan keputusan yang diambil rakyat Papua berdasarkan nuraninya. Hanya satu yang diminta oleh rakyat Papua: referendum. Jakarta harus berani membuka diri membiarkan rakyat Papua referendum sebelum terlambat.

*] Penulis adalah alumni STFT “FT” Jayapura – Papua

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *