Pimpinan daerah gagal utamakan putra daerah dalam formasi CPNS 2018

 

Jayapura, [WAGADEI] – Para Bupati fan Walikota di Tanah Papua entah Provinsi Papua maupun Papua Barat dianggap telah gagal untuk memprioritaskan putra daerah atau orang asli Papua [OAP] dalam rekrutmen formasi CPNS tahun 2018.

Hal itu dikatakan Sepi Wanimbo, Ketua Departemen Pemuda Gereja Baptis Papua, bahwa sebelum membuka pendaftaran formasi CPNS awal 2018 sikap para pengambil kebijakan pernah sampaikan melalui media bahwa akan dibagi 80 persen untuk anak asli dan 20 persen warga non asli Papua atau pendatang.

“Tetapi sayang sekali, janji hanya bohong karena kenyataan hari ini bahwa hasilnya yang keluar lebih banyak diterima sebagai calon anggota CPNS itu non Papua. Lalu anak asli, putra daerah jadi korban karena tempatnya sudah diisi oleh orang lain,” ujar Sepi Wanimbo kepada wagadei.com, Senin, [4/8/2020].

Sejarah mencatat kata dia, sejak Negara Indonedia merdeka tahun 1945 sampai tahun 2020, OAP tidak pernah mendapat kesempatan untuk kerja di luar Papua dan hampir setiap saat selalu dipersulitkan untuk mendapat kesempatan ikut formasi CPNS seperti di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Bali, Sulawesi, dan sekitar.

“Pertanyaanya, mengapa para pengambil kebijakan selalu memberi ruang seluas-luasnya kepada saudara-saudari dari luar Papua?,” katanya bertanya.

Menurut dia, Pemerintah Pusat telah memberikan Undang-Undang Nomor 21 tahun 3001 tentang Otonomi Khusus [Otsus] bagi Papua. Produk itu menjadi jaminan bagi orang asli Papua harus menjadi tuan di tanahnya sendiri.

“Saya liat dari sekian kabupaten dan kota di seluruh Papua, hanya Kabupaten Paniai di bawah komando Bupati Meki Nawipa. Yang sangat mengerti isi hati rakyat Papua terlebih khusus Paniai. Sehingga dalam rekrutmen CPNS 2018 ini 100 persen diutamakan anak asli. Ini kebijakan yang sangat luar biasa sehingga kami patut memberikan apresiasi kepada beliau dan menjadi teladan yang baik bagi daerah lain di Papua,” ungkapnya.

Dan bagi pencaker yang tidak lolos nama dalam formasi kali ini, ia berharap tak boleh berkecil hati tetapi tetap semangat pasti ada kesempatan lain yang Tuhan sudah siapkan.

“Ilmu pengetahuan, keterampilan, skil, bakat yang sudah dimiliki selama duduk di bangku studi jangan simpan-simpan begitu saja, tetapi coba usahakan membuka lapangan kerja sepertibuka kursus computer, rental ketik, kios, warung makan atau warung kopi, usaha ternak dan lainnya untuk menghidupkan kebutuhan hidup,” katanya ajak. [*]

Reporter: Yas Wenda
Editor: Aweidabii Bazil

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares