Tanaman anggrek dan potensinya yang terlupakan

Oleh: Andrias Gobai, S.Sos, MA

NOKEN anggrek merupakan satu dari sekian banyak tanaman khas asal wilayah adat Meepago, terutama di Kabupaten Dogiyai. Jika berkunjung ke wilayah ini, tidak membawa noken anggrek sebagai buah tangan ibarat tidak ke Meepago. Menggunakan noken anggrek dalam aktivitas sehari-hari telah menjadi kebiasaan atau ciri khas warga Meepago.

Noken dengan bahan baku tanaman anggrek adalah produk yang istimewa. Tak banyak jenis tas yang menggunakan serat anggrek sebagai bahan bakunya.

Oleh karena itu, tanaman anggrek merupakan salah satu komoditi unggulan yang berpotensi menopang perekonomian masyarakat di distrik Mapia Barat dan Distrik Piyaiye, Kabupaten Dogiyai. Sudah saatnya pemerintah daerah mendorong pengembangan perkebunan anggrek, sehingga bahan baku akan selalu tersedia untuk meningkatkan jumlah produksi noken mengingat permintaan pasar yang meningkat.

Saat ini, ada dua jenis pengrajin noken diantaranya para pengrajin yang mengambil tanaman anggrek dengan cuma-cuma di hutan dan pengrajin yang mengambil bahan baku dari kebun anggrek yang dibudidayakan oleh warga setempat.

Terkait kebun anggrek, jika kita berkunjung ke wilayah adat Meepago, budidaya anggrek dapat dijumpai di halaman gereja atau pekarangan rumah warga. Ada pula jenis anggrek hutan yang tumbuh di alam liar, jika anggrek jenis ini diambil untuk dijadikan bahan baku noken, tentu menjadi produk yang sangat istimewa dengan harga jual yang mahal, sebanding dengan tingkat kesulitan pembuatan.

Serat tanaman anggrek menjadikan noken memiliki kualitas yang bagus. Noken anggrek adalah primadona di kelasnya. Anggrek berwarna kuning dan hitam manis, dibuat dan dililit sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah noken yang cantik. Noken dengan bahan baku yang cukup langka ini berasal dari Distrik Mapia Barat dan Distrik Piyaiye, Kabupaten Dogiyai.

Sebuah harapan terselip di hati saya, ketika menyusuri perkampungan di Kabupaten Dogiyai. Saya berharap pemerintah daerah melirik potensi ini untuk dikembangankan. Menurut saya kedepan perlu dilakukan budidaya tanaman anggrek hitam manis dan anggrek kuning.

Pemerintah perlu mendorong dan membekali pengrajin noken anggrek sejak usia dini. Berikan pula pendampingan ataupun penguatan agar pekarangan-pekarangan rumah warga dipenuhi dengan tanaman anggrek. Jika perlu, buka lahan atau kembangkan lahan perkebunan anggrek, jadikan komoditi unggulan Kabupaten Dogiyai.

Jadikan budidaya anggrek sebagai pelung bisnis yang menjanjikan. Disadari atau tidak, tanaman anggrek sangat dekat dengan kehidupan masyarakat asli Meepago. Orang Papua kemanapun melangkah selalu mengenakan noken. Banyak Anak Papua yang sedang menduduki posisi penting dan berhasil menjadi pejabat saat ini, karena perjuangan mama – mama Papua yang mendidik dan menyekolahkan mereka hingga jenjang perguruan tinggi dari hasil berjualan noken.

Noken bukan hanya secara sosio-kultural dekat dengan kehidupan orang Meepago, bahan baku noken yakni tanaman anggrek pun layak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah. Anggrek memiliki kelas tersendiri bahkan hingga tingkat nasional dan internasional. Kenapa tidak kita mulai melirik anggrek untuk dibudidayakan, dijadikan simbol sekaligus komoditi.

*] Penulis adalah pecinta anggrek dan tokoh pemuda Meepago asal Dogiyai

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares