Pengedar miras di Dogiyai belum tobat, DAM geram!

Dogiyai, [WAGADEI] – Dewan Adat Mee [DAM] Kabupaten Dogiyai geram bahkan mengutuk keras kepada oknum yang sedang edarkan minuman keras [miras], sebab itu merupakan wujud dari menghancurkan generasi penerus suku bangsa Mee yang ada di Kabupaten Dogiyai.

“Kami sudah tahu orang yang menghancurkan kami orang asli Dogiyai dan Papua. Tidak ada lain, hanya melalui miras. Maka selama inipun orang yang sedang kerja keras itu kami mengutuk keras kepada mereka yang sedang kerja keras mengedarkan miras di kabupaten ini, mereka ini bahaya betul,” ujar Sekretaris DAM Kabupaten Dogiyai, Alexander Pakage kepada wagadei.com akhir pekan kemarin.

Pakage bilang bahaya karena kabupaten tersebut Bupati Yakobus Dumupa telah membuat peraturan daerah atau Perda tentang pelarangan, peredaran dan konsumsi minuman yang memabukkan hingga mematikan itu dan DPRD telah mengesahkannya.

“Namun terbukti sampai hari ini mereka masih kerja keras lawan aturan ini. Kalian pihak yang kerja keras menyedarkan miras ini tidak tahu malu, ini kalian lawan Bupati dan DPR Daerah ini. Kalian pikir mereka ini anak-anak kecil yang buat perdakah?,” katanya tegas.

Ia menyebutkan, baru-baru ini TNI Angkatan Udara yang bertugas di Bandara Mowanemani terbukti menjual miras kepada sejumlah pemuda di daerah itu. “Setelah kedapatan, kami lakukan pertemuan untuk membahas mengenai penjualan miras itu,” ucapnya.

“Lalu sudah bikin surat pernyataan. Nah tapi sekarang apa yang terjadi? Hmm, malah lebih meningkat jual lagi. Tapi apakah TNI AU masih jual atau berhenti kami tidak tahu. Kalau oknum lain kami sudah kantongi identitas,” ungkapnya.

Setelah ada ketahuan oknum yang menjual miras itu, lanjut dia kini ada kedok baru yang orang buat yakni oknum tersebut menitip jualan kepada orang asli Papua atau warga pribumi dan hasilnya dibagi dua.

“Dengan kedok ini para konsumen juga dapat gampang dan para penjual juga ada keuntungan karena hasilnya dibagi,” katanya.

Ia bertanya, jika oknum-oknum itu tidak hargai perwakilan pemerintah NKRI di daerah ini, maka kepada siapakah hendak tunduk kepala?

“Kami masyarakat Dogiyai, kami takut lawan pemimpin kami, kami takut karena mereka ini pemimpin kami dan kami yang memilih mereka untuk memimpin daerah ini,” katanya.

Pihaknya bersama lembaga agama setempat, kata dia, juga sudah beberapa kali menegur, baik secara tertutup maupun secara terang-terangan. “Kami mengutuk ketika ada beberapa kali korban secara massal karena mengkonsumsi miras jenis oplosan di Dogiyai,” ucapnya.

“Yaitu di Mauwa ada sekitar 6 Orang, di Distrik Dogiyai ada empat orang, di Distrik Kamuu Utara sekitar lima orang, di Kamuu Timur sekitar empat orang, di Distrik Mapia sekitar tiga orang dan lain yang meningal satu atau dua orang itu ada banyak kali di berbagai tempat,” tuturnya.

Ketua I Dewan Adat Mee Kabupaten Dogiyai Yulianus Agapa mengungkapkan, selama ini pihaknya kerja keras mengontrol dan memantau, oknum yang menjalankan aksi menjual miras di Kamuu dan Mapia.

“Dan setelah ada temuan oleh masyarakat, kami dewan adat dan beberapa anggota DPRD menegur bersama dari Polsek Kamuu. Namun masih belum bertobat. Ini bahaya, mereka ini sama sekali tidak bisa bertobat, setelah dibikin malukan mereka yang jaringan penjual itu mulai dengan cara lain yakni titip jual minuman lewat orang Papua,” kata Agapa.

Pihaknya mendesak kepada eksekutif dan legislatif untuk membentuk satgas pengawas perda pelarangan miras dan pengontrol penyakit sosial lainnya. “Satgas bisa di ambil dari pihak pemerintah, DPR, dewan adat dan agama serta pemuda dan perempuan,” ucapnya.

“Kalau untuk satgas ini tidak perlu libatkan K
aparat leamanan karena kami curigai mereka ini penyedar miras dan juga bandar penyakit sosial lainnya,” ujarnya. [*]

Reporter: Musa Boma
Editor: Uka Daida

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares