Referendum: Agenda tunggal rakyat Papua

Oleh: Marius Goo

NEGARA Indonesia adalah Negara demokrasi. Negara yang mengedepankan kebebasan dalam memilih dan dipilih. Di akhir Otsus ini, rakyat Papua menguji sejauh mana demokrasi itu dijalankan. Terlebih melalui permintaannya untuk “referendum”. Referendum bagi rakyat Papua adalah demokrasi tertinggi Negara Indonesia. Rakyat Papua menguji Negara Indonesia untuk secara praktis dan radikal menjalankan demokrasi sebagai jati diri bangsa. Bagi rakyat Papua, di akhir masa pemberlakukan Otsus, selama 20 tahun ini, hanya mempunyai satu agenda tunggal, ialah referendum. Otsus jilid II tidak ada di dalam hati dan pikiran orang Papua. Sebab, Otsus telah gagal dan yang masih tertinggal hanyalah referendum.

Referendum Papua

Referendum bagi rakyat Papua adalah satu agenda yang sudah semstinya terlaksana 20 tahun lalu. Karena referendum tidak dilaksanakan, maka diganti dengan Otsus. Otsus diberlakukan pun bukan keinginan rakyat Papua, namun hanya sebuah paksaan kehendak. Negara memaksa kehendak rakyat asli Papua. Sebenarnya rakyat Papua menginginkan referendum (merdeka), namun untuk membunuh, mengiadakan dan menggantikan keinginan merdeka itu, diberikan Otsus dengan keputusan sepihak dari Jakarta.

Rakyat Papua mengetahui secara persis bahwa Pemerintah Pusat (Jakarta) telah menipu rakyat Papua. Rakyat Papua menilai, Otsus diberlakukan untuk membunuh dan memusnahkan rakyat asli Papua. Harkat dan martabat rakyat asli Papua tergadaikan dengan Otsus. Otsus hanya menambah luka dan duka bagi rakyat Papua. Pemberlakuan Otsus tidak lain adalah menjajah rakyat Papua. Atas nama Otsus (pembangunan), nyawa rakyat Papua menjadi taruhan. Karena itu rakyat Papua sudah tidak percaya Jakarta.

Negara mau memaksakan dengan cara apa pun, rakyat Papua sudah tidak simpatik dengan Negara Indonesia. Bagi rakyat Papua, Indonesia adalah penjajah. Keberadaan Papua dalam Indonesia bukan sebagai warga Negara, melainkan budak (monyet) yang selalu dibodohi, dibohongi, diburu, dipenjarakan dan dibunuh.

Dengan dasar ketidakpercayaan rakyat Papua untuk Jakarta, apalagi Otsus Papua yang hingga kini terlihat gagal total, rakyat Papua hanya meminta untuk segera gelar referendum. Menggelar referendum hanya satu-satunya agenda Papua yang diminta dari rakyat Papua.

Referendum Agenda Tunggal

Rakyat Papua sudah tidak punya hati untuk Indonesia. Rakyat Papua sudah tidak mau berada dalam Negara Indonesia yang “penuh rasis”. Dampak rasis telihat dalam pemberlakuan Otsus secara paksa, bahkan memasukan Papua Barat secara paksa ke dalam Indonesia melalui PEPERA tahun 1969.

Otsus tidak membuat Papua bagian dari Indonesia. Bahkan, Otsus sendiri telah memisahkan rakyat Papua dari Indonesia. Apa pun istilah yang dirumuskan oleh Jakarta untuk Papua, semuanya berujung ‘genosida” bagi rakyat Papua. Karena itu, yang masih tersisa, juga satu-satunya agenda untuk rakyat Papua adalah referendum.

Rakyat Papua hanya meminta referendum. Referendum satu-satuny agenda untuk rakyat Papua. Berikan kesempatan untuk rakyat Papua memilih sendiri antara: tinggal dengan Indonesia atau membentuk Negara Papua sendiri, secara bebas, terbuka dan damai. Jika hasilnya: tinggal dengan Indonesia, atau pun Papua merdeka dunia tidak akan kiamat. Sebagaimana para Pastor Pribumi Papua menyerukan referendum bagi rakyat Papua, demikian juga dalam hati dan otak rakyat Papua yang ada hanya referendum. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, Jakarta harus berani memberikan kesempatan untuk Papua melakukan referendum bagi rakyat asli Papua.

*] Penulis adalah alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “FT” Jayapura – Papua

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares