Dilema antara pilih Referendum Papua atau jabatan empuk dari Jakarta

 

Oleh: Marius Goo

ELIT Papua artinya orang asli Papua yang sedang mengemban tugas dalam pemerintahan Indonesia, baik eksekutif, yudikatif maupun legislatif. Para elit Papua di satu sisi sebagai manusia Papua: manusia berdarah Papua dan di sisi lain sedang menjalankan roda pemerintahan Indonesia. Elit politik adalah mereka yang berada “di antara”. Satu kaki di Negara Indonesia sedangkan kaki lainnya di rakyat Papua. Di samping menjalankan tugas kenegaraan, terbebani pula dengan keterwakilan dirinya sebagai orang asli Papua: ada untuk rakyat Papua. Apakah meloloskan keinginan pemerintah pusat, atau keinginan rakyat Papua? Pertanyaan ini berada di pundak. Meloloskan keinginan negara berarti “menghianati” rakyat Papua, sebaliknya meloloskan keinginan rakyat berarti merasa tidak bertanggung jawab atas tugas kenegaraan. Mana yang terbaik? Di sini kemanusiaan Papua diuji.

Memilih Referendum

Elit Papua yang memilih Referendum Papua merasa bahwa dirinya datang dari rahim Papua, ada untuk rasnya sendiri. Pertimbangannya, hidup bernegara untuk orang Papua tidak selama menjadi orang Papua. Manusia Papua hidup tanpa negara sejak manusia Papua itu ada, ketimbang menjadi warga negara. Manusia Papua menjadi warga negara Indonesia 50-an tahun yang lalu melalui PEPERA, yang oleh rakyat Papua sendiri menilai cacat hukum dan moral, sedangkan hidup sebagai manusia Papua “kulit hitam dan rambut keriting”, rumpun Melanesia sejak awal mula manusia Papua itu menjejaki dan memulai hidup.

Kaum elit Papua sungguh merasa dan menyadari bahwa sesama rakyat Papua adalah tulang dan dagingnya sendiri, seras dan sebangsa. Karena itu, memihak dan berpihak pada “jati diri”, identitas kepapuaan menjadi pilihan utama daripada memilih negara hanya demi jabatan.

Mereka yang memilih kemerdekaan Papua mempunyai mimpi yang panjang tentang kehidupan masa mendatang. Mereka berpikir tentang anak cucu, tentang manusia Papua pada jutaan tahun mendatang, bahkan sampai Tuhan datang (jika memang Tuhan itu datang).

Memilih merdeka, tidak hanya berpihak pada saudaranya: manusia Papua, melainkan juga merawat ibu pertiwi, tanah persada, pusaka Papua. Ialah memilih agar tanah dan hutan, segala kekayaan yang ada di atas tanah Papua tidak beralih ke tangan ras lain. Tanah dan segala yang ada di dalamnya dipergunakan sepenuhnya untuk rakyat Papua.

Memilih jabatan empuk Jakarta

Para elit Papua yang memilih jabatan empuk, artinya tidak memilih Papua Merdeka adalah mereka yang merasa bertanggung jawab atas tugas. Setia pada tugas dan tanggung jawab.

Para elit yang tidak memilih untuk Papua merdeka terbagi atas dua:

Pertama, tidak memilih merdeka demi tugas: kaum netral. Mereka yang netral ini hanya berfokus pada tugas. Bagi mereka merdeka atau tidak merdeka bukan urusan. Yang penting diam, kerja tugas dan tuntas. Mereka ragu jika memilih merdeka, menyuarakan kemerdekaan Papua jabatan hilang. Mereka juga takut kalau membela negara Indonesia, rakyat Papua memikirkan lain, bahkan menyingkirkan mereka.

Kedua, para Elit Papua yang secara terang-terangan menolak Papua Merdeka demi jabatan empuk. Karena mereka mendapat jabatan empuk, entah eksekutif, yudikatif entah legislatif. Mereka takut, jangan-jangan setelah Papua Merdeka tidak hidup nyaman, berkelimpahan seperti yang kini dirasakan dalam pemerintahan Indonesia.

Yang jelas bahwa para elit yang tidak memilih Papua merdeka demi jabatan empuk adalah mereka yang hanya memikirkan hidupnya sendiri: perut dan dompetnya sendiri, bukan anak cucu Papua pada jutaan tahun mendatang, bahkan hingga Tuhan datang (jika menang Tuhan itu akan datang).
Para elit ini memilih negara dan sekaligus mengorbankan manusianya sendiri.

Matadan hati mereka tertutup untuk melihat dan merasakan isak tangis, penderitaan sesama Papua karena ditutul dengan jabatan dan uang.

Memilih itu soal kebebasan. Setiap orang secara bebas memilih sesuai kehendaknya. Namun terkutuklah orang yang memilih jabatan dan uang, untuk mengorbankan manusia lain. Terkutuklah orang yang atas nama rakyat, meraup keuntungan, sedangkan rakyat sendiri kehilangan segala-galanya.

*] Penulis adalah alumni STFTT “FT” Jayapura – Papua

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares