Imam Katolik Papua minta Referendum, umat mendukung seratus persen

Oleh: Marius Goo

GEREJA Katolik artinya Gereja Universal. Gereja Katolik berpihak pada kebaikan, kebenaran dan kehidupan, di mana Yesus sendiri sebagai jalan, kebenaran dan kehidupan. Iman Gereja, oleh para Teologi mengajarkan, mereka (siapa pun) yang berbuat baik, berkata baik dan memikirkan yang baik adalah Kristen anonim. Mereka adalah pengikut Yesus, namun dengan cara mereka sendiri, walaupun tidak disadari dan diyakini. Imam adalah pengikuti Yesus radikal. Mereka mengejahwantahkan Yesus di dunia.

Karena itu, secara tradisional, apa pun yang diajarkan oleh Gereja (pemimpin Gereja), ya atau tidak, suka atau tidak, wajib ditaati, diikuti dan didukung. Umat menyakini bahwa para Gerembala akan membawa umat pada kehidupan, keselamatan, bukan pada kehancuran, dosa dan kematian. Permintaan referendum dari 57 imam Pribumi dengan alasan-alasan logis yang disampaikan tentang kegagalan otsus, umat mendukung penuh. Apa yang disampaikan 57 imam pribumi adalah harapan dan kerinduan dari umat Tuhan di atas tanah Papua.

Tradisi Gereja Katolik

Iman Gereja Katolik Universal berlandaskan pada Tradisi Gereja, Magisterium Gereja dan Kitab Suci. Gereja Katolik bersifat: Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Kesatuan Katolik bahwa Gereja Katolik tidak membeda-bedakan manusia, siapa pun, semua adalah satu: yakni milik Tuhan. Semua manusia satu dalam Allah Tritunggal. Gereja Katolik juga dikatakan kudus, karena Gereja milik Allah Yang Kudus. Juga Gereja ada untuk menguduskan dunia. Gereja Katolik ditakan Katolik artinya Gereja Katolik itu universal: terbuka untuk umum, siapa pun bisa datang, bisa bernaung dan tidak menolak. Gereja milik Allah, Raja Semesta Alam. Sedangkan Apostolik artinya Gereja itu adalah dalam pertalian, keterhubungan dan keberlanjutan dalam kerasulan. Bahwa Gereja Katolik itu kuat dengan pengajaran para rasul, sebagai saksi berkelanjutan, turun-temurun, tidak putus dan masih berlanjut. Dalam usaha “apostolik” inilah, para rasul Kristus (57 imam Pribumi) melanjutkan misi kemanusiaan, sekaligus demi “menciptakan” Kerjaan Allah.
Secara tradisi: Gereja Katolik percaya dengan pewartaan para rasul setelah Yesus bangkit. Gereja Katolik dalam terpaan aneka tantangan bertahan kuat karena tradisi yang kuat. Di mana secara turun-temurun, dari generasi ke generasi mempercayai yang namanya pemimpin Gereja dari konteks: kerasulan dan kenabian. Perkataan pemimpin Gereja adalah perkataan “utusan Allah”.

Pemimpin Gereja melanjutkan suara Allah. Pemimpin Gereja, mulai dari imam hingga Paus di Roma berbicara dan bertindak atas nama Gereja dan demi mewujudkan Kerajaan Allah.
Gereja tidak bisa tinggal diam dengan aneka konflik atau situasi sosial yang membelenggu kehidupan manusia. Umat manusia sendiri adalah Gereja. Gereja bersuara atas nama kehidupan dan demi keselamatan umat Allah. Gereja mewartakan kebenaran Injil dan Kerajaan Allah. Gereja menolak yang namanya pembunuhan, pemerkosaan, tindakan dosa dan penyesatan. Gereja mengumandangkan relasi cinta, pengorbanan dan penebusan Kristus.

Iman para rasul (tradisi Gereja) terus berjuang mempertahankan iman Kristen sejati. Iman itu dilanjutkan kepada segala bangsa, dan tiba di Papua. Demi Injil (iman), di antara putera Papua beberapa orang dipilih Allah (menjadi imam) untuk mewartakan Injil kebenaran dan pembebasan. Mereka yang telah menjadi imam Papua (57 imam) bersuara untuk umat yang mengalami aneka konflik. Para pastor Papua menilai otsus gagal dengan mempelajari tanggapan-tanggapan umat, baik pribadi-pribadi maupun kelompok Ormas dan lembaga-lembaga swadaya. Karena Otsus gagal, makan para imam bersuara lebih lantang untuk menyarakan “referendum” di Papua.

Imam minta Referendum Papua

Imam Papua meminta pemerintah Jakarta menyetujui perminataan semua orang Papua untuk Referendum di Papua. Di akhir masa pemberlakuan Otsus (sebagaimana penawaran 20 tahun: dari 2001-2020), karena pemerintah gagal maka otsus harus dilakukan: suka atau pun tidak suka. Tidak ada istilah bahwa otsus tahun 2001 hingga 2020 adalah Otsus Jilid I, karena hanya dua tawaran saat itu, yakni Otonomi atau Merdeka. Karena Jakarta secara paksa menjalankan Otsus, maka Merdeka “dipending”.

Sepanjang 20 tahun Otsus diberlakukan. Namun, terlihat jelas bahwa tindakan di lapangan amat bertentangan dengan peraturan (undang-undang) yang dituliskan. Di akhir masa pemberlakukan undang-undang Otsus, semua orang Papua merasa ditipu, dibohongi dan dipermainkan oleh Jakarta. Alasan-alasan sebagaimana disampaikan saat jumpa pers tanggal 21 Juli 2020 oleh 57 imam pribumi Papua. Rakyat Papua sudah tidak percaya Jakarta. Karena itu, para imam meminta Jakarta untuk jangan memaksakan Papua. Menggelar referendum adalah cara yang terbaik agar rakyat Papua sendiri menentukan pilihan: bertahan dengan Indonesia atau mendirikan negara sendiri.

Umat Papua mendukung 100 persen

Karena Gereja Katolik percaya juga pada “tradisi”, menjunjung tinggi pemimpin Gereja sebagai wakil Allah (imam atau nabi), maka umat Papua mendukung penuh permintaan mereka tentang “referendum”. Umat asli Papua mendukung penuh 57 imam pribumi yang meminta “jajak pendapat”. Bagi umat, suara imam adalah suara nabi, wakil Allah.

Umat percaya bahwa para imam tidak pernah “bermimpi buruk” untuk umatnya. Para imam mewartakan kebenaran dan kehidupan. Siapa pun imam bersuara untuk kehidupan. Mereka menginginkan kedamaian dan kebebasan. Imam itu mengantar umat kepada kehidupan. Karena itu, suara para imam bagi umatnya di Papua: “menolak Otsus jilid II dan meminta referendum” sejalan dengan harapan orang Papua. Umat Allah di Papua mengikuti secara penuh seruan para imam pribumi Papua. Entah ke mana umat Papua dibawa, umat Papua dengan sepenuh hati menggabungkan diri bersama para pastornya. Bersama para pastor pribumi, umat (rakyat) Papua hanya meminta referendum.

*] Penulis adalah alumnus STFT “FT” Jayapura – Papua

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares