PAULO FREIRE: Filsuf Pendidikan Kontemporer yang wajib diperkenalkan di Papua

  • Bagikan

Oleh: Marius Goo

MANUSIA Papua wajib tahu tentang pendidikan dan cara menerapkan pendidikan. Bangsa Indonesia dalam kamusnya mengatakan, pendidikan adalah “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.” Pendidikan dikatakan sebagai proses, cara dan perbuatan mendidik. Manusia Papua sendiri wajib merumuskan arti pendidikan dalam konteks “kepapuaan”. Hanya dengan memahami pendidikan secara mendasar, mepraktekkan secara kontinu dan semua manusia menjadi pendidik, pendidikan Papua akan menuai hasil yang maksimal. Dalam usaha memahami pendidikan pada eksistensinya, terlebih dalam pendidikan kontemporer (konstruktif, kritis dan revolutif), pendidikan menurut Paulo Freire terkesan konteks Papua.
Paulo Freire
Paulo Regrus Freire lebih dikenal dunia dewasa ini dengan sebutan Paulo Freire. Anak dari Joacqim Freire dan Edeltrudes Neves Freire. Dilahirkan 19 September 1921 di Recife, sebuah kota pelabuhan miskin di Brazil. Freire dilahirkan dalam keluarga klas menengah, yakni ayahnya polisi militer dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Ia hidup dalam situasi krisis ekonomi di Amerika serikat tahun 1929 yang imbasnya terkena di Brazil. Ayahnya meninggal saat Freire berumur 11 tahun. Saat itu juga Freire mengalami kesulitan dalam memenuhi finansial. Dia bertekat untuk melawan kelaparan (A. Agus Nugroho:1982,9). Kondisi Ekonomi membaik dan ia menyelesaikan pendidikan di Universitas Recife di Fakultas Hukum.
Freire diangkat menjadi Pegawai Dinas Kesejahteraan Sosial. Dari sini Freire semakin bersentuhan dengan kaum miskin. Ia merumuskan konsep “komunikasi baru” dengan kaum miskin. Atas dasar keprihatinan kepada kaum miskin inilah, Freire menyelesaikan kuliah doktoral tahun 1959 dalam bidang Sejarah dan Filsafat Pendidikan di Universitas Recife.
Awal tahun 1960-an, Brazil mengalami gejolak politik. Gerakan-gerakan politik sayap kanan juga sayap kiri berkembang, mulai mengabdi ideologinya masing-masing. Saat itu, seorang terkenal bernama Joao Goulart berhasil memikat perhatian warga Brazil dan menjadi Presiden. Goulart mengeluarkan kebijakan terkenal dengan mengadakan program pembrantasan buta huruf. Pada saat yang sama Freire menjabat sebagai direktur utama Lembaga Pengabdian Masyarakat di Universitas Recife yang bergerak dalam penanggulangan masalah buta huruf. Di sini, dengan “metode dialogis” hasil rumusan Freire, setiap individu akhirnya bisa membaca hanya dalam waktu 30 menit. Freire dipandang berjasa karena telah menumbukan “harapan baru” dalam warga miskin Brazil yang selama ini kurang diperhatikan oleh pemerintah (Mufti Sholih: 2010, 16). Freire menggunakan metode berpolitik tanpa menjadi kontestan, yang oleh militer dan tuan tanah dianggap sangat radikal dan berbahaya (Made Promo: 2003,128).
Ada beberapa karya Paulo Freire yang terkenal berkaitan dengan pendidikan (pembebasan), yakni: Pedagogy of The Oppresed artinya Pendidikan Kaum Tertindas (1970), Cultural Action for Freedom (1972), Education for Critical Consciousness (1973), Education: The Practice of Freedom (1976), The Politics Of Educatian: Culture, Power dan Liberaliton (1985), A Pedagogy For Liberation: Dialog on Transforming Education (1987), Pedagogy of the city (1993), Pedagogy of Hope: Reliving Pedagogy of Tte Oppressed (1994), Letter to Christina, Reflection on My Life and Work (1996) dan Pedagogy of The Heart (1997). Juga beberapa buku yang diterbitkan setelah Freire meninggal: Teacher as Cultural Workers: Letter to Those Who Dear Teach (1998), Politic and Education (1998) dan Pedagogy of Freedom (1998).
Pemikirannya
Melihat karya-karya Paulo Freire ini, pendidikan konteks Papua dirumuskan bahwa pendidikan adalah proses pembebasan manusia. Membebaskan manusia dari belenggu: buta huruf (kebodohan) dan ketertinggalan. Pendidikan yang membebaskan manusia dari penindasan, pengalienasian, pembodohan, diskriminasi, dominasi dan hegemoni. Untuk membebaskan manusia dari praktek-praktek penindasan, Freire mengambil satu langka: membuat metode pendidikan dari konteks derita dan berjuang membebaskan penderitaan. Beberapa pemikiran Freire konteks pendidikan pembebasan, atau pendidikan yang membebaskan:
Conscientizaco: Inti Proses Pembebasan
Freire mendeskripsikan Conscientizaco (Rusli Karim:1991,33-34) sebagai sebuah Proses untuk menjadi manusia yang selengkapnya. Di bagi dalam tiga Fase yakni kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naïf (naival consciousness) dan kesadaran kritis (critical consciousness) dalam buku (Wiliam A. Smith:2001,54). Kesadaran magis adalah suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu factor dengan faktor yang lain. Kesadaran naïf lebih melihat aspek dan struktur sebagai sumber masalah. Selanjutnya kesadaran kritis adalah secara kritis menyadari struktus dan sistem sosial, politik, ekonomi, budaya dan akibatnya pada keadaan masyarakat (Mansour Fakih:2001,23-24).
Pembebasan hanya bisa dilakukan dalam artian yang sesungguhnya jika seseorang memang benar-benar menyadari realitas dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Membuat orang paham akan realitas dan kemampuannya untuk mengubah realitas. Bahwa memang manusia pada dirinya adalah mampu. Disadarkan situasi, juga kemampuan untuk mengubah: kemampuan adalah rahmat, kodrat) dan semua manusia mampu mengubah situasi, dapat memperbaiki struktur dan sistem yang membelenggu. Segalanya mungkin dan pasti berubah jika “semua beraksi” secara nyata.
Model Pendidikan yang Membebaskan
Dalam usaha penyadaran dan pembebasan manusia dari ketertindasan, Freire mengemukanan pendidikan dengan metode-metode pendidikan kontekstual. Pertama, menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat di masa mendatang. Kedua, mentransfer (memindahkan) ilmu pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup (survive) masyarakat dan peradaban (Hasan Langgulung:1980,92).
Dalam pandangan Freire, pendidikan merupakan latihan untuk memahami makna kekuasaan dan komponen yang terlihat di dalamnya komunikasi tidak saling menguasai. Pendidikan terjadi dalam hubungan dialektis antara individu dan kelompok untuk secara bersama-sama melepaskan diri dari akar sejarah yang mendominasi dan saling membatasi ruang Gerak individu dalam struktur yang menindas. Juga melepaskan diri dari ideologi yang paradoksal. Menurutnya pendidikan merupakan: pertama, tempat mendiskusikan masalah-masalah politik dan kekuasaan secara mendasar, sebab pendidikan menjadi “ajang” terjalinnya makna, hasrat, bahasa dan nilai-nilai kemanusiaan. Kedua, untuk mempertegas keyakinan secara mendalam tentang manusia dan apa yang menjadi impiannya. Ketiga, untuk merumuskan dan memperjuangkan masa depan.
Freire menyarankan upaya pendidikan yang berwawasan kemanusiaan, yakni dengan menciptakan “kebebasan intelektual” antara pendidik dengan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Proses harus terbuka, penuh dialogis dan bertanggung jawab antara pendidik dan peserta didik, berlansung secara egaliter dan kesetaraan (equity). Pembelajaran segala arah (guru-murid, murid guru: top down maupun buttom up, juga antarmurid (network). Untuk terwujudnya metode ini, guru harus membuang pendidikan deskriptif (dengan perintah), digeser ke arah pendidikan dialog-transfomatif (Siswanto:2007,10). Pendidikan diharapkan dapat menghasilkan perubahan pada diri siswa baik perubahan kualitas berpikir, pribadi, social kemandirian maupun kualitas kemasyarakatanya (Djohar:2003,154). Guru hanya hadir sebagai fasilitator, dinamisator, mediator dan motivator, sehingga siswa sendiri memberdayakan diri dan menemukan sendiri informasi maupun pengetahuan yang dikejarnya (Periksa Freire:2000,11). Pendidikan adalah proses berpikir, karena itu diarahkan pada tiga tipe: pertama, teaching of thinking (pembentukan ketrampilan berpikir kritis), kedua, teaching for thinking (menciptakan suasana, iklim untuk dapat mengembangkan kognitif) dan ketiga, teaching about thinking (pembelajaran yang diarahkan pada upaya untuk membantu siswa lebih sadar terhadap proses berpikir).
Relevansi: Pendidikan di Papua
Bagaimana dengan pendidikan di Papua? Pernahkah para guru mempraktekan pendidikan ala Freire di Papua? Serasa, jika metode pendidikan pembebasan ala Freire tidak dikembangkan, tidak dipergunakan dalam mendidik siswa (Papua), rasanya hampa dan hambar. Metode pendidikan (pedagogy) ala Freire sangat kontekstual di Papua. Situasi sosial-politik yang tidak bersahabat menuntut para guru (Papua) di Papua mengunya, juga meminum sedikit olahan ala Freire, sekaligus membagi-cicipi pendidikan pembebasan di Papua kepada peserta didik.
Aneka buku dari Freire di atas tidak hanya menjadi informasi, melainkan tergugah untuk mengunggahnya, sehingga memiliki sumber dalam mendidik jiwa-jiwa muda Papua menjadi berbudi, berhati dan berkehendak mengubah konteks Papua, sebagaimana diimpikan Freire sendiri tentang manusia, bahwa semua manusia mendapat kebebasan, perubahan secara total. Hidupkan motode pendidikan Freire di Papua, di sekolah-sekolah, maupun di mana pun, supaya semua orang Papua melek akan huruf, situasi dan bengkit berjuang untuk mengubah nasib (kondisi) yang buruh menjadi berahmat.

*] Penulis adalah alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” Jayapura-Papua

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *