PHP Dev Cloud Hosting

Roh Martin Luther King di tanah Papua

  • Bagikan

Oleh; Welius Yigibalom

GEREJA jadikan sarana untuk memperjuankan kesetaraan hidup atas penindasan dan diskriminasi yg kerap kali terjadi di Amerika Serikat. Walaupun kemerdekaan AS sudah berusia 100 tahun.

Martin di dibunuh dari orang yang tangan gelap tidak menghentikan perjuangannya dan impian serta cita-cita seorang diri Martin. Saya bermimpi disuatu hari nantinya ada anak anak bekas budak dan anak anak pelaku bekas perbudakan, duduk satu meja dan menikmati semua fasilitas tanpa ada perbedaan/diskriminasi.
Impian itu telah terwujud kini di AS.

Kondisi gerrja di Papua hari ini

Saya, secara pribadi sudah membaca tuntas yang ke 3 kalinya buku seorang tokoh pejuang kesetaraan hak di AS. Martin Luther King. Dirinya bukan hanya menjadi tokoh, namun dia juga salah satu tokoh termuda mendapatkan Nobel perdamaian pada usia 30 tahun dan terpenting dalam sejarah dunia dewasa ini.

Dari singkat cerita diatas saya merasa bahwa Papua membutukan pemimpin Gereja yang berkarakter setara dengan Martin Luther King dan Dr Socratez S. Yoman maka Papua ini bisa menimbulkan rasa perdamaian yang bertumbuh secara perlahan.

Fakta menjawab bahwa pemimpin gereja di Papau, bicara dimana mana.
Jangan membunuh, Jangan membenci, Jangan mencuri,Jangan membohongi sesama. dll, dalam konteks Alkitab. Itu sangatlah jelas.

Namun, menjadi pertanyaan saya hari ini:
1. Mengapa pemimpin gereja tdk menegur TNI/POLRI yg terus membunuh umat Tuhan di tanah Papua ?
2. Mengapa pemimpin gereja tidak menegor diskriminasi rasial yg kerap kali terjadi di Papua hari ini ? Apakah itu bukan membenci sesama ?
3. Mengapa pemimpin gereja terus menutup mata atas pencuri yg terus menerus mencuri di tanah Papua ?
4. Mengapa pemimpin gereja mendukung OTSUS Jilid II di Papua. Apa itu kebohongan ?

Artikel ini, saya menulis karena ketidakadilan yang terus bertumbuh dalam diri saya. Maka, siapaun membantah argumentasi yg pelik ini, silakan karena itu pilihan kamu.Namun, saya berharap untuk dibaca para calon calon pemimpin gereja di Papau yang sedang bersiap hari ini. Bahkan, Generasi akan memegang amanah gereja ini 20 — 30 tahun mendatang nanti.

Papua membutuhkan suara gembala, maka belajar teladan Martin Luther King di Amerika dan belajar pula kepada seorang gembala bernama Socratez Sofyan Yoman

*] Penulis adalah tokoh pemuda Lapago

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *