Kapan “demo” tolak Otsus Jilid II?

Oleh: Makiimee Gamoye

Otonomi Khusus [Otsus] sebelumnya (tahun 2001) tidak diberi nama Otsus Jilid I. Karena saat itu pilihan bukan Otsus berjilid-jilid, namun antara “Otsus atau Merdeka”. Secara terpaksa, juga dipaksakan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk menggagalkan atau menawarkan “nilai Merdeka” dari bangsa Papua. Memilih Otsus pada tahun 2001 bukan keinginan rakyat, melainkan paksaan dari Negara Indonesia dalam hegemoni dan dominasi.

Undang -undang Otsus tahun 2001 gagal diberlalukan di Papua. Kegagalan Otsus menghidupkan nilai tawarnya, yakni “Papua Merdeka”.

Tanggapan atas Otsus Jilid II

Di bawah pemerintahan Jokowi membahas pemberlakukan Otsus Jilid II karena Otsus telah gagal. Pertemuan tertutup membahas pemberlakuan Otsus Jilid II merupakan satu tindakan “abnormal” dan “amoral”. Sebab, dibahas tanpa sepengetahuan Orang Asli Papua. Orang Papua tidak dilibatkan. Orang Papua dianggap “binatang”. Di sini, lagi-lagi pemerintah secara tersistem dan terstruktur menstigma atau merasis orang Papua.

Jokowi membahas Otsus jilid II adalah menstigma orang Papua sebagai orang bodoh, bahkan binatang. Jadi, yang mengatakan orang Papua monyet, tidak hanya oleh rakyat Indonesia, namun juga oleh presiden Indonesia sendiri.

Otsus Jilid II tolak! Kapan?

Otsus jilid II memang sudah gagal. Karena sudah gagal maka harus ditolak dan minta merdeka. Merdeka adalah tawaran terbaik dan tunggal.
Rakyat Papua telah lama tinggal dengan negara Indonesia yang penuh rasis dan dehumanis.

Kapan rakyat Papua menolak Otsus Jilid II? Pertanyaan ini segera dijawab oleh semua organ perjuangan, semua lapisan masyarakat dan semua Orang Papua. Rakyat Papua harus mengambil satu hari secara serentak menolak Otsus Jilid II dan meminta Papua Merdeka secara terbuka, bebas dan terhormat. Karena pengganti Otsus adalah Papua merdeka, bukan Otsus berjilid-jilid.

Satukan barisan, tentukan waktu yang tepat, dari sorong hingga Merauke demo untuk merdeka.

Otsus Jilid II NO, Papua Merdeka Yes!!

*] Penulis adalah pemerhati situasi sosial politik di tanah Papua

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares