Harusnya Pemda Dogiyai mekarkan SDM dulu sebelum hadirkan DOB

Jayapura, [WAGADEI] – Wacana pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Mapia Raya terus menerus menuai kritik, bahkan sebagian besar adalah menolak keinginan para elit politik di Kabupaten Dogiyai. Pasalnya, rencana DOB tersebut bukan keinginan rakyat juga sumber daya manusia (SDM) di daerah itu terbilang cukup minim.

Ketua Rumpun Pelajar, Mahasiswa Siriwo, Mapia, Piyaiye, Topo dan Wanggar (RPM Simapitowa) se Indonesia, Hengki Mote kepada wagadei.com mengatakan, tanggal (20/05/2020) Bupati Dogiyai Yakubus Dumupa bersama Wabup Oskar Makai telahmenyerahkan SK tim pemekaran DOB Mapia Raya kepada anggota DPRD setempat, Yusak Tebai di lapangan Gerardus Tigi Bomomani merupakan penipuan publik lantaran daerah Mapia penuh misteri.

“Utamakan pemekaran manusia Mee umumnya dan Mapia dulu l, bukan pemekaran daerah otonomi baru. Karena suatu daerah mau dimekarkan berarti sudah wajib hukumnya harus siapkan manusia yang siap mau kerja dulu,” ujar Hengki Mote Minggu, (5/7/2020).

Secara tradisi suku Mee, bahwa jika hendak mau buka kebun berarti hasil dari itu orang yang bekerja pulalah yang menikmati, bukan untuk orang lain.

“Sekarang ini kalau sumber daya manusia tidak ada, jelas sangat minim. Lalu orang-orang yang haus harta kekayaan minta pemekaran berarti sama saja bukanlah kita yang nikmati hasil dari pemekaran itu. Yang akna nikmati adalah orang Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Ambon, serta Papua suku lainnya,” ungkap dia.

Yang lebih aneh, menurut dia adalah Kabupaten Dogiyai sebagai induknya saja masih belum dibangun benar, seperti kantor pemerintah jua masih kontrak rumah warga padahal sudah 11 tahun Dogiyai dimekarkan dari kabupaten Nabire. “Lalu gelisah dengan DOB, ini aneh sekali. Cara pemerintah Kabupaten Dogiyai ini memalukan,” ucapnya.

Antonius Boma, tokoh pemuda asal Mapia menyatakan bahwa pihaknya bersama mahasiswa dan rakyat Tota Mapiha tak akan pernah mundur untuk tolak DOB itu. Karena pihaknya terlanjur percaya bahwa kepada MRP dan DPRP yang telah datangi sampaikan aspirasi penolakan pada pekan kemarin.

“Kedua lembaga itu kami percaya, bahwa mereka juga dukung untuk tolak pemekaran itu,” kata Boma.

Ia menegaskan, rakyat Tota Mapia bisa hidup dan mempertahankan kehidupan mereka tanpa pemekaran. Baginya, ppemekaran merupakan cara jitu Jakarta membunuh rakyat Papua dan menghabiskan sumber daya alam yang ada di Papua dan lebih khusus Yang ada di Mapia.

“Soal pemekaran itu kita sudah tahu bahwa pintu genosida sudah terbuka. Kami mau hidup yang masih tersisa di atas tanah Papua, khususnya di wilayah Mapia,” ucapnya. [*]

Reporter: Enaakidabii Carvalho

Editor: Uka Daida

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares