Otsus: Rasismee berujung Genosida

Oleh: Gamoye Makiime

SEMUA rakyat West Papua harus dan wajib bersatu dan bersekutu untuk menolak bentuk-bentuk rasisme, penjajahan dari Indonesia. Otsus adalah bentuk rasisme, rasisme yang tidak bias dilihat oleh rakyat, namun merupakan bentuk penjajahan dan berakhir pada pemusnahan. Menolak adalah satu jalan terbaik dan satu-satunya. Merdeka lebih baik dari otsus.

Otsus

Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) bagi rakyat bangsa Papua teleh diberlakukan 1 Januari 2001, selama 20 tahun ke depan, yakni 1 Januari 2021. Pemberlakuan Otsus kini di ujung waktu. Beberapa bulan lagi undang-undang Otsus berakhir.

Di penghujung pemberakuan Otsus, masyarakat menilai gagal total. Otsus sudah tidak bernyawa, artinya sudah almarhum. Kematian otsus merupakan satu kebanggaan masyarakat asli Papua. Bangga karena tawaran Otsus, yakni Merdeka menjadi pilihan paling utama. Masyarakat menilai Otsus adalah gula-gula politik, satu bentuk penghinaan, sekaligus penghianatan terhadap harkat dan martabat bangsa Papua. Rakyat bangsa Papua dibodohi, diperlakukan Negara Indonesia atas rakyat Papua.

Otsus dengan kaki tangannya, yakni aneka istilah yang diciptakan: misalnya, Pembangunan, UP4B, Ekonomi, Pemberdayaan hanyalah istilah kosong untuk membunuh rakyat Papua, sekaligus membohongi masyarakat dunia. Jadi, Otsus merupakan virus atas rasisme (bentuk pembodohan) terhadapa rakyat Papua. Otsus adalah rasisme. Otsus juga adalah bentuk kolonialisasi.

Rasisme

Otsus adalah Rasisme bagi rakyat bangsa Papua Barat. Amat jelas, bahwa Otsus adalah rasisme: penjajahan, pembohongan, bahkan pembunuhan dan pemojokan.

Rasisme tumbuh subur di Indonesia karena adanya konflik politik yang akarnya belum dicabut. Konflik politik yang dimaksud adalah pelurusan sejarah dan ketiadaannya pengakuan kedaulatan bangsa Papua dari bangsa Indonesia. Penjajahan adalah bagian dari rasisme dan sebaliknya. Akhir dari penjajan dan rasisme adalah kemerdekaan.

Akar rasisme akan menjalar dan menjadi kuat di wilayah jajah, di mana pun dan kapan pun. Cap rasisme terjadi untuk membentuk satu sifat “phobia”, katakutan, dan sekaligus membunuh mental pejuang, mental hidup dan merdeka. Karena itu, melawan rasisme harus berujung pada pemerdekaan. Menghilangkan jejak rasisme hanya dengan merdeka. Jika, tidak merdeka, rasisme berakhir hingga di pemusnahan.

Ganosida

Otsus adalah sebuah rasis. Manusia berniat rasis, demi memusnahkan manusia lain. Bentuk rasisme bagi rakyat Papua adalah bentuk pemusnahan. Otsus juga adalah bentuk penjajahan dan pemusnahan bagi rakyat bangsa Papua.

Menolak dan melawan rasis, juga otsus merupakan satu sikap terpenting untuk mempertahankan hidup. Bahkan merdeka adalah paling mendasar untuk menghilangkan rasis, juga bentuk-bentuk penjajahan, baik terlihat juga terselubung, baik langsung juga tidak langsung. Mengambil satu sikap pejuang dan berjuang membebaskan diri dan bangsa dari penjajahan, rasis adalah ciri terbaik seorang revolusioner, anti rasis dan anti penjajahan.

Semua orang tidak ingin dirasis, dijajah dan dibodohi. Sekalipun presiden (Joko Widodo), dia tidak ingin dirasis, dibodohi, dibunuh. Semua manusia ingin merdeka. Merdeka menjadi solusi terbaikn bagi korban rasis (penjajahan).

Apa pun istilah tentang Otsus, apa pun istilah tentang pembangunan, rakyat Papua tidak percaya pada Indonesia. Rakyat Papua memilih untuk berpisah dan memilih mengurus Negara sendiri.

Penulis adalah pemerhati sosial politik Papua

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares