Otsus jilid I dan II; Harapan yang menghidupkan atau mematikan bangsa Papua

Oleh: Benyamin Magay

PAPUA sejak tahun 2001 silam telah diberi kekhususan daerah yakni Otonomi Khusus [Otsus]. Mengapa Papua diberi Otsus? Tentu ada alasan-alasan yang mendasari sebagai berikut:

Pertama, salah satu cara NKRI memberi peluang kepada Orang Asli Papua [OAP] untuk mengembangkan diri dari ketertinggalan pembangunan manusia maupun insprastrukturnya [pembanguan fisik].

Kedua, Meredamkan konflik horizontal dan vertikal dalam bingkai NKRI.

Ketiga, OAP dapat mendiri untuk bersaing dengan suku bangsa yang ada di NKRI.

Keempat, meredamnya Konflik NKRI harga Mati dan Papua Harga Mati, yang memakan nyawa bangsa Papua.

Kelima, Otsus menutupi pelanggaran HAM di Papua sejak tahun 1961-2000 di Papua. Dengan adanya beberapa alasan inilah Papua diistimewakan dengan menberikan otsus di Provinsi Papua untuk mengembangkan OAP pada kesejahtraan ekonomi, politik, pendidikan, dan lainnya serta dapat membangun fasilitas pembanguan yang mempermuda OAP dalam rangka persaing dengan suku bangsa NKRI yang ada. Dengan istilah OAP menjadi tuan atas provinsinya.

Otsus jilid I

Seiringi berjalannya waktu sejak 2001 hingga kini Otsus jilid I mau berakhir. Kini banyak opini sudah mulai bangun. apa opini yang dibangun, tentu dipilah-pilahkan ternyata ada tiga opini dari tiga kelompok besar. ternyata tiga kelompok manusia papua ada sejak otcus jilid I ada hingga kini. Kelompok manusia pertama, OAP yang kelola dana-dana Otsus. Ternyata dana-dana otsus menurut pengamat ternyata salah mengunakan bahkan salah sasaran untuk pembangunan fisik maupun non fisik. mengapa demikian, ternyata Otsus masih dipantau oleh Pemerintah pusat dan juga para pengelolah mengunakan untuk kepentingannya. Kelompok manusia kedua, OAP yang merasakan OTSUS. dalam pengembangan otsus ternyata ada unsur KKN dan nepotisme, akibatnya dana-dana otsus dirasakan oleh kelompok OAP tertentu, bukan menyeluru. Dan kelompok manusia ketiga adalah OAP yang korban dari pengunaan dana atau kebijakan Otsus. Banyak OAP yang korban akibat adanya Otsus. rakyat Papua telah mengujur dana otsus atau kebijakan otsus namun banyak rakyak yang jatu akan pelanggaran HAM. Banyak jenis persoalan yang memicu pelanggaran HAM. Pelanggaran HAM dapat saja terjadi dari prespektif Ekonomi, politik, budaya, sosial, ras, pendidikan dll.

Otsus Jilid II

Otsus jilid I kini mau berakhir, maka sudah mulai membangun oponi-opini maupun pernyataan-pernyataan untuk tetap mempertahankan otsus jilid ii tetapi juga mengatankan otsus jilid ii tidak diperkenangkan lagi. maka kini banyak kalangan sedang berlomba untuk unjuk gigi merebut otsus jilid ii atau tidak. Namun saya sebagai pengamat perkembanagang akan sejarah otsus jilid I, ternyata adanya tiga kelompok manusia OAP yang tidak bersatu. Adanya Otsus bukan menyatukan OAP tetapi mempecah belahkan OAP yang ada di Papua. Maka OAP yang ada di dua Provinsi yakni provinsi Papua maupun Papua Barat membangun dialog untuk mencari solusi-solusi yang dapat menyatukan OAP.

Penutup

Dengan mempertimbangkan beberapa efek buruk dari OTSUS yakni OAP ada tiga kelompok yang berbeda dan juga latar belakan pemberian OTSUS yang dibeberkan awal dari tulisan ini. Maka saran penulis, bila saya membeberkan latar belakan adanya Otsus, maka banyak rakyat Papua yang korban jiwa maupun badan, maka seharusnya Otsus jilid II di Papua “tiadakan” karena Otsus adalah harapan yang mematikan OAP.

Dengan demikian OAP bisa hidup seperti suku bangsa yang lain, dengan menghidupkan dirinya sendiri tanpa mengharapkan Otsus. [*]

Penulis adalah petugas gereja Katolik di Keuskupan Timika

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares