Merdeka untuk mencabut akar rasisme

Oleh: Gamoye Makiimee

KEMERDEKAAN ialah hak segala bangsa. Maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Demikian disampaikan oleh negara Indonesia dalam Undang-Undang tahun 1945. Karena, itu penjajahan Indonesia dalam bentuk apa pun harus dihapuskan. Selanjutnya, negara Indonesia sendiri harus memberikan hak kemerdekaan segala bangsa, termasuk kepada bangsa Papua. Bangsa Papua yang sedang dirasis bangsa Indonesia merupakan sebuah penjajahan, karena itu harus dihapuskan dengan memberikan kemerdekaan berdaulat atas bangsa Papua.
Merdeka
Merdeka dapat ditafsirkan dengan tiadanya penjajahan dalam bentuk apa pun. Maka merdeka berkaitan dengan satu dunia di mana jiwa dan badan tak terpenjarah, tak tertindas dan semua menjadi satu dan sama.
Manusia merdeka terlihat dalam kelancaran hubungan kemanusiaan dan keilahian, juga kosmologis. Tiadanya ikatan politik kotor dan jahat. Merdeka membuat kehidupan menjadi indah dan bermakna. Merdeka membuat semua damai, bahagia dan sejahtera. Semua hidup baik. Semua merasakan bagian dari manusia merdeka.
Merdeka artinya tiadanya ketidakadilan, tiadanya rasisme, pertumpahan darah, penembakan, pembunuhan, pemenjarahan, dan lain sebagainya. Merdeka identik dengan “selamat”. Selamat dari tekanan, penindasan, pembantaian, kejatuhan, pencobaan, kematian dan maut. Mengabdi merdeka berarti mengabdi kehidupan. Menghargai dan menyukuri kehidupan. Menjadi hidup yang lebih bermakna. Di mana Pencipta hidup, menghendaki hidup yang lebih bermartabat. Rasisme, penjajahan, pembunuhan merupakan sikap tak terpuji baik terhadap sesama manusia maupun terhadap Pencipta sendiri. Demi menjaga keutuhan negara, atau apa pun, nilai martabat manusia harus mendapat tempat terhormat dan tertinggi. Kemerdekaan suatu bangsa terlihat dari tiada lagi pembunuhan, penembakan dan pembantaian. Negara yang masih mempraktekan tindakan ketidakmanusiaan merupakan negara masih belum merdeka, negara sporadis, atau negara gadungan. Praktek rasisme merupakan penampakan wajah negara yang tak beradab dan beradat.
Akar Rasisme
Negara Indonesia telah lama mempraktekan rasisme. Yang ada dalam tubuh Negara Indonesia adalah rasis. Terlihat ketika Indonesia mempraktekan sistem KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Di mana selalu terjadi sukuisme dan daerahisme. Di mana Indonesia hanya milik pulau tertentu dan suku tertentu.
Lebih radikal lagi, bahwa rasisme masih disandangkan kepada orang Papua dengan “stigmatisasi”. Rasisme masih dipelihara secara tekun dan ulet oleh Negara Indonesia bagi orang Papua. Baik langsung maupun tidak langsung, baik tersembunyi maupun tidak tersembunyi rasisme dialami oleh orang Papua sejak dulu, kini dan pasti selamanya. Tubuh rasisme yang sedang tumbuh subur dan mengakar kuat dalam sistem dan struktur NKRI yang penuh rasis akan berakhir atau tercabut akar ketika Papua merdeka dari Indonesia. Kemerdekaan Papua adalah awal tumbangnya “tubuh rasisme” yang amat subur di mana-mana.
Mencabut akar rasisme
Tercabutnya akar rasisme Indonesia adalah dikembalikannya kemerdekaan berdaulat yang telah diraih bangsa Papua sejak tahun 1960-an.
Rakyat Papua adalah monyet sejauh rakyat Papua ada bersama dan dalam sistem negara Indonesia. Menjadikan Papua bagian dari Indonesia berarti, menjadi monyet bagi bangsa Indonesia. Di mana orang Papua disetting seenaknya, diperlakukan seenaknya dan bahkan dibunuh seenaknya karena memang orang Papua telah menjadi monyet bagi Indonesia.
Bukti bahwa orang Papua monyet adalah masih ada orang Papua yang terpenjara. Hanya karena menolak rasisme, negara memenjarakan. Hanya karena memperjuangkan ras yang diinjak-injak, negara langsung memenjarakan, sampai berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Orang Papua memang telah sekian lama menjadi monyetnya Indonesia. Hal ini terlihat dalam banyak manusia Papua yang mempraktekan sikap-sikap monyet, bergantung penuh pada Indonesia. Siang malam, seperti binatang piaraan yang selalu menanti dan menunggu untuk “dikasih makan” oleh Indonesia. Tidak bekerja, tidak sekolah namun Indonesia memelihara seperti binatang piaraannya sendiri.
Mereka yang bergantung penuh pada Negara Indonesia siang dan malam adalah binatang yang sepenuhnya belum menjadi manusia Papua yang sejati. Mereka itu harus disadarkan dan dimanusia-politikkan. Mereka harus dipulangkan pada pangkuan ibu pertiwi, pulau Papua yang lebih kaya-raya. Hanya dengan pulang kembali ke pangkuan ibu pertiwi “tanah hitam” ras Melanesia, akan tercabut akar rasisme yang telah lama dipiara oleh Indonesia.
Merdeka bagi orang Papua adalah awal terbebasnya bangsa Indonesia dan bangsa Papua. Hanya dengan Papua merdeka, Indonesia akan merasakan kemerdekaannya yang sejati, bahwa bangsanya bukan bangsa rasis, bukan bangsa pembunuh, bangsa pemenjara dan penjajah.

Orang Papua hanya minta pengakuan akan kemerdekaan, sebagai upaya pembebasan diri dari stigma dan rasis yang sangat tidak manusiawi. Kemerdekaan bangsa Indonesia juga membebaskan bangsa Indonesia.

*] Penulis adalah pemerhati sosial politik di tanah Papua

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares