C-19 masuk di Papua, Pastor Kuayo: karena mobilitas penduduk non OAP tinggi

Deiyai, [WAGADEI] – Administrator Diosesan Keuskupan Timika, P. Marthen E. Kuayo, Pr menyoroti masuknya virus Corona atau Covid-19 di tanah Papua yang akhirnya berkembang menjadi lebih besar hingga ke semua wilayah adat bahkan sejumlah kabupaten yang menjadi pintu masuk telah terpapar virus tersebut.

Menurut Kuayo, yang bawah masuk Covid-19 ke Papua karena mobilitas penduduk pendatang atau non orang asli Papua (OAP) di tanah Papua cukup tinggi.

“Enam daerah yang mobilitas penduduk pendatang tinggi yakni Anim Ha di Merauke, Mamta di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Lapago di Wamena, dan Mepago di Timika juga Nabire,” ujarnya kepada Jubi, Minggu, (3/5/2020).

Administrator Diosesan menyebutkan mobilitas penduduk non OAP di Timika lantaran keberadaan PT. Freeport Indonesia.

Sementara, mobilitas penduduk pendatang tinggi di Anim Ha atay Merauke, Mamta di Jayapura, Lapago di Wamena dan Meepago di Nabire tinggi karena pintu masuk beberapa kabupaten penyangga sekitarnya.

“Khusus Meepago di Nabire bila tidak dibatasi seperti manusia, perahu dan jalan darat dari Manokwari, maka akan bertambah bahayanya,” ujarnya tegas.

Demikian juga Meepago di Timika tetap berbahaya karena PT Freeport Indonesia tidak akan berhentikan karyawan dan mobilitas pendatang tinggi.

“Nah di sini, jalan darat dari Timika ke Deiyai harus perhatikan. Pemerintah usahakan tangani serius pusat-pusat kota wilayah adat di atas untuk menekan penyebaran virus ke pedalaman atau pesisir pantai,” kata mantan Dekan Dekenat Paniai ini.

Sementara itu, ketua fraksi PKB DPRD Deiyai Naftali Magai mengatakan pihaknya telah melakukan pemalangan jalan trans Mimika – Nabire di kilo meter 12 atau persis kali Pindah-Pindah Mimika gun mencegah penyebaran virus Corona di Meepago.

“Mulai kemarin, Sabtu, (2/5/2020) sudah melakukan pemeriksaan deteksi suhu tubuh kepada kami semua, syukurlah semuanya normal. Jadi ini kami sungguh-sungguh kerja demi keselamatan kita bersama untuk Meepago,” ucapnya.

Pihaknya mengaku tak akan pernah melewatkan satu orangpun ke arah Deiyai maupun Mimika.

Sementara posko terpadu Satgas Covid-19 di kilo meter 100, Siriwo yang dibangun oleh gabungan Dogiyai dan Nabire hingga kini masih banyak warga dan pejabat naik pedalaman dan turun ke kota.

Hal itu dikatakan Simon Petrus Pekei, wakil ketua 1 DPRD Dogiyai yang berada di Siriwo sejak awal Maret 2020 hingga saat ini.

“Ya di sini banyak orang yang gunakan surat izin jalan yang ditandatangani oleh Bupati Deiyai, Paniai dan Dogiyai. Bahkan pejabat juga selalu turun dan naik. Jadi kita ini agak susah untuk putuskan mata rantai penyebaran virus Corona ini di Meepago,” ujar Pekei. [*]

Reporter: Aweidabii Bazil

Editor: Uka Daida

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares