Penembakan di Mamra dituding skenario murni dari militer NKRI

Dogiyai, [WAGADEI] – Penembakan terhadap tiga anggota Polri Bripda Yosias Dibangga, Briptu Alexander Ndun dan Briptu M. Rumaikwi yang bertugas di Polres Mambramo Raya (Mamra) Minggu, 12 April 2020 dianggap sebuah skenario murni yang didramakan oleh kedua institusi yakni Polri dan TNI.

Oleh karenanya, DPR Papua melalui Sekretaris Fraksi Membangun Papua, Alfred Freddy Anouw kepada wagadei.com menegaskan, agar lembaga independen di Indonesia seperti Komnas HAM segera tangani guna mengusut tuntas apa alasan sebenarnya atas tragedi itu.

“Yang menjadi pertanyaan bagi kami adalah kenapa tiga orang tersebut anak asli Papua yang dibunuh? Kami duga ini skenario murni yang sedang dipermainkan oleh lembaga militer Indonesia,” ujar Alfred Freddy Anouw,  Senin, [13/4/2020].

Karena pihaknya menduga dari akar persoalannya, jika hanya ongkos sewa motor Rp50 ribu saja mau nekat membunuh memakai senjata api.

“Itu sangat mustahil, sehingga kami sangat mendesak Komnas Ham segera turun ke Membramo,” katanya.

Pada kesempatan ini, lanjut anggota Komisi IV ini mengaku pihaknya juga rasa bangga. Sebab tragedi memilukan ini terjadi di Mambramo, daerah yang belum ada anggota TPN/OPM. “Jika kejadian ini terjadi di Pegunungan Tengah Papua pasti militer Indonesia mengalihkan issu dan bilang itu ditembak TPN/OPM,” ucapnya.

“Kami minta negara Indonesia bertanggung jawab atas hilangnya nyawa tiga putra terbaik Papua,” ujarnya.

Anggota Komisi I DPR Papua, Laurenzus Kadepa mengatakan, dengan gugurnya tiga anggota Polri muda, kini jumlah orang asli Papua dalam lembaga Kepolisian Indonesia telah berkurang.

“Ini menyayangkan, jumlah orang asli Papua di dalam anggota Polri menurun,” katanya. [*]

Reporter: Abeth A. You

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares