Koruptor hendak dibebaskan, hati rakyat terluka

Oleh: Jacob Ereste

WACANA koruptor hendak dibebaskan jadi terkesan pemerintah mau cuci tangan. Dan hati rakyat bisa terluka. Nasehat leluhur bangsa Melayu; jangan pula kau hendak menangguk di air keruh.

Jadi untuk menghadapi wabah virus corona yang semakin marak menggasak warga masyarakat, pemerintah tak perlu panik, himbauan dan arahan untuk menggadapi wabah jahat itu secara bersama dengan warga masyarakat sudah cukup untuk membentengi diri dari sergapan virus yang mematikan itu.

Karenanya ide gila untuk membebaskan para narapidana korupsi tidak baik dilakukan, sebab akan sangat melukai hat rakyat. Karena kejahatan koruptor itu dampaknya mengenai semua warga masyarakat. Karena korupsi dalam bentuk apa saja — semua — terkait dengan kepentingan rakyat banyak.

Himbauan penerintah untuk meminta kesadadaran warga masyarakat berperan serta melakukan pencegahan dan perkawanan dari serangan virus laknat itu tinggal diintensifkan lagi sosialisasinya. Sehingga upaya pencegagan dan perlawanan dapat dilakukan dengan kompak.

Kesadaran warga masyarakat agar menjaga kebersihan, membatasi kontak fisik, menahan hasrat ingin mudik dan mengadakan pertemuan yang bisa membuat pri
Proses penularan covid 19 itu agar tidak meluas, bisa terus dilakukan, sekaligus guna membangun budaya disiplin bersama. Tidak sepihak dan terkesan tebang pilih seperti budaya yang nyaris tumbuh subur di begeri ini.

Jika sosialisasi dari ancama virus corona itu dapat diterima dengan baik oleh segenap warga masyarakat, tidak mungkin ada penolakan serta pembangkangan, sebab semua itu bisa dipagami demi dan untuk kepentingan bersama. Termasuk keluarga maupun anak istri serta cucu kita juga.

Kegalauan warga masyarakat untuk tetap pulang mudik, melakukan pertemyan dan kegiatan di tengah keramaian pasti bisa dikurangi, meski tak mungkin ditiadakan sama sekali. Misalnya kegiatan di pasar dan di tempat kerja yang tidak mungkin dapat ditunda, bisa saja dilakukan dengan cara membatasi diri dan menjaga jarak kontak.

Jika sosialisasi yang kita lakukan secara masif guna mengetuk kesadaran bersama segenap warga masyarakat, pasti akan diterima dengan senang hati dan kegembiraan tanpa tekanan maupun ancaman.

Perasaan adanya ancaman itu sebetulnya tidak juga perlu terjadi bila bantuan yang diperlukan dapat diperoleh, seperti untuk mendapat suplay bahan makanan, obat-obatan dan alat yang diperlukan untuk melindungi diri dari kerentanan serangan virys berbahaya itu.

Siapa yang tidak takut mati akibat mewabah serta sergapan virus jahat itu yang sebenarnya dapat diatasi dengan cara yang sudah banyak diuraikan secara praktis dan gampang dilakukan oleh setiap orang. Minimal dengan rajin berjemur secara rutin di mata hari pagi dan memakan buah-buahan yang banyak terdapat di negeri kita adalah cara yang paling mudah dan murah. Untuk memenuhi keperluan seruoa itulah negara dan pemerintah harus dan wajib hadir guna memenuhi kebutuhan warga masyarakat yang memerlukan bantuan.

Seperti narapida yang hendak dibebaskan itu — apapun kreteria dan tata aturan yang hendak digunakan–tetap terkesan bila pemerintah hendak melepas tanggung jawab terhadap warga binaan di penjara atau di lembaga pemasyarakatan. Sebab justru di tempat itu mereka dapat lebih mudah dijaga kesehatannya dengan melakukan senam massal misalnya setiap pagi sambil terus dilakukan penjagaan dan pemeriksaan bagi kesehatan mereka secara rutin dengan lebih intensif.

Membebaskan para koruptor dari tahanan justru akan menimbulkan persoakan baru dalam kerumitan kita menghadapi virus cirona. Hati rakyat yang sesugguhnya bisa terluka, sebab sangat terkesan ada yang hendak memanfaatkan kegaduhan dan kepanikan yang tidak perlu terjadi dan didramatisir sehingga kita tidak konsentrasi dan fokus untuk menangkis jurus-jurus jahat virus yang mengancam kehidupan kita sampai hari ini.**

*] Penulis adalah aktivitas kemanusiaan, tinggal di Jakarta

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares