Bedanya sikap masyarakat sosialis, kapitalis, dan Pancasila lawan Covid-19

  • Bagikan

Oleh: Jacob Ereste

LAMA juga aku tercenung sekedar untuk memahami sanepo seorang kawan yang sudah lama bermukim di Jerman. Dia tanya adakah bedanya cara penanganan bencana di negeri Pancasila dengan negeri sosialis dan kapitalis?

Saneponya itu nyaris sepekan aku endapkan, tak juga menemukan jawaban yang memuaskan. Padahal kata kawan tadi masalah bencana kemanusiaan bisa segera mendapat jawaban dari semangat dan energi Pancasila yang memiliki sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Di negeri kapitalis, menurut dia cara menangani bencana ditandai oleh nafsu untuk memanfaatan bencana itu guna mendapat uang atau bahkan kekayaan dari kesempatan di dalam kesulitan banyak orang.

Sosok kapitalistik itu ditandai oleh birahi untuk berlomba menjual masker atau alat kesehatan seperti yang dia baca maraknya berita dari negeri kita. Ya, jangankan cairan pembersih tangan yang melambung harganya, tarif obat-obatan yang bisa ikut membantu menjinakkan Virus Carona yang jahat itu pun tidak mampu dikendalikan oleh pemerintah.

Bagaimana bisa harga rempah-rempah dan sejumlah bumbu dapur yang dianggap bisa ikut melawan keganasan virus liar itu jadi ikut melambung tidak karuan harganya di pasar tradisional kita.

Memang ragam rempah-rempah itu semua boleh jadi bukan bagian dari tugasnya Bulog, seperti beras, kacang kedelai hingga gula dan garam. Itulah yang ingat dan kenang dari negeri leluhurnya yang kaya raya tapi selalu jadi bulan-bulanan pasar bebas.

Di negeri sosialis kata kawan tadi –meski tak sekaya negeri kita bahan makanan dan rempah-rempahnya– bisa membuat banyak orang menjadi betah dan senang seperti dirinya yang sudah lebih 30 tahun hidup di negeri sosialis itu.

Masyarakat sosialis diam-diam menaruh makanan di pinggir jalan –tak juga persis didepan rumah mereka– agar makanan itu bisa diambil oleh mereka yang memerlukannya supaya dapat membantu daya tahan dari serangan wabah yang mengharuskan setiap orang membatasi diri di tempat tinggalnya masing-masing.

Sebab dengan cara begitu pemerintah bisa lebih gampang mengatasi penyebaran virus jahat itu. Dan pemerintah yang meyakini paham sosialis pun tak segan-segan mengucurkan dana untuk warganya agar tidak sampai terjangkit virus laknak itu.

Video yang merekam suasana masyarakat dari negeri sosialis yang menaruh bahan makanan di sepanjang jalan itu seperti menampar keyakinanku yang merasa Pancasila lebih ampuh menghadang bencana kemanusiaan di negeri ini.

Karena ideologi Pancasila pun aku yakin lebih lengkap dan sakti. Tapi sekonyong ingat BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) aku jadi merasa terganggu. Sebab kerjanya yang melakukan pembinaan itu seperti belum memberikan hasil yang nyata. Sementara ratusan juta duit untuk gaji mereka sudah ditumpahkan sejak Februari 2018 sampai sekarang. Bahkan suaranya pun untuk Covid 19 juga tidak terdengar desisnya. [*]

*] Penulis adalah aktivitas kemanusiaan, tinggal di Jakarta

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *