Pembuka palang jalan adalah pembunuh orang Meepago

 

Dogiyai, [WAGADEI] – Pemalangan jalan trans Nabire – Ilaga di kilo meter 130 atau kampung Abouyaga hingga kampung Epomani dengan cara lintang kayu oleh DPRD Kabupaten Dogiyai dipimpin Ketua DPRD sementara, Wakil Ketua, Ketua komisi A dan sejumlah anggota DPRD.

Ketua DPRD sementara Dogiyai Elias Anouw mengatakan, pihaknya tutupi badan jalan dengan kayu besar menggunakan sensor oada tanggal 8 April, namun diketahui telah dibuka oleh oknum tertentu pada tanggal 9 April 2020.

“Pemalangan iu dibuka oleh oknum pemuda dan anggota Polisi dari Polres Paniai,” ujar Elias Anouw ketika dikonfirmasi wagadei.com, Jumat, [10/4/2020].

Usai mendapati laporan dibukanya pemalangan, pihaknya kembali lagi tempat itu guna melihat dari dekat agar memastikan pembongkaran palang tersebut.

“Ternyata kayu yang kami tebang untuk memalang jalan itu sudah dibongkar. Mereka potong pakai parang, dan kampak. Sudah bersih, rata dengan tanah,” katanya.

Ia mengaku, oknum pemuda yang bekerja sama dengan Polres Paniai melakukan hal itu demi meloloskan kendaraan mereka.

“Jadi mereka kerja pada malam hari. Dan selanjutnya kami balik kanan kejar orang-orang itu,” katanya.

Ketua Komisi A DPRD Dogiyai, Agustinus Tebai mengatakan, pihaknya kembali tebang kayu untuk memalang jalan tersebut dengan menumbangkan dua pohon besar.

Ia menceritakan, tiba- tiba dari arah Nabire muncul mobil, mereka adalah rombongan Polisi dari Polres Paniai, tujuannya ke Enarotali, Paniai.

“Tiba di tempat pemalangan yang baru ditebang, para anggota Polisi cerita antara satu sama lain ini baru saja mereka tebang. Sambil mereka potong pakai sengsor yang dibawah oleh rombongan Polisi ini,” katanya.

Ia mengatakan, jatak antara pihak DPRD dan rombongan Polisi kurang lebih 20 meter. Polisi yang dari Nabire ini pihaknya menahan untuk meminta keterangan terkait pembongkaran pemalangan, namun mereka tidak berhenti lalu terus jalan dengan kecepatan cukup tinggi.

“Saat itu mereka [Polisi] menggunakan kendaraan dua motor dan dua mobil,” ucapnya.

Para DPRD tinggalkan pohon yang ditebang pihaknya, laku ikut kejar Polisi dari belakang. “Kami sampaikan kepada tumbuhan yang ada di sekitar kita, agar mobil Polisi terjadi apa-apa di jalan biar kami bisa minta keterangan,” ungkapnya.

“Kami tiba di kampung Gopouya, ternyata mobil yang ditumpangi Polisi itu rusak, katanya mesin panas dan berhenti di jalan. Dan mereka sedang perbaiki. Kami Rombongan DPRD meminta kepada Polisi agar bertanggungjawab atas tindakan yang dibuat, yang sengaja membuka pemalangan tersebut,” ujarnya.

Menurut dia, para Polisi dari Polres Paniai sampaikan bahwa telah dikasih surat jalan dari tim Satgas karena tujuannya emergency. Selain itu, pihak Polisi sampaikan ada pejabat yang sampaikan bahwa palang sudah dibuka sehingga bisa naik.

Wakil Ketua DPRD Dogiyai, Simon Petrus Pekei menegaskan, pihaknya mengutuk cara kanak-kanak yang dilakukan oleh oknum pemuda dan aparat kepolisian.

Lanjutnya, pintu penyebaran pihaknya telah mengunci, ternyata ada oknum-oknum yang disebut sebagai kaum terdidik sengaja membuka maut manusia Meeuwo.

“Maka kami tegaskan, ini cara oknum-oknum tadi itu untuk membunuh orang Meepago khusus tiga Kabupaten di Dogiyai, Deiyai, dan Paniai,” katanya.

Pihaknya juga tegaskan, masyarakat Paniai, Deiyai, dan Dogiyai segera berhenti naik dan turun dari dan ke Nabire karena DPRD Dogiyai akan ambil sikap lain yang lebih ekstra ketat.

“Ini semua kami lakukan atas dasar aspirasi rakyat Meeuwo bahwa harus tutup akses perhubungan,” ucapnya.

Kapolres Paniai, AKBP.  A. Wakhid P. Utomo yang dikonfirmasi tak memberikan respon balik. [*]

Reporter: Abeth A. You

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares