Orang Indonesia di Papua merasa tak berdosa atas perampasan tanah

  • Bagikan

Oleh: Amoye Goo Makiimee

PAPUA sejak dipaksa masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI] tahun 1961, Papua menjadi tanah konflik, di mana orang pendatang [orang Indonesia] di droup ke Papua dengan aneka cara oleh negara demi merebut bangsa Papua Barat. Dahulu di Papua yang hanya ada orang Papua, kini bukan saja dihuni orang Papua. Bahkan orang Papua menjadi minoritas di tanah sendiri. Tanah Papua sepenuhnya bukan lagi milik orang Papua.

Orang pendatang dengan gampangnya merampas tanah Papua dan merasa tidak berdosa dengan tindakannya. Orang pendatang membodohi orang Papua dengan aneka cara, bahkan dengan mengorbankan nyawa orang asli Papua, hingga kini orang Papua hampir punah di tanah sendiri.

Orang pendatang di Papua

Siapa itu orang pendatang Papua? Mereka adalah orang yang datang dari luar Papua, yang sebelumnya tidak memiliki hubungan darah dengan orang  Papua, dan tidak memiliki hak atas tanah Papua. Mereka yang datang hanya untuk mencari makan dan minum dengan aneka dalil yang membenarkan diri, namun berujung pada pemusnahan Orang Asli Papua [OAP].

Orang pendatang adalah mereka yang datang dengan alasan kesehatan, pendidikan, pemerintahan, bahkan agama untuk memperluas kolonialisasi terhadap orang Papua. Semua orang pendatang di Papua adalah penjajah. Alasannya, kehadiran dan keberadaan siapa pun orang pendatang adalah menurunkan ratio keberadaan OAP dalam ukuran perbandingan antara OAP dan orang pendatang.

Kedatang pendatang selain hanya karena kepentingan pribadi, yang paling sadis adalah dengan program transmigrasi. Negara Indonesia mengirim masyarakatnya ke Papua dan Negara merampas tanah papua. Negara sendiri melalui rakyat merampas tanah Papua. Tindakan ini baik Negara maupun orang pendatang merasa tidak berdosa atas manusia Papua, tanah Papua dan Tuhan Pencipta.

Merampas tanah Papua

Siapa yang merampas tanah Papua? Yang merampas tanah Papua adalah orang pendatang [Negara Indonesia]. Kedudukan Negara Indonesia atas tanah Papua adalah illegal. Orang pendatang di tanah Papua harus dipulangkan kembali. Kehadiran orang Pendatang di Papua dengan alasan apa pun adalah illegal, tidak lain hanya merampas tanah Papua. Perlu ditegaskan bahwa OAP akan hidup dan berkembang tanpa orang pendatang.

Pentingnya rasa berdosa

Orang pendatang masuk ke Papua dapat diibaratkan sebagai “pencuri” yang masuk di rumah orang untuk mencuri segala yang ada di rumah. Bahkan orang pendatang di Papua sama dengan pencuri paling jahat: membunuh tuan rumah, lalu semua yang ada di dalamnya, termasuk rumah dijadikan miliknya sendiri.

Tindakan pencurian, atau perampasan hak orang Papua ini, bagi orang pendatang adalah biasa-biasa dan bukan dosa. Hutan Papua dari Sorong hingga Merauke dirampas habis atas nama pembangunan dan demi manusia Papua.

Apakah perampasan tanah Papua, eksploitasi hutan Papua, transmigrasi besar-besaran ke Papua adalah demi manusia Papua? Logika ini sangat menjengkelkan. Sangat tidak masuk akal. Di mana atas nama pembangunan, manusia Papua dan tanah Papua dikorbankan. Dalam bahasa P. Dr. Neles K. Tebay Pr., “demi emas, mas Papua dikorbankan.”

Orang pendatang ke Papua tidak lain untuk merampas tanah Papua. Klaim orang pendatang ke Papua untuk mewartakan Injil adalah amat bertolak belakang karena OAP sendiri lebih mengetahui tentang Injil. Kelaim OAP ke Papua untuk mengajar amat bertentangan karena orang Papua tahu apa artinya Pengetahuan, termasuk pengetahuan adikorati.

Orang pendatang mengkalaim orang Papua tidak tahu menjaga kesehatan adalah sangat tidak masuk akal karena orang Papua dapat bertahan hidup bahkan lebih lama ketimbang orang pendatang masuk ke Papua.

Kehadiran orang pendatang di Papua tidak lain adalah merampas tanah Papua dan membunuh orang Papua. Orang Papua punya martabat yang sama dengan orang Pendatang. Karena itu, orang pendatang harus punya rasa berdosa dan meminta maaf kepada orang Papua. Orang pendatang harus menyucikan diri dengan pulang kembali ke kampung masing-masing. Yang paling sadis adalah sudah merampas tanah Papua, membangun jaringan setan untuk membunuh dan menghabiskan manusia Papua.

Allah memihak siapa?

Ketika orang Papua mengalami nasib yang malang, di mana hak-hak dasar diinjak, dirampas, bahkan hak untuk hidup, orang Papua bertanya: Allah berpihak siapa? Apakah Allah berpihak orang pendatang? Ataukah orang Papua? Kalau orang Papua kapan orang Papua merasakan hidup sebagai manusia, tanpa penindasan, penjajahan, sakit hati, ketakutan dan tenakanan? Allah di mana? Apakah Allah menciptakan manusia Papua untuk menjadi mangsa orang pendatang? Apa jawaban Allah atas semua ini? Ya, pasti manusia Papua telah salah.

Apa kesalahan orang asli Papua?

Beberapa kesalahan OAP Papua yang harus diperbaiki adalah:

Pertama, OAP gampang dipermainkan. Dalam hal apa orang gampang dipermainkan? Ialah OAP belum mampu menjadi diri sendiri. OAP merasa lebih senang tinggal dengan orang pendatang. OAP merasa kalau orang Pendatang pergi, masa depan OAP akan suram. OAP masih mau menggenggam orang pendatang. Orang Papua bergantung kepada orang pendatang.

Kedua, Orang Papua menjual tanah kepada orang pendatang. Orang pendatang merasa enak tinggal di Papua karena mempunyai tanah. Tanah Papua dijual sangat kecil, bahkan hanya dengan barang-barang bekas, seperti motor, mobil, dll. Keterikatan darah dan tanah sebagai “tanah tumpah darah” belum terbentuk. Orang Papua dan tanah Papua masih terpisah.

Ketiga, OAP belum memahami makna hidup lebih mendalam. OAP belum hidup secara lebih maksimal. Artinya, OAP lebih banyak bermain, main-main, termasuk mabuk, dll. OAP belum secara sadar mengatur hidupnya sendiri. Kekurang-sadaran dari orang Papua ini menjadi pintu masuk orang pendatang. Orang pendatang memanfaatkan kekurangan OAP. Di mana orang pendatang menjadi manusia super di Papua, sedangkan orang Papua menjadi manusia kelas dua.

Apa yang diperbuat sekarang?

Pertama, untuk orang pendatang, harus ada “rasa berdosa” atas kejahatan kemanusiaan di Papua. Perampasan tanah, penembakan dan pembunuhan terhadap OAP adalah dosa, yang harus ditanggung oleh NKRI dan juga masing-masing orang pendatang yang ada di Papua.

Kedua, OAP harus sadar bahwa dirinya berada dalam penjajahan Indonesia. Indonesia menjajah OAP dengan aneka cara. Salah satunya kedatangan orang pendatang ke Papua, siapa pun dia dan dengan alasan apa pun. Karena itu, OAP harus hidup lebih memahami tentang hidup. OAP jangan bergantung penuh pada orang pendatang. OAP mulai saat ini Stop Menjual Tanah.

*] Penulis adalah pemerhati sosial politik dan budaya di tanah Papua

 

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *