Anak panah dibawah oleh ribuan orang saat aksi di Deiyai

Nabire, [WAGADEI] – Mantan anggota DPRD Deiyai, Alfret Pakage mengatakan, ribuan orang yang datangi kantor Bupati Deiyai pada tanggal 28 Agutus 2019 untuk ikut aksi anti rasisme memegang anak panah dan busur.

Hal itu dikatakan Pakage saat menjadi saksi pada agenda sidang saksi meringankan terhadap enam terdakwa massa aksi anti rasisme Deiyai, yakni Alex Pakage, Stefanus Goo, Simon Petrus Ukago, Melianus Mote, Juven Pekei, dan Andreas Douw yang dikenai pasal 2 UU 12 tahun 1951 tentang kepemilikian senjata oleh jaksa penuntut umum [JPU].

Sidang ini dipimpin oleh hakim ketua, Erenst Jannes Ulaen, SH, MH dengan JPU, Arnolda Awom, SH, Kamis, [5/3/2020] di ruang sidang Pengadilan Negeri Nabire.

JPU, Arnolda Awom bertanya kepada saksi, apakah saksi melihat terdakwa membawa anak panah? Pakage mengatakan, tidak, karena ribuan orang membawa anak panah dan busur.

“Anak panah atau senjata tanaj itu dibawah oleh ribuan orang saat mau aksi. Saya saksi mata, saya anggota DPRD aktif saat itu. Ini semua terjadi depan saya. Saat itu kami tidak bisa tahu karena semuanya memiliki anak panah, apalagi anak panah ini budaya kita,” ujar Alfret Pakage.

Miliki anak panah, kata Pakage menunjukan laki-laki suku Mee adalah jantan.

Menurut dia, kepemilikan anak panah merupakan bagian dari budaya, faktanya sejak dulu sampai sekarang tidak pernah minta izin sama kepolisian untuk membawa oleh orang Mee.

“Mereka [terdakwa] ada di bagian timur, sementara kejadian itu ada di belakang kantor Bupati, ya bagian utara. Saya saksi, jadi terdakwa ini korban. Korban yang ditangkap ketika mereka merebahkan diri di halaman kantor Bupati,” ungkapnya.

Ia menegaskan, bukan hanya para terdakwa saja yang bawah, melainkan ribuan orang massa aksi turut bawah pula.

Jika JPU mempertahankan pasal yang dikenai kepada para terdakwa maka, lanjutnya, tangkap saja semua orang yang turut terlibat dalam aksi. “Karena semua orang itu bawah anak panah,” ucapnya.

Pengacara Hukum [PH] enam terdakwa, Emanuel Gobai mengatakan, saksi membuktikan bahwa semua dakwaan yang didakwakan itu tidak terbukti.

“Melalui keterangan saksi menunjukkan yang melakukan adalah orang lain, sedangkan ditahan adalah orang lain. Jadi mereka yang ditahan ini korban, akhirnya dikriminalisasi. Mereka tidak melukai dan membunuh tapi ditahan,” ujar Gobai.

Atas dasar tidak terbukti melakukan, Gobai menegaskan, para terdakwa merupakan korban dua kali. Maka pihaknya minta jaksa dan hakim segera bebaskan mereka tanpa syarat. [*]

Reporter: Abeth A. You

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares