Anak panah adalah atribut budaya, bukan alat perang

  • Bagikan

Nabire, [WAGADEI] – Ketua DPRD Kabupaten Deiyai, Petrus Badokapa yang hadir sebagai saksi utama pada sidang dengan agenda saksi meringankan bagi enam terdakwa kasus aksi anti rasisme Deiyai menegaskan, aanak panah harus dihargai sebagai atribut budaya orang Papua, khususnya suku Mee, bukan atribut untuk melakukan perang.

“Anak panah adalah atribut budaya, bukan atribut perang. Saya dengan tegas meminta semua komponen di negara ini harus menghargai atribut orang Papua yaitu anak panah sebagai atribut kebudayaan, bukan atribut perang untuk melawan orang lain”, ujar Petrus Badokapa di hadapan majelis hakim, jaksa penuntut umum [JPU], penasehat hukum, Kamis, [5/3/2020].

Hal itu dikatakan Petrus saat menjadi saksi pada agenda sidang saksi meringankan bersama Alfret Pakage, mantan anggota DPRD Deiyai terhadap enam terdakwa massa aksi anti rasisme Deiyai, yakni Alex Pakage, Stefanus Goo, Simon Petrus Ukago, Melianus Mote, Juven Pekei, dan Andreas Douw yang dikenai pasal 2 UU 12 tahun 1951 tentang kepemilikian senjata oleh JPU.

Badokapa juga meminta agar atribut anak panah ini jangan dipandang sebagai bentuk perlawanan kepada negara. “Budaya, adat istiadat ini Tuhan telah tetapkan sebelum agama dan negara masuk ke Papua. Hal ini Negara harus pahami secara kolektif,” ucapnya.

“Untuk itu negara harus menghargai atribut kebudayaan sebagai bentuk kehidupan manusia Papua di daerah. Kita tahu negara Indonesian punya banyak suku dan budaya yang Tuhan tetapkan masing-masing budaya di daerah, negara harus menghargai ini semua,” ungkapnya tegas.

“Jadi tidak elok jika anak panah dijadikan sebagai barang bukti untuk menjerat keenam terdakwa kasus anti rasisme ini. Sangat tidak elok seperti ini karena anak panah adalah simbol kejantanan suku Mee,” bebernya.

Saksi lainnya, Alfret Pakage, mantan anggota DPRD Deiyai mengatakan, ribuan orang yang datangi kantor Bupati Deiyai pada tanggal 28 Agutus 2019 untuk ikut aksi anti rasisme memegang anak panah dan busur.

“Jika jaksa mempertahankan pasal yang dikenai kepada para terdakwa maka, lanjutnya, tangkap saja semua orang yang turut terlibat dalam aksi. “Karena semua orang itu bawah anak panah,” kata Pakage. [*]

Reporter: Nomen Douw
Editor: Aweidabii Bazil

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *