TNI bukan guru yang lulus ujian sertifikasi

  • Bagikan

Oleh: Goo Egedy

 

PADA dasarnya pendidikan dipahami sebagai proses menjadi. Pendidikan sebagai satu upaya pemanusiaan manusia. Pendidikan diperoleh di mana saja dan kapan saja. Pendidik (guru) andil dalam proses pendidikan untuk mendidik murid sebagai peserta didik.  Profesionalitas sebagai guru berperan penting dalam memanusiakan manusia, bukan guru gadungan atau guru paksaan. Militer menjadi guru di sekolah Papua dapat dipertanyakan, sekaligus dinilai sebagai pembunuhan karakter. Mengapa demikian? Pertanyaan ini menjadi dasar mengulas topik ini.

Tentara Republik Indonesia [TNI]

Tentara dari fungsinya Sebagai penjaga keamanan. Tentara adalah keamanan. Tentara bertugas untuk mengamankan. Tentara dilatih untuk menjaga keamanan negara. Mereka menjaga negara dari serangan negara lain. Tentara diperlengkapi senjata untuk melawan serangan musuh negara lain. Dengan dinas kemiliteran, tentara mengejawantahkan diri sebagai pribadi “pahlawan”, ada untuk mempertaruhkan nyawa demi bangsa dan negara. Tentara ada untuk menghadapi musuh, menjaga keamanan dan bahkan menembak mati jika mengganggu keamanan. Maka, secara kasar tentara sering diidentikkan dengan pembunuh atau penembak musuh. Tentara selalu berhadapan atau diperhadapkan dengan musuh.

Mengajar

Mengajar searti dengan mendidik. Namun mendidik memunyai arti yang lebih dalam. Mengajar hanya sebatas melaksanakan tugas, atau sebagai menjalankan formalitas, sedangkan mendidik melibatkan perasaan batin, berkorban untuk kemanusiaan.

Mengajar juga berati memberitakan atau memberitahukan sesuatu kepada yang lain supaya mengetahuinya. Mengajar di sekolah sasaran utama adalah kepada para murid. Tugas mengajar diemban oleh pengajar, yakni guru. Guru adalah benteng pertahanan pertama dan utama di sekolah. Karena itu perlu dihidupkan motto utama Ki Hajar Dewantoro, “sekolah ada di mana-mana dan guru ada di setiap sekolah.”

Anak Murid

Murid adalah peserta didik yang sedang menempuh pendidikan di sekolah. Mereka diajar oleh guru agar kedepannya menjadi pribadi yang berpotensi. Para murid mempunyai kemampuan khusus dan didampingi oleh mereka yang berprofesi guru untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

Anak murid adalah manusia yang memiliki unsur tubuh dan jiwa. Mereka dapat berpikir dan melaksanakan sesuatu, menilai sesuatu dan merumuskan sesuatu berdasarkan pengalaman indrawi, juga melalui intuisi-intuisi. Para murid mendefinisikan para pengajar, menilai guru yang baik dan tidak baik, guru yang kejam dan tidak kejam, guru yang sebenarnya dan tidak sebenarnya. Murid juga menunjukkan ekspresi bersahabat kepada guru yang baik, dan ekspresi buruk kepada guru yang kasar. Murid selalu menghindari guru yang tidak disenangi, guru yang menakutkan, sebaliknya menyukai guru yang baik dan rendah hati. Mereka yang berprofesi guru mempunyai cara-cara mengajarkan anak murid sehingga anak murid sampai ke cita-cita yang diinginkan, sedangkan yang bukan berprofesi guru selalu mengandai-andai bahkan diarahkannya secara salah hingga anak murid sering menuai kebuntutan.

TNI mengajar di sekolah Papua

Dalam media-media sering disaharekan dan ditemukan TNI mengajar di beberapa sekolah di Papua, terlebih di perbatasan-perbatasan. TNI masuk mengajar anak-anak Papua dengan mengenakan pakaian kemiliteran. TNI hadir dengan gagah perkasa di depan anak sekolah agar mereka mendapat pengajaran.

Pertanyaannya apakah TNI mengajar di sekolah Papua merupakan tindakan yang tepat? Di sini ada dua jawaban, yakni YA dan TIDAK.

Pertama, TNI mengajar di sekolah Papua merupakan tindakan tepat karena di sekolah Papua sering kekurangan guru dan guru-guru hampir jarang mengajar. Bahkan mendirikan banyak sekolah tanpa mempertimbangkan tenaga pengajar.

Kedua, TNI mengajar di sekolah Papua merupakan tindakan tidak tepat karena tentara bertugas di medan perang, menjaga keamanan bukan mengajar. Sering melalui kehadiran tentara di sekolah membuat kondisi sekolah menjadi panik dan membuat anak murid tidak fokus untuk belajar. Di mana dengan tertanamnya pandangan orang Papua TNI adalah musuh orang Papua atau pembunuh orang Papua, tentara sebaiknya menghindari kehadiran di sekolah, apalagi mengajar dalam kelas. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Profinsi Papua harus berpikir untuk memperbanyak guru di Papua termasuk di pelosok-pelosok, dan berhenti mengizinkan TNI mengajar di sekolah Papua, karena profesinya berbeda, bahkan bertentangan.

 

*) Penulis adalah salah seorang pemerhati pendidikan di Papua

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *