Dari karyawan PT Freeport Indonesia ke politik untuk perjuangkan hak masyarakat

Nabire, [WAGADEI] – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD merupakan penyambung lidah atau menjadi jembatan rakyat.

Oleh karenanya, demi memperjuangkan hak masyarakat di Kabupaten Nabire, Papua, Amandus Aweida Pigai, lelaki berumur 26 tahun ini bertekad dan meluruskan niat untuk hijrah dari pegawai swasta atau karyawan PT. Freeport Indonsia [PTFI] ke dunia politik pada pertengahan tahun 2018 lalu.

Perjuangan itu semakin dikuatkan dengan ikut menjadi calon anggota legislatif [caleg] di Kabupaten Nabire yang penduduknya majemuk pada pemilihan legislatif [Pileg] tahun 2019.

Setiap keinginan harus ada perjuangan. Itu yang selalu digaungkan Amandus Pigai putra asli suku Mee kelahiran Nabire, 6 Juni 1992 yang kini telah menjadi anggota DPRD Kabupaten Nabire periode 2019-2024 sebagai bentuk penguat tekadnya untuk memperjuangkan hak masyarakat Nabire pada umumnya, serta masyarakat di daerah pemilihannya yakni Nabire Kota.

Kepada jurnalis wagadei.com, kader Partai Garuda ini menceritakan, awal mulanya terjun ke dunia politik dan terpilih menjadi anggota DPRD Nabire pada tahun 2019 dari daerah pemilihan (dapil) 1, Distrik Nabire Kota.

Di situ, anak kelima dari Saferius Pigai dan Agatha Youw ini mengaku bertekad untuk bisa membantu masyarakatnya. Sebab, Nabire merupakan kota besar bagi empat kabupaten lainnya di wilayah pegunungan yakni Dogiyai, Deiyai, Paniai, dan Intan Jaya, juga penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar.

Anggota DPRD Nabire, Amandus Aweida Pigai

 

“Saya sudah melihat tiga persoalan sangat besar yaitu masalah sampah, anak-anak aibon, anak putus sekolah, dan pembangunan asrama mahasiswa di setiap kota studi. Selain itu saya lihat sumber daya alam [SDA] yang melimpah. Jadi saya hijrah dari swasta ke politik itu semata-mata dengan tujuan untuk bisa membantu masyarakat Nabire dengan cara masuk di pemerintahan,” ujar alumnus Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga tahun 2014 dari program studi Informatika ini di ruang kerjanya, Selasa, [11/2/2020].

Pigai yang pernah bekerja di Departemen Central Shop sebagai karyawan permanen bagian Assembly Drawing PT FI ini mengaku, dengan melihat kondisi maraknya pembuangan sampah ini akan dorong Pemerintah Kabupaten [Pemkab] setempat membuat tempat pembungan akhir [TPA] yang permanen.

“Kalau untuk anak-anak aibon dan putus sekolah ini saya akan kerja sama dengan beberapa komunitas kemanusiaan di Nabire atau juga dengan Puskesmas dan masing-masing kelurahan supaya kita pastikan berapa jumlah sebenarnya. Lalu hasilnya berikan ke Pemda melalui instansi terkait supaya mereka bisa hidup dengan baik,” ungkap lulusan SD Negeri Karang Tumaritis tahun 2003 ini.

Menurut alumni SMK Negeri 1 Nabire jurusan teknik komputer dan jaringan ini, DPRD adalah kolektif kolegial. Dengan dipercayakan untuk menjadi anggota legislatif ia mengaku memprioritaskan agar bagaimana caranya bisa mengutamakan hal-hal penting. Utamanya yang menyangkut soal aspirasi masyarakat.

Namun ia menerangkan, untuk wujudkan kepentingan rakyat membutuhkan kerjasama semua pihak, terutama eksektif dan legislatif. “Di sini juga harus ada sinergitas antara legislatif dan eksekutif untuk menyikapinya,” ucapnya.

“Di Nabire ini terdiri atas empat dapil ini harus dibangun secara bersama-sama, juga harus atas dasar dukungan dari masyarakat. Dalam hal ini, legislatif turun menyerap aspirasi masyarakat dan lanjut membahas serta memasukkannya dalam pokok-pokok pikiran dewan,” kata peraih 751 suara ini.

Lebih lanjut dikatakan, pokok-pokok pikiran dewan itu yang diperjuangkan untuk dapat diakomodir oleh eksekutif dengan cara didanai melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah [APBD] maupun diperjuangkan untuk mendapatkan support pembiayaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara [APBN].

Sedangkan untuk di internal kedewanan, ia mengatakan, fokus utama saat ini menyelesaikan tata tertib dan kode etik DPRD. Selanjutnya penyusunan Alat Kelengkapan Dewan (AKD) setelah pimpinan definitif dilantik.

Pihaknya akan terus berupaya untuk berjuang bersama-sama dengan semua pihak untuk memperjuangkan pemerataan pembangunan di kota emas ini [julukan NABIRE]. Mulai dari perkotaan hingga ke perbatasan dan pedalaman.

“Yang jelas, tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan, dan tidak ada usaha yang dikhianati oleh hasil. Artinya, jika kita berusaha secara maksimal, hasilnya pasti akan maksimal juga,” tegasnya.

Saat kampanye lalu, ia mengaku tak banyak yang dijanjikan kepada masyarakat, hanyalah jika diberikan suara ketika menjabat sebagai wakil rakyat akan melanjutkan amanah rakyat.

Ia menambahkan, masyarakat telah mengorbankan suaranya untuk memilih orang yang dipercayanya sebagai wakil di pemerintahan.  Maka, pengorbanan masyarakat itu harus dihargai dengan memperjuangkan hak mereka.

“Bukan sebaliknya dengan mengabaikan mereka setelah kita duduk di kursi DPRD ini. Ini anehkan, mereka sudah dukung kami, dan kami perjuangankan keinginan mereka,” pungkasnya. [*]

Reporter: Abeth A. You
Editor: –

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares