Wartawan, dibutuhkan sekaligus dibenci

  • Bagikan

Oleh: Aweidabii Bazil

WARTAWAN bukan untuk ditakuti. Wartawan bukan untuk dibasmi. Wartawan penentu masa depan sebuah negara. Wartawan mutlak diperlukan dalam mendorong kemajuan sebuah bangsa serta menjaga pertahanan dan keamanan negara.

Wartawan merupakan orang yang pekerjaannya mencari, mengumpulkan, memilih, mengolah berita dan menyajikan secepatnya kepada masyarakat luas melalui media massa, baik yang tercetak maupun elektronik.

Walaupun demikian, hingga saat ini sebagian orang menilai menjadi wartawan atau jurnalis tidaklah penting. Sebagian pula menghindar dan membenci wartawan. Bahkan, ada yang memenjarakan wartawan dengan berbagai alibi. Namun, ada yang sangat membutuhkan wartawan, yaitu orang-orang yang memiliki pola pikir profesional dan mengetahui persis tentang tugas jurnalis. Jurnalis sebagai pekerja kontrol sosial, justru ada resiko besar dalam melaksanakan kewajiban sebagai insan pers.

Wartawan orang bebas. Dia bebas menulis apa yang ia lihat dan dengar berdasarkan hati nurani, namun tidak terlepas dari kode etik dan UU Pers. Meskipun wartawan dilindungi UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers, tetapi masih saja ada yang sengaja membungkam atau mencekal wartawan dalam menjalankan fungsinya dengan berbagai pasal yang tidak sesuai UU Pers yang ada.

Seorang wartawan tidak memiliki kategori status sosial yang pasti. Pagi ia bisa cerita dengan abang becak, siang dia bisa makan bersama para pejabat, sore bisa bincang-bincang dengan pemuka agama, dan malam dia juga bisa berada di café ataupun di tempat keramaian.

Wartawan setiap hari menyapa publik dengan informasi. Tak peduli apakah informasi yang disajikan itu diapresiasi atau dicaci. Semuanya semata untuk memenuhi kewajibannya terhadap publik. Wartawan memberikan informasi berdasarkan kebenaran yang diyakininya benar dan hasil check and recheck. Terkadang risiko kehilangan nyawa tanpa ia sadari mengancam diri dan keluarganya.

Wartawan tidak ada istilah libur meskipun tanggal merah. Sekalipun di hari raya nasional dan keagamaan, mereka tetap bertugas memburu berita. Bahkan, secara seloroh, pada saat datangnya kiamatpun, wartawan tetap bekerja memberitakan tentang peristiwa kiamat yang sedang berlangsung.

Demi tugas sebagai agen sosial control dan untuk menyajikan berita bagi masyarakat, seorang wartan akan terus bekerja tanpa henti, tanpa jedah. Informasi tentang kondisi dan perkembangan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan masyarakat. Termasuk berbagai kejadian, persitiwa dan fenomena di tempat lainnya di setiap sudut negeri, dunia dan alam semesta ini.

Sungguh sebuah profesi yang amat agung, dimana seorang wartawan berperan besar dalam seluruh aspek kehidupan. Sejarah mencatat, kemerdekaan Indonesia dikumandangkan ke seantero dunia melalui media oleh para wartawan.

Begitu penting peran wartawan dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, namun mengapa kini wartawan banyak dipenjarakan dengan cara-cara yang sangat bertentangan dengan UU Pers, UU KIP, dan UU HAM.

Wartawan tak perlu dibungkam, wartawan tak perlu dipidana, wartawan itu hanya butuh dibina dan diawasi secara profesional. Jadikan UU Pers sebagai satu-satunya alat mengontrol, mengawasi, dan mengembangkan kebebasan pers di negeri ini.

Penulis sangat berharap kepada para pejabat di seluruh instansi, baik pemerintah maupun swasta agar memberi ruang kepada wartawan untuk menjalankan tugasnya. Jangan merasa alergi dan takut kepada wartawan, apalagi membencinya. Wartawan mengemban tugas sosial control bangsa, bahkan dunia.

Sebagai wartawan dan juga editor yunior di Papua, tentunya sangat memperhatikan apa yang menjadi kendala para wartawan di lapangan.

***

Wartawan itu representasi dari masyarakat

Menghalangi tugas wartawan sebagai pekerja kuli tinta oleh pejabat publik khususnya dan masyarakat pemangku kepentingan lainnya itu merupakan sikap yang tidak terpuji dalam esensinya dengan fungsi Pers dan patut dipertanyakan karena keadaan tersebut tidak mendapat tempat yang tepat pada era reformasi dan keterbukaan public.

Melarang dan menghalangi kegiatan jurnalistik oleh para jurnalis itu salah. Memang pekerjaan sebagai wartawan yang hanya dijuluki “Kuli Tinta” masih sering tidak mendapat tempat yang istimewa jika dibandingkan dengan posisi para pejabat teras dalam satu wilayah territorial pemerintahan namun jangan lupa bahwa tugas dan pekerjaan seorang Wartawan itu representasi dari masyarakat.

Tugas seorang wartawan dalam mencari berita dan informasi yang benar, akurat dan dapat dipercaya kebenarannya oleh pembaca masih banyak kalangan pejabat yang tidak memahami manfaatnya sehingga lebih berkecenderungan menolak dan tidak mau menerima serta memberi informasi yang benar kepada wartawan.

Kondisi ini tentu menimbulkan tanda tanya dibalik sikap sikap tertutup seperti ini apa lagi sudah sampai pada melarangan serta seakan membuat aturan sendiri untuk menghalangi wartawan melakukan peliputan dan mewawancarai nara sumber yang nota bene adalah pejabat publik dan pemangku kepentingan.

Ini ada apa dibalik larangan dan penolakan hingga membuat aturan main sendiri pada hal Undang undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers itu telah jelas dan terang benderang.

Undang undang tentang Pers dan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik itu jelas isinya. Keterbukaan informasi publik merupakan sarana dalam mengoptimalkan pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan badan publik lainnya, dan segala sesuatu yang berakibat pada kepentingan publik karenanya jika ada pejabat yang melarang dan menentukan banyak aturan bagi kegiatan wartawan itu patut dipertanyaakan.

Jika seorang pejabat ataupun instansi melarang wartawan tanpa dasar hukum dan alasan yang jelas, merupakan tindakan yang berlebihan. Oleh karena itu harus dilihat bahwa wartawan itu merupakan representasi dari masyarakat.

Bukankah wartawan merupakan sumber informasi bagi masyarakat, jadi ketika wartawan melaksanakan tugasnya, sesungguhnya sebuah representasi publik supaya masyarakat dapat mengetahui peristiwa apapun di seluruh wilayah Indonesia. Terkecuali menyangkut keamanan bagi wartawan itu sendiri. [*]

*) Penulis adalah editor di wagadei.com, tinggal di Kota Jayapura, Papua

 

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *