103 personil TNI tiba di distrik Aradide Paniai, 100 orang TNI di Obano, masyarakat kaget

Paniai, [WAGADEI] – Pasukan TNI dikabarkan telah didrop di distrik Aradide, Kabupaten Paniai melalui jalur darat dari Enarotali melalui kampung Dagouto, distrik Wege Bimo hingga masuk Distrik Topiyai lewat hingga tiba pelabuhan pasir putih, distrik Aradide.

Kepala Distrik Aradide, Oktopianus Yogi kepada wagadei.com mengatakan bahwa sejak kedatangan TNI pada Senin, [20/1/2020] tanpa ada surat pemberitahuan sehingga menimbulkan ketakuan bagi warganya.

Ia mempertanyakan apa tujuan mereka datang distrik Aradide? Bahkan ia mendapati tujuannya kurang jelas (KJ).

“Maka itu atas nama masyarakat, saya kepala distrik Aradide kelompok TNI yang berjumlah 103 itu harus tarik kembalikan karena tujuan mereka tidak jelas,” ujar Oktopianus Yogi, Kamis, [23/1/2020].

Melihat TNI banyak, Yogi mengatakan, warganya semakin ketakutan bahkan tak bisa beraktivitas. “Masyarakatku semakin takut.Kalau mau datang harus ada surat pemberitahuan, atau setelah datang mestinya kami tahu apa tujuan mereka datang,” ucapnya.

Ketua Dewan Adat Daerah [DAD] Paniai, John NR.Gobai mengatakan, dirinya telah mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa tanggal 20 Januari 2020 jam 08.15, 103 personil TNI yang bermalam di Daabutu , Desa Kopabutu, Distrik  Wegemino  meninggalkan  Daabutu melanjutkan perjalanan  menuju ke bagian Toyaimuti, Komopa, Distrik Aradide.

“Saya juga mendapatkan laporan  100 personil ditempatkan di Obano, distrik Paniai Barat. Saya mendapat laporan rencana pada tanggal 18 Januari 2020 didrop juga pasukan ke Homeyo, kabupaten Intan Jaya,” ujar John.

Pendropan pasukan ini menyusul pendropan yang terjadi sejak tanggal 16 Desember 2019 di Sugapa dan serta terjadinya kontak senjata di Hitadipa, Ugimba dan beberapa kampung di Sugapa, Intan Jaya.

Sebagai Pimpinan Dewan Adat setempat, ia mohon klarifikasi dalam rangka apa ditempatkan pasukan di Paniai dan Homeyo yang selama ini aman, mengapa harus ada penempatan pasukan dalam jumlah besar di sana?.

“Perlu saya sampaikan bahwa selama ini masyarakat biasanya takut dan trauma ketika melihat aparat keamanan, apalagi dengan senjata lengkap. Saya harap aparat kemanan dapat memahami kondisi psikologis masyarakat di sana, saya juga meminta agar aparat tidak menerima negatif kepada masyarakat akibat doktrin yang keliru terhadap orang asli Papua,” ungkapnya.

Yan Muyapa, tokoh masyarakat Aradide mengatakan, dengan adanya bersenjata lengkap masyarat sipil makin takut dan trauma.

“Sangat keliru arah tujuan mereka, kami tidak tahu juga kami kaget,” ujarnya. [*]

Pewarta: Enaakidabii Carvalho
Editor: Aweidabii Bazil

1,543 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares