Miris! Di Nabire mama Papua jualan depan toko

Nabire, [WAGADEI] –  Hari Rabu pagi, [27/11/2019] situasi di sekitar Pasar SP 1, kampung Bumi Raya, Distik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua begitu kondusif seperti biasa. Mama Papua dengan begitu beratnya turun dari atas ojek dengan beberapa noken berukuran besar, di dalamnya berisi daun singkong dan ubi.

Turunkan barang jualan dari ojek, mama Papua itu menuju ke emperan toko milik non orang asli Papua [migran] untuk berjualan di depan toko hingga sore menumbus malam.

Mama gegas mempersiapkan sayur dan ubi lalu hendak meletakkannya depan toko baju milik pedagang migran. Hampir semua mama Papua  berjualan di atas kerikir batu dengan modal pengalas bekas karung dan karton.

Lain tempat, mama Papua dengan penuh harapan hidupnya duduk di pondok pinang samping jalan masuk Pasar SP 1 sambil komar-kamir pinang di mulutnya masih menjaga tumpukan pinang yang dijualnya. Mama-mama ini menjual pinang dari pagi hingga pukul 17.00 WP.

“Dari rumah anak, bayar onggkos ojek Rp 10 ribu. Jadi, satu hari habis dua puluh ribu untuk transportasi. Kalau jualan laku, satu hari bisa dapat uang rp. 100 ribu lebih. Tapi jarang karena sekarang sudah banyak penjualnya.Tapi syukurlah bisa beli kebutuhan dapur,” cerita mama Gobay pada wartawan wagadei.com.

Menurut dia, sudah tidak ada tempat lagi untuk jualan bagi mereka. Pilihan satu-satunya adalah di emperen toko itu. “Mau jual di mana lagi anak. Tempat sudah penuh semua, selain harus berjualan depan los baju ini,” ucapnya.

“Tempat ini tidak bayar, saya jualan saja,” ceritanya lanjut.

Di samping jalan masuk tempat jualan mama itu, warga sedang ramai bermain toto gelap togel]. Terlihat juga mama Papua asal pesisir duduk di pondok sambil berdiri merapikan pinang untuk dijualnya.

Mama Rumbing, seorang penjual pinang mengatakan, dirinya berjualan bermodalkan simpan pinjam untuk kebutuhan keluarga.

“Saya jualan dengan modal simpan pinjam dari koperasi. Setiap hari saya bayar uang Rp 25 ribu. Pengasilan dari saya jualan pinang ini bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Sangat membantu,” ujar mama Rumbing.

Pasa ini adalah pasar tradisional yang mejemuk. Dari pantauan wartawan wagadei.com diperkirakan sekitar 10 mama Papua berjualan depan toko. Mereka berasal dari Dani, Moni, Mee dan beberapa mama Papua dari pantai.

Herman, pemilik toko pakaian yang diizinkan jualan mengaku prihatin atas kondisi yang ditimpa warga asli Papua ini sehingga ia mengizinkan tetap jualan.

“Kita mau bilang mereka jangan jualan depan toko bagaimana,sudah tidak ada tempat untuk mereka berjualan lagi. Apalagi kasihan kalau siang hari, panasnya minta ampun. Mereka tidak bayar saya tapi saya yang banyar pajaknya,tapi itu tidak apa-apa,” kata Herman.

Karena belas kasihan, ia menyarakan alangkah baiknya Pemerintah setempat melalui dinas terkait harus sediakan tempat layak bagi pedagang lokal asli Papua itu.

“Lebih bagus ada tempat baru dibagun dari dinas terkait untuk mereka [mama-mama] ini. Kasihan menjualnya harus depan toko, dan sering kena panas. Kasihan mama ini,” ujarnya. [*]

Pewarta: Nomen Douw
Editor: Aweidabii Bazil

367 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares