Sakit lambung lalu pingsang, Bernard Agapa meninggal dunia di RS St Carolus Jakarta

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Bernard Paskalis Agapa, salah satu pendiri National Papua Solidarity (NAPAS) menghebuskan nafas terkahir di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta, Sabtu, (23/11/2019) dini hari. Kematian itu setelah menjerit kesakitan pada lambung hanya 15 menit saja.

Elias Petege, salah satu rekan almarhum mengatakan, sejak malam sejumlah aktivis melakukan pertemuan di kantor LBH Jakarta, Jl. Pangeran Diponegoro, Menteng, Kota Jakarta Pusat selanjutnya makam malam pada oukul 03.00 WIB. Selanjutnya Agapa bersama salah satu temannya pulang ke rumah.

“Dalam perjalan itu dia (Bernard Agapa) mengaku sakit lambung, lalu pingsang. Lalu teman yang sama-sama itu membawahnya ke Rumah Sakit Carolus. Setibanya di sana diinfus lalu diperiksa, kata pihak medis ada penyumbatan jantung. Lalu meninggal,” ujar Elias Petege, Sabtu, (23/11/2019) melalui selularnya dilansir jubi.co.id.

Menurut Petege, pihaknya belum mendapatkan informasi resmi dari pihak RS tersebut namun istrinya mendiang  mengaku selama ini lelaki alumni Fakultas Ilmu Hukum di Universitas Kristen Indonesia ini belum pernah ada riwayat sakit lambung.

“Belum ada info dari petugas kesehatan, nanti kami infokan lagi. Tapi pengakuan istri almarhum selama ini tidak ada riwayat sakit lambung,” ucapnya.

Alex Agapa, salah satu saudara almarhum mengatakan, berhubung ruang jenasah di RS Carolus sedang direnovasi maka pihaknya memindahkan jenasah di rumah duka PGI Cikini.

“Nanti malam kami berangkatkan mayat dari Jakarta menuju Nabire. Palingan besok siang tiba di sana (Nabire),” kata Alex.

***

Nama lengkap mendiang adalah Bernard Paskalis Agapa, putra pertama dari Yustinus Agapa dan mama Pigome ,keduanya pengajar di SD YPPK Idakebo, Distrik Kamuu Utara, Kabupaten Dogiyai.

Almarhum tamat SD YPPK Idakebo tahun 2001,selanjutnya SMP YPPK St, Fransiskus Assis Eppouti di Moanemani Tahun 2004, dan masuk SMA Taruna bakti 2004-2006, kemudian satu tahun terkahir pindah ke salah satu SMA di Jakarta, tamat 2007.

Tahun 2008, masuk Fakultas Ilmu Hukum pada Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta lalu tamat 2014. Ia cuti dua tahun cuti lantaran aktif di organisasi di luar kampus. Sejak 2009 sapai 2011, Agapa menjabat ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) komite Kota Jakarta, melalui AMP aktif memperjuangkan hak-hak asasi rakyat Papua, merespon isu-isu aktual di tanah Papua.

Kemudian tahun 2013, ia bersama beberapa aktivis di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Jakarta mendirikan Nasional Papua Solidarity (NAPAS). Melalui NAPAS juga ia ikut mengadvokasi isu-isu Papua terutama soal HAM dan Pelanggaran HAM,terurama kasus pembungkaman ruang kebebasan berekspresi di Papua, kasus kematian ratus orang di Kwor Tambrauw, dan juga mengadvokasi Tapol Papua, isu kekerasan terhadap perempuan Papua dan kekerasan negara di tanah Papua.

Kemudian sejak tahun 2014 ia bergabung dengan KontraS Jakarta pada Komisi Pemantau ia fokus khusus isu Tapol Papua dan HAM di Tanah Papua. Sejak 2016, ia bergabung bersama Yayasan Pustaka, LSM yang fokus mengadvokasi isu-isu lingkungan, masyarakat adat di tanah Papua.

Terakhir Elias Petege mengatakan, dua minggu lalu, ia bersama eman-temannya di Yayasan Pusaka mendampingi masyarakat adat Tanah Papua terutama korban investasi sawit mendatangi beberapa lembaga negara dan kementerian.

“Di situ mereka untuk menyampaikan aspirasi, memprotes dan juga meminta untuk meninjau kembali kebijakan pemerintah pusat yang merugikan hak-hak masyarakat adat di Boven Digoel, Merauke, Keerom, Mimika, Wondama, Tambrauw, dan Sorong Selatan. [*]

Pewarta: Abeth A. You

Editor: –

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *