Guru SD Negeri Siriwo; Pagi mengajar, sore melatih sepak bola

Nabire, [WAGADEI] – Menjadi guru tidaklah muda, tidka juga sekedar berkata-kata saja. Suatu daerah berubah menjadi yang kuat, atau menjadi lemah sekalipun dan pada akhinya krisis hingga bubar adalah juga karena pendidikannya yang tidak efektif.

Sehingga, tentulah guru menjadi tolak ukur kemajuan suatu daerah. Guru sangatlah penting dan harus diperhatikan.

Guru harus punya komitmen teguh dan memiliki kesabaran yang besar. Seperti dua guru di SD Negeri Siriwo, kampung Unipo, Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, Papua yakni Pithein Mamoribo dan Frans Kayame.

Mereka dua adalah lulusan terbaik dari PGSD Universitas Cenderawasih [Uncen] Jayapura. Dua guru ini menjadi contoh bagi banyak guru yang pergi bertugas, namun lupa pada sebagian pekerjaan penting yang berkaitan dengan pendidikan.

Di pagi hari seperti biasa sebagaimana tugas seorang guru harus mengajar. Pagi pukul 07.00 WP, masuk sekolah dan pulang pukul 12.00 WP. Selanjutnya, sore bertemu di anak-anak sekolah di halaman sekolah itu untuk berlatih permainan bola yang baik. Cara inilah yang dilakukan oleh kedua guru kontrak yang ditugaskan Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire.

Pithein Mamoribo saat memberikan arahan kepada murid-muridnya setelah menerima bantuan bola dari Komunitas Mee Yokaa – Nomen Douw/wagadei

“Pagi masuk sekolah seperti biasa, jam 07.00 dan pulang jam 12.00 siang. Hampir pulang sekolah itu kami dua beritahu ke anak-anak supaya sore hari kembali ke sekolah untuk berlatih [main] bola dan mereka semua datang. Anak-anak perempuan maupun laki-laki,” cerita Frans Kayame kepada wagadei.com, Rabu, [13/11/2019] di rumah perumahan guru kilo meter 100.

Dirinya telah mengajar di SD Negeri Siriwo ini sudah lebih dari satu tahun, namun awalnya hanya hanya mengajar. Hampir tiap hari dirinya bersama rekannya tiap sore anak-anak main bola dengan bola yang tidak layak bahkan ramai.

“Awalnya kami dua hanya mengajar saja, tapi tiap sore anak-anak ramai main bola. Ya bolanya tidak layak. Kami dua ikut bermain bersama-sama anak-anak,” sambungnya.

Anak-anak SD Negeri Siriwo dengan bola seadanya sebelum ada bantuan bola – Nomen Douw/wagadei

Pithein Mamoribo mengakui, setelah mereka berdua melihat ramainya anak-anak asal Kampung Unipo itu, akhinya melalui interaksi antara kedua guru bersama Komunitas Mee Yokaa yang peduli sepak bola sudah menurunkan beberapa bola pada Kamis, [7/11/2019].

“Untuk proses latihan kami dua bagi tugas, saya kalau kasih latihan anak-anak perempuan nanti kawan Frans yang tangani laki-laki. Begitupun sebaliknya. Hanya hari minggu yang libur, hari lainya tetap pagi proses belajar mengajar dan sore latihan bola,” kata Pithein Mamoribo.

“Kami baru ada bola baru dibantu oleh Komunitas Mee Yokaa yang peduli sepak bola. Kami dua waktu itu curhat keadaan tentang anak-anak main bola di sini baru komunitas ini datang bawa bola minggu kemarin,” kata dia.

Ia mengaku, anak-anak banyak yang datang latihan tidak pakai sepatu bola, juga ada dari anak-anak SMP juga datang ikut latihan dan bermain bersama.

“Pokonya begitu sudah, pagi mengajar dan sore melatih sepak bola,” bebernya. [*]

Pewarta: Nomen Douw
Editor: Aweidabii Bazil

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares