Sejam bersama ‘Suster’ Paola Pakage, SE

“Suster maju Caleg sudah. Biar suster bangun kami punya rumah singgah. Kami mau ebamukai’ untuk suster,” kata salah satu pasien ODHA saat itu.

Nabire [WAGADEI] – Pagi itu, Senin, [21/10/2019] kota Nabire mendung. Warga kawasan komplek perumahan rakyat [KPR] dalam kelurahan Siriwini, Nabire jalankan aktivitas seperti biasa. Ada sejumlah anak-anak muda sedang duduk santai di pinggir jalan besar, depan rumahnya bapak Ogetai.

“Begini sudah, kami sering duduk diskusi dan lakukan sejumlah kegiatan disini dengan para pemuda yang orang sebut anak-anak jalanan dan anak-anak Aibon. Disini kami sering kumpul,” kata Paola Pakage sambut wartawan wagadei.com.

‘Suster Paola’ begitu biasa disapa sama para pasien yang selama ini ia dampingi. Perempuan dengan gelar Sarjana Ekonomi [SE] ini telah disematkan nama depan dengan ‘Suster’ entah mulai kapan, bahkan ia sendiri tak tahu.

‘Suster’ Paola Pakage merupakan seorang ibu rumah tangga dengan memiliki delapan orang anak ini sudah menjadi pendamping ODHA sejak belasan tahun lalu di bumi teluk Cendrawasih, Nabire.

Hari itu, ia bersama dua sejumlah anggota lainnya sedang duduk santai sambil diskusi tentang ketidakpedulian pemerintah melalui dinas kesehatan dan Puskesmas terhadap warga Nabire.

“Hari ini, sebenarnya kami lakukan sosialisasi dan pemeriksaan darah kepada warga disini (Kompleks KPR Dalam) secara suka rela. Tapi, hari ini kami batalkan karena tidak ada reagen pada kami,” katanya sendu

Reagen adalah salah bahan yang biasa dipakai dalam melakukan pemeriksaan darah oleh para medis.

Padahal, beberapa hari sebelumnya ia sudah sampaikan kepada Puskesmas Siriwini tentang rencananya itu. Namun, pada saat mau lakukan, stok reagen itu telah.

“Tanpa reagan, pemeriksaan tidak bisa dilakukan. Karna, barang itu sangat dibutuhkan dalam lakukan pemeriksaan,” ujarnya.

Tentang kehabisan stok reagen, sudah sering terjadi. Hal ini, sangat disayangkan. Mestinya tidak boleh terjadi. Karena, hal itu merupakan dasar.

Paola Pakage SE, salah satu perempuan suku Mee yang sedang jalankan visi besar di Nabire. Berbekal dengan ilmu yang telah didapati di tempat kerja di salah satu lembaga swadaya masyarakat [LSM] bidang penanganan HIVPendamping  Orang dengan HIV [ODHA] Primary dan lanjut kerja di Klinik St. Rafael Bukit Meriam jadi pendamping ODHA lagi. Tapi beberapa tahun kemudian keluar lagi lalu dipanggil jadi Konselor dan pendamping ODHA di Rumah Sakit Umum Siriwini yang hingga kini masih aktif bekerja ini.

Pengalaman kerja yang sudah ada di tiga tempat kerja ini menjadi motivasi tersendiri untuk bisa kerja lepas dan independen bersama sejumlah anak-anak muda yang mau libatkan diri. Mereka bekerja tanpa ada bantuan dari pihak mana pun secara suka rela.

Perempuan berperwakan hitam manis asal kampung Bomou Kabupaten Deiyai  telah bekerja sejak lama. Ia bekerja sangat bertolak belakang dengan pendidikan yang pernah ia sandang gelarnya sebagai Sarjana Ekonomi

“Saya bekerja dunia kesehatan ini sangat bertolak belakang dengan ilmu yang pernah saya dapat. Tapi, saya bekerja menjadi pendamping ODHA di Nabire merupakan panggilan hati dan saya sudah jatuh hati dengan apa yang saya sedang kerja ini,” ungkapnya

Untuk bekerja secara suka rela, memang sangat butuhkan kesabaran yang sangat besar. Dengan pelan, ia mulai merekrut anggota. sudah kumpulkan puluhan anak-anak jalanan yang sering kumpul- kumpul di jalan-jalan dan sejumlah lorong dari seputar kota Nabire, terutama di daerah Siriwini dan KPR dalam.

Mulai dari anak-anak kompleks. Dengan cara; duduk mereka, makan pinang bersama, dan mulai mencoba memberikan pemahaman kepada anak-anak muda di kompleksnya.

“Puji Tuhan, sudah banyak anak-anak muda yang sudah bergabung. Kami sudah lakukan kegiatan, seperti sosialisasi bahaya penyakit HIV/AIDS beberapa tempat,” ceritanya

Ia bercerita, sejumlah anak muda bersedia menjadi relawan, ia mulai memberikan arahan dan bimbingan kepada anak-anak muda ini.  Dan mereka mulai peduli dan prihatin terhadap dengan semua yang terjadi diatas tanah Nabire dan daerah sekitarnya, terutama pada dunia kesehatan yang kian menakutkan.

Sebenarnya, ‘Suster’ Paola sudah dirikan sebuah organisasi kecil, pada tahun 2007 lalu. Ia dirikan Organisasi Muda-Mudi Peduli Perempuan dan Anak Pegunungan Tengah Papua [OMP2APTP].

Orginanisasi ini sering macet karena tidak ada dukungan dari pemerintah. Ia bekerja bersama sejumlah orang yang peduli dengan masalah yang terjadi pada perempuan dan anak.

Mulai tahun 2013, ia kembali mulai aktifkan lagi organisasi ini. Walau, diluar ia tetap jalan sebagai seorang ‘suster’ dalam mendampingi para ODHA.

Ia bersama sejumlah anak-anak muda itu bekerja independen dan langsung turun ke perumahan warga.

“Jadi, polanya kami yang datangi ke rumah warga untuk sosialisasikan bahaya HIV dengan cara menjelaskan, bagikan poster atau stiker, atau dengan pemutaran film. Itu baru banyak warga yang mulai paham,” ceritanya

Lantas, ia mengkritik cara formal yang selalu dilakukan pemerintah. Sosialisasi hanya diundang segelintir orang ke gedung-gedung. Cara seperti ini, sangat tidak tempat sasaran.  Mestinya, pemerintah harus lakukan sosialisasi langsung turun ke rumah-rumah warga atau kompleks.

Ia bersama anggotanya mulai dengan lakukan P4; penyuluhan, pemeriksaan, pendampingan dan pengobatan.

Dalam pemeriksaan, siapa saja ditemukan positif, kami langsung lakukan pendampingan dalam pengobatan selama enam bulan. Setelah enam bulan, pasien sudah bisa jalan sendiri, kami akan lepas tapi tetap dibawah kontrol dari ‘Suster Paola’ hingga pasien itu benar-benar bisa urus sendiri dalam pengobatan. Tapi, kalau ada keluhan, tetap kami akan tetap datangi ke mereka.

Ada banyak kisah dalam menangangani ODHA. Banyak suka dan duka yang telah ia temui disana. Kisah-kisah yang menyentuh hati itulah yang membuat dirinya semakin cintai dunia yang sangat bertolak belakang dengan gelarnya itu.

ODHA yang ia tangani menyebar ke wilayah kota Nabire. Sehingga, ia hampir sering kewalahan dalam kunjungan pada mereka.

“Ada sejumlah pasien yang saya tangani, meninggal. Tapi, tidak sedikit yang dengan pertolongan Tuhan, mereka bisa pulih,” ceritanya berlinang air mata

Suatu ketika pada tahun 2013, para pasien ODHA yang ia tangani, tiba-tiba ditelpon lalu menyuruhnya untuk datang ke tempat mereka. Setiba disana, ia kaget, ada beberapa pasien ODHA yang sudah terkumpul.

“Suster maju Caleg sudah. Biar suster bangun kami punya rumah singgah. Kami mau ebamukai untuk suster,” kata salah satu pasien ODHA saat itu.

Menurutnya, kata mereka sangat tersentuh di hati. Para ODHA sangat rindu punya rumah singgah yang baik dibangun di Nabire. Agar, semua ODHA di Nabire dan sekitarnya bisa mendapatkan pelayanan yang baik selain di Puskesmas, rumah sakit dan KPA.

“Sejauh ini, saya berhasil bimbing 54 pasien ODHA. Jumlah itu, tidak hanya dari Nabire saja. Namun, pasien itu berasal dari Dogiyai, Deiyai dan Paniai. Dari semua yang ditangani, sejauh ini 3 (tiga) pasien yang telah meninggal. Namun, selain itu, mereka yang lain, masih ada hingga saat ini,” urainya

Ia secara tegas mengatakan, tidak ada perhatian dari pemerintah kabupaten Nabire untuk mengatasi penyebaran penyakit HIV/AIDS. Padahal, beberapa tahun belakangan, Nabire sudah juarai secara berturut-turut untuk jumlah penghidap HIV/AIDS se-tanah Papua.

“KPA Nabire sama sekali tidak jalan. Tidak ada upaya dan kerja-kerja  nyata yang dilakukan. Padahal, Nabire sudah berada urutan pertama di Papua,” katanya

Mestinya, ia melanjutkan, beberapa kabupaten di wilayah Meepago dan Saireri bekerja sama dalam menekan angka yang kian naik tiap tahun. Karena, angka yang telah diumumkan oleh dinas kesehatan propinsi Papua yang mengatakan jumlah terbanyak yang digenggam Nabire tidak hanya dari Nabire saja.

“Buktinyakan, saya sendiri menangani pasien ODHA dari Dogiyai, Deiyai dan Paniai. Mereka itu masuk di beberapa Puskesmas yang berbeda,” tuturnya

Sehingga, kedepan ia meminta kepada beberapa kabupaten yang ada di wilayah Meepago dan Saireri agar bisa sinkronkan program nyata dalam menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS.

“Jika pemerintah tidak mampu jalankan, fasilitasi kami yang kerja di lapangan. Karena, kami yang punya data yang akurat dan kami memahami benar tentang cara sosialisasi hingga pendampingan,” mintanya kepada pemerintah

Pewarta: Philemon Keiya
Editor: Aweidabii Bazil

Share

One thought on “Sejam bersama ‘Suster’ Paola Pakage, SE

  • September 21, 2020 pada 9:49 am
    Permalink

    Pelayanan yg luar biasa kak Paola, semoga ada perhatian dari pemerintah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares