Terimakasih Pastor Frans Lieshout, OFM dan selamat kembali ke Belanda

  • Bagikan

Jayapura, [WAGADEI] – Tidak asing bagi umat Katolik di tanah Papua terutama Pegunungan Tengah di wilayah adat La Pago dan Mee Pago, selama 56 tahun berkarya di Papua akhirnya sang Imam Katolik berkebangsaan Belanda yaitu Frans Lieshout, OFM akan segera tinggalkan tanah Papua dan kembali ke negerinya di Montfoort, Belanda.

Pada Sabtu, [26/10/2019] ia telah merayakan misa bersama umatnya di Kapela Baliem Pilamo Angkasapura, Kota Jayapura sebagai upacara perpisahan.

Tak sedikit orang yang meneteskan air mata keharuan atas semua karya nyatanya yang melindungi umatnya dari berbagai ancaman sejak ia tugas di Jayapura, Wamena, Ilaga, Bilogai, Epouto, Enarotali, Biak, dan tempat lainnya.

Pastor Frans yang lahir di kota kecil Montfoort, Belanda, 15Januari 1935 ini setelah selesai studi Filsafat Teologi pada tahun 1956-1962 lalu ditahbiskan menajdi Imam pada Tahun 1962 disuruh pilih ke tiga benua,yakni Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Namun, sebelumnya ia mengikuti kursus dan memilih berkarya di Asia, karena sebelumnya sempat mendengar kisah-kisah yang sangat sedih campur senang oleh Missionaris seniornya yang sedang berkarya di West Niew Guinea.

“Akhirnya saya pilih ke Nederland Nieuw Guinea, [sekarang Papua]. Sehingga saya harus ikut kursus beberapa bulan lagi untuk latihan berbicara, menulis, dan membaca bahasa Melayu sebelum berangkat ke West Nieuw Guinea,” kata Pastor Frans Lieshout, OFM.

Ia menjelaskan, tepat bulan April 1963 berangkat dari Belanda menuju ke Nederland Nieuw Guinea dan tidak lama setelah tiba di Hollandia [Jayapura] tanggal 1 Mei 1963, administrasi Pemerintahan Nederland Nieuw Guinea diserahkan oleh UNTEA [PBB] kepada Pemerintah Indonesia. Sehingga namanya juga ikut diganti menjadi Irian Barat, Bendera Belanda diturunkan dan Kota Hollandia diganti nama juga menjadi Soekarnopura.

“Saya mendapat tugas pertama kali di Lembah Baliem Wamena Tahun 1964 sampai 1967. Selanjutnya pindah ke Bilogai, Bilai, Enarotali, Epouto, Timika, Biak, Katedral Dok 5, menjadi Rektor SPG. Teruna Bakti, menjadi Pastor Dekan Jayapura,” katanya kenang.

Tahun 1985 diterima menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan Tahun 1985-1996 kembali ke Baliem menjadi Pastor Dekan Dekenat Jayawijaya. Selanjutnya kembali ke Katedral Dok 5 dan Dekan Dekenat Jayapura yang kedua kali.

“Tahun 2007 kembali ke Lembah Baliem, Jadi itu saya pulang kampung dan menulis buku sambil menjalani masa pensiunnya di Wamena,” katanya.

Emanuel Petege, salah satu tokoh cendekiawan Katolik dari Meepago melalui akun facebooknya menuliskan, air matanya tak tertahankan ketika Pastor Frans memutuskan untuk pensiun dari pelayanan kegembalaan dan pulang terus ke negeri Belanda setelah 56 tahun mengabdi dan berkarya di tanah Papua.

“Saya terkejut dan kaget mendengar berita melihat postingan beberapa teman di sosial media bahwa kemarin tanggal 26 Oktober 2019 Pastor memimpin misa terakhir di Kapela Pilamo Angkasapura Jayapura sebagai tanda perpisahan dengan umat Katolik di tanah Papua untuk selanjutnya akan pulang terus ke negeri Kincir Angin di benua biru Eropa,” tulis Petege.

Menurut dia, selama ini Pastor Frans menerbitkan beberapa buku penting tentang kultur orang asli Papua, salah satu buku yang terkenal ialah ‘Sejarah Gereja Katolik di Lembah Baliem Papua’ setebal 424 halaman. “Terima kasih Pastor, buku yang engkau kasih secara gratis kepada ku akan ku persebarluaskan pengetahuannya kepada generasi Papua yang akan datang,” katanya.

***

Markus Haluk, umat Katolik dari Keuskupan Jayapura mengatakan, selama 56 tahun Pastor Frans telah menjadi garam dan terang di ranah Papua. Ia menjadi ap hesek, kain kok yang artinya gembala, nabi, guru, bapa, tete, dan saudara bagi rakyat Papua di pegunungan Papua.

Menurut Haluk, banyak kerja nyata, perubahan, dan kesuksesan dari tangan Pastor hasilkan selama 56 tahun. Waktu ini bukan singkat, jadi kalau diurut, ditulis maka satu  rim kerja HVS tidak cukup.

“Tapi saya hanya mau angkat beberapa hal memperkuat apa yang pastor lakukan, yakni di tengah suku Moni, ia membangun bandara Ilaga, berperan aktif dalam bidang pendidikan, diantaranya Pastor Anton Belau, OFM (Alm) Imam pertama dari suku Moni, Pak John Mirip, Agus Zonggonau dan banyak tokoh lainnya. Selama melaksanakan tugas pengembalaan di Bilogai, pastor terus membangun koordinasi dengan para kepala suku setempat diantaranya kepala suku Bilogai Bapak Belaumbula Belau,” tuturnya.

Ketika Pastor Frans bertugas di tengah suku Amungme, Mee dan suku-suku lainnya di tanah Papua sebagai rektor pastor telah menghasilkan 1001 kaum terdidik, rohaniawan, nasionalis Papua.

“Selama menjadi pastor paroki Gereja Katedral memperjuangkan lahirnya kelompok kategorial Katolik Baliem dan Mee, Papua. Ia melakukan survei, ternyata 50% orang Katolik di paroki katedral tidak berperan aktif, duduk di belakang, tinggal di kaki gunung, bukit lereng. Maka mendorong partisipasi di dalam Gereja. Lahirnya Kashuokta merupakan bagian dari proses ini,” katanya.

Saat bertugas di Biak, kata dia, Pastor juga menjadi simbol pemersatu di tengah Katolik Konservatif suku-suku, (Key-Jawa, Flores), juga mendorong kemajuan pendidikan, pendampingan anak-anak Balim, salah satunya Pastor menangkap Diakon Daud Wilil, Pr yang akan ditahbiskan Imam pada 24 November 2019.

Di Baliem ia bertugas selama 26 tahun. Karya tangannya tidak terbilang. Ia menjadi ap hesek, ap metek bagi aliansi konferedasi di Balim, ancaman operasi dari aparat keamanan (militer), pembakaran adat, nilai-nilai baik dari dedominasi gereja lain bersama Pemerintah.

“Pastor telah dan terus kerja keras mengintegrasikan adat dan Gereja Katolik. Pastor adalah tokoh dan pejuang Inkultasi, rekonsiliator, dialog dalam gereja Katolik di Balim  (Papua). Pastor juga seorang guru dalam pendidikan orang balim. Pastor juga pemecah misteri setelah 54 tahun mengapa orang Balim tidak bisa menjadi Imam, yang hasilnya saat ini 10 orang Imam Balim, satu diakon, para suster lahir dalam kurun waktu 7 tahun (2012-2019),” katanya.

Pastor Frans mengatakan, setibanya di sana dirinya akan masuk di panti Jompo milik Biara sambil menghabiskan waktu sisa hidupnya di bumi ini. “Tradisi masuk asrama Jompo bagi orang orang lanjut usia tidak diragukan lagi, karena sudah berjalan ratusan tahun,” katanya.

***

Selama 56 tahun bertugas di tanah Papua ini, Pastor ini telah melahirkan, menghasilkan, mengaderkan, anak-anak, cucu-cucu, saudara-saudari bukan geneologis, biologis melainkan ideologis, visioner, gembala, guru, dan pekerja di ladang Kristus dan di berbagai tempat di tanah Papua ini.

“Jumlahnya ribuan orang, yang tidak terbilang jumlahnya. Kita, 99 persen adalah anak-anak idiologis, visiologi Pastor bagi rakyat dan Kristus di tanah Ini,” kata Haluk.

56 tahun bukan waktu yang singkat. Karena itu banyak karya baik, agung, dan luhur yang dikerjakan oleh Pastor bagi kita semua. Karena itu ia hanya masukan sampaikan pada kesempatan ini beberapa hal sebagai ajakan dan himbauan kita tetap menjaga, melestarikan dan melanjudkan apa ap metek, pastor telah tanamkan bagi Papua.

“Kita perlu bentuk tim kecil dengan tugas untuk memperbanyak karya buku dari Pastor Frans bagi anak cucu kita, dan mendorong penulisan kesan dan pesan serta pengalaman dari masing-masing tokoh umat, Balim, Moni, Papua lainnya dan Umat Katolik Papua umumnya serta dari OFM. Pandangan, pengalaman tersebut perlu didokumentasikan bagi kita dan generasi yang akan datang,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas semua salah, dosa, kekhilafan kami terhadap Pastor selama berada di atas tanah ini. Berbarengan dengan ucapan permohonan maaf, ia juga menyampaikan ucapan penghargaan dan terima kasih kepada Pastor atas semua pengabdian, pengorbanan, keringat, air mata Pastor bagi kami semua tanpa terkecuali selama 56 tahun di negeri ini. [*]

 

Pewarta: Abeth A. You
Editor: Aweidabii Bazil

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *