Pemkab harus perhatikan asrama putra SMK Negeri 1 Nabire

Nabire, [WAGADEI] – Asrama siswa SMK Negeri 1 Nabire  atau biasa disebut SMTP butuh perhatian untuk dilakukan renovasi atau perbaikan oleh Pemerintah Kabupaten [Pemkab] Nabire.

Pasalnya kondisi asrama tersebut sudah masuk kategori tidak layak dihuni. Pantauan wagadei.com, Sabtu, [26/10/2019] bersama Leonarda Makai, salah satu orang warga Nabire yang sering membantu sembilan bahan pokok [sembako] di asrama tersebut, sudah banyak yang rusak. Diantaranya atap nampak lepas, demikian juga dengan loteng sudah lepas.

Leonarda Makai, usai memberikan beras dan uang sebesar rp 1.000.000 kepada penghuni mengharapkan Pemerintah Kabupaten [Pemkab] Nabire memperhatikan asrama itu. Sebabasrama yang telah dibangun puluhan tahun lalu itu ibarat kandang ternak.

“Saya sangat sedih dengan keberadaanasrama ini. Ini sudah dibangun Pemda puluhan tahun silam, tapi diabaikan. Saya biasa lewat itu lihat mereka [penghuni] semacam kehilangan induk,” katanya kepada wagadei.com.

Di Papua kata dia, sudah berlaku Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus [Otsus] bagi Provinsi Papua  di dalamnya tiga hal utama yang harus diperoritaskan, slaah satunya bidang pendidikan.

“Sehingga asrama putra ini segera diperhatikan. Bila perlu dibangun baru, ini asset milik sekolah negeri berarti kepemilikannya pemerintah daerah setempat,” katanya.

“Setahu kami setiap tahun sekolah negeri selalu mendapat bantuan dari pemerintah.  Sepeti dari kementerian ada bantuan bentuk barang, rumah sekolah, maupun leralatan setiap tahun diberikan. Ini dikemanakan?,” ucapnya.

Ketua asrama putra SMK Negeri 1 Nabire, Yanuaris Magai mengatakan,  asrama  sudah kondisi tidak baik sehingga perlu ada campur tangan dari pihak sekolah untuk menyampaikan kepada Pemkab setempat agar ada tentu bisa bermanfaat bagi guru dan siswa.

Ia juga mengungkapkan, asrama tersebut diabaikan pihak sekolah sejak lama. Menurut informasi yang diperoleh dari para alumni, bahwa asrama itu dibiarkan oleh sekolah pada tahun 2004 pasca gempa bumi mengguncangkan Nabire.

Walaupun kondisi demikian pihaknya bertahan hidup mumpun berdekatan dengan sekolah. Ia mengaku, untuk membeli makanan dan minuman para penghuni yang terdiri dari puluhan siswa itu lakukan patungan .

“Tuhan luar biasa, kami tinggal 25 orang lebih berasal dari Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai, dan Intan Jaya. dan kami cari makanan sendiri, sehingga kedepannya pemerintah daerah baik Paniai, Deiyai, Dogiyai, Nabire dan Intan Jaya perlu perhatikan kami,” katanya.

Ia juga menambahkan, Pemda setempat melalui dinas terkait segera membangun asrama yang layak sebab yang dihuni adalah generasi masa depan Papua. [*]

Pewarta: John Magai

Editor: Aweidabii Bazil

 

 

banner 120x600

Respon (11)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *