Bunda Maria; “Mama Pengantara” bagi pembebasan orang asli Papua

  • Bagikan

Oleh:   Marius Goo

GEREJA Katolik Universal menghormati Maria dengan aneka cara dan doa. Ada dua bulan yang dikhususkan untuk menghormati bunda Maria, yakni bulan Mei sebagai bulan Rosario dan bulan Oktober sebagai bulan Maria.

Di bulan Oktober Gereja Katolik menetapkan bulan Maria. Jadi sepanjang bulan November Gereja [Umat Allah] diajak untuk untuk menghormati karya-karya Maria Bunda Allah dan Bunda Gereja. Karya yang paling utama dan pertama adalah “menghadirkan Yesus di dunia.”

Allah Tritunggal Mahakudus memperhitungkan rahim bunda Maria sebagai tempat yang layak dan pantas untuk mengutus Pribadi Kedua. Yesus diutus menjadi manusia, Yesus turun dan merendah, mengambil rupa manusia dengan pengantaraan perawan Maria. Yesus yang adalah “logos”, “firman”, menjadi “manusia”, “daging”.

Dalam proses Inkarnasi ini, Bunda Maria ikut berperan aktif. Bunda Maria menerima konsekuensi logi dari kenyataan yang ada dengan rela. Konsekuensi logisnya bahwa “Maria dengan mengandung Yesus saat belum menikah, pasti akan dirajam. Pasti akan dibunuh.” Kenyataan yang ada bahwa “hukum bangsa Yahudi mengandung di luar nikah dirajam hingga mati. Maria dalam posisi inilah Yesus masuk dalam rahim bunda Maria.”

Dengan iman yang rela, Maria meng-iyakan Yesus masuk dalam dirinya, dengan berkata: “sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Maria rela menerima dan menanggung konsekuensi-konsekuensi yang ada, bahkan ancaman kehilangan nyawa. Bunda Maria menyerahkan diri sepenuhnya pada penyelenggaraan ilahi. Allah dijadikan sebagai dasar hidupnya, atau hidup sepenuhnya diserahkan pada Tuhan, sebagai Pencipta, Sumber dan Penyelenggara hidup.

Imannya membuahkan keselamatan. Karena imannya, Yesus dikandung dan dilahirkan menjadi manusia dan tinggal bersama manusia. Yesus yang adalah Allah mengambil rupa manusia dan dibesarkan, dididik secara manusia dalam konteks budaya Yahudi. Yesus hidup sebagai manusia Yahudi dan menjalankan aturan dan hukum yang berlaku. Bunda Maria membesarkan Yesus pun secara manusiawi dan sangat sederhana. Yesus pun tumbuh secara konteks Yahudi dan dengan penuh kesadaran sebagai “Anak Allah”. Keilahian Yesus mewarnai seluruh kehadiran dan pertumbuhan-Nya di tengah masyarakat di dunia.

Tanda-tanda dan mujizat yang diperbuat Yesus makin menjadi nyata akan keilahian Yesus. Semua yang terjadi dan diperbuat Yesus di depan bunda Maria disimpannya dalam hati dan merenungkannya. Bunda Maria menyimpan dan hati dan merenungkan apa yang diperbuat Yesus Puteranya, merupakan satu kesadaran bunda Maria akan pentingnya “keselamatan.” Bahwa keselamatan atau kemerdekaan akan lahir jika diperjuangkan dan dikerjakan dari hati dan dengan sepenuh hati, bukan supaya dilihat orang.

Bunda Maria bukan saja menjadi tokoh atau panutan seorang Perempuan yang patut diteladani, tetapi juga bunda Maria adalah mamanya semua manusia, termasuk orang Papua. Mengapa bunda Maria dikatakan mamanya orang Papua? Bagaimana hidup bersamanya sebagai mama?

Pertama, Orang Papua harus sadar penuh dan yakin bahwa bunda Maria adalah mamanya Yesus. Yesus yang dilahirkan bunda Maria adalah Anak Allah dan saudara kita. Yesus adalah “Kakak Tertua” dari semua manusia.

Kedua, Maria melahirkan Yesus “Kakak Tertua”, supaya manusia menjadi adik-adik kesayangan-Nya. Sekaligus bunda Maria menjadi mama semua manusia.

Ketiga, bunda Maria adalah mama kita semua manusia. Bunda Maria senantiasa hadir bersama anak-anaknya sepanjang seluruh tahun, dengan rela dan cinta.

Keempat, bunda Maria sangat mencintai manusia sebagai anaknya. Bunda Maria yang adalah mama tidak pernah meninggalkan Gereja yang adalah anaknya sendiri. Dari dulu, hingga kini dan selanjutnya, bunda Maria hadir menyertai manusia menuju Puteranya.

Keenam, bunda Maria bersedia sepanjang abad sebagai mama, maka manusia Papua selayaknya datang berlindung dan bernaung padanya yang tak pernah menolak dan meninggalkan anak-anaknya.

Ketujuh, bunda Maria adalah mamanya orang Papua. Semua orang Papua wajib menjadikannya sebagai mama. Dengan menjadikan bunda Maria sebagai mama, orang Papua mengambil bagian dalam Yesus menjadi puteranya, yakni menjadi saudara dan saudari Yesus, yakni sebagai Penyelamat dan Pembebas.

Kedelapan, bunda Maria adalah mama yang mengerti perasaan manusia. Ia membawa semua doa-doa syukur dan permohonan kepada Yesus Puteranya yang tak pernah menolak permintaan mamanya sendiri.

Kesembilan, OAP harus senantiasa menjadikannya sebagai “mama”. Yakinlah bahwa apa pun yang kita minta kepada Tuhan melalui Maria akan dikabulkan.

Bunda Maria adalah mama kita. Mama yang ada bersama dan sekaligus mengantar doa-doa kepada Yesus Puteranya. Yesus mengabulkan permintaan dari bunda Maria ibunya dan terjadilah kehendak Allah di dunia sebagaimana di surga. Terciptalah di Papua Kerajaan Allah, kerajaan yang tidak membunuh, tidak menembak mati manusia dan tidak hoaks. Yakni Kerajaan damai, bebas dan cinta.

*) Penulis adalah mahasiswa Pasca Sarjana pada salah satu perguruan tinggi swasta di Malang, Jawa Timur

banner 120x600
  • Bagikan

Respon (6)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *