OAP “stop” beli makanan di warung atau kios!

Upaya melawan keracunan makanan

Oleh: Marius Goo

 

ORANG Asli Papua [OAP] sudah saatnya “sadar”, “bangkit”, dan “lawan”. Tanpa kesadaran, juga tidak sadar dan tidak melawan OAP, bukanlah siapa-siapa di negerinya sendiri.

Tumbuhkan kesadaran OAP

Kesadaran pertama, secara Biblis manusia adalah “rupa Allah”. Karena manusia adalah rupa Allah maka manusia harus merasakan hidup sebagai manusia, jika tidak manusia sendiri harus “menyadari” dan mempunyai langkah-langkah untuk mengembalikan kemanusiaan.

Kesadaran kedua, secara Filosofis, sebagaimana dikatakan Mathin Buber dan Gabriel Marcel bahwa manusia adalah sebuah relasi “Aku-Engkau”, yang harus saling mencintai dan memberi diri. Secara filosofis “relasi manusia bukan saling mengorbankan melainkan seling berkorban”.

Kesadaran tiga, secara kultural, manusia memiliki hubungan atau ikatan darah dengan wilayah kependudukan atau kepemilikan. Kesadaran ini membangkitkan upaya penjagaan, perlindungan, pengamanan dan pemeliharaan atas manusia dan lokasi yang menjadi hal ulayat dari penjajahan dan perampasan.

Kesadaran Biblis, filosofis dan kultural ini penting karena tanpa kesadaran ini selalu punya cara dan bentuk untuk saling membenci dan membunuh. Sebagaimana dikatakan Thomas Hobbes sesama manusia menjadi “serigala bagi yang lain”, yang harus dikejar, yang harus diburu dan dibunuh atau ditembak mati.

Hanya dengan saling mengakui kemanusiaan dan martabat kehidupan manusia, manusia tercipta cinta dan damai. Mengakui kemanusiaan tidak lain adalah melihat, menghormati dan memperlakukan sesama yang lain sebagai manusia tanpa membedakan unsur SARA. Siapa pun keluhuran manusia harus dihormati, sebab manusia adalah yang termulia dari makhluk lain.

Manusia diciptakan supaya hidup dan berkembang, beranak-cucu dan memenuhi bumi. Mempertahankan hidup, manusia butuh makan dan supaya manusia makan, manusia harus kerja.

Kerja sebagai  upaya “melawan” keracunan makanan

Pada mulanya Pencipta menciptakan semua yang bisa dimakan oleh manusia tanpa mengandung bakteri mematikan. Allah menciptakan makanan supaya manusia hidup dan berkembang, bukan untuk membunuh. Tidak ada makanan yang dapat membunuh tubuh manusia, jika makanan itu diolah dengan kasih karena diperoleh juga dari sumber kasih.

Ketika makanan dimasukan bakteri mematikan, manusia tak menjalankan perintah Allah ‘ berkembangbiaklah, bertambah banyak dan memenuhi bumi!’, dan perintah-Nya untuk ‘jangan membunuh’.

Diakhir-akhir ini diisukan bahkan diberbagai media diviralkan adanya penyemprotan “bakteri mematikan atau racun” dalam makanan untuk menghabiskan OAP. Entah benar atau tidak, tetapi bahwa ditemukan pula adanya korban atas keracunan makanan atau minuman. Misalnya, Hedelina Hagabal dan Gerentasia Hagabal di Kwamki Lama [Timika], 05 Oktober 2019 yang meninggal diduga karena membeli makan di Warung.

Adanya keracunan makanan ini, OAP dituntut untuk “kerja”. “OAP harus hidup dari kebun sendiri” sebagaimana sering disampaikan alm. Uskup John Saklil Pr. Orang Papua jangan membeli makanan atau minuman orang pendatang baik di kios, warung atau tokoh. Sudah saatnya OAP “harus Kerja”. OAP harus mampu mengolah tanah dan makanan untuk mengurangi makanan beracun dari warung, kios atau tokoh orang pendatang.

Kerja adalah cara paling ampu melumpuhkan setingan penjajah untuk menghabiskan OAP melalui bakteri mematikan, racun yang dicampurkan melalui makanan dan minuman.

OAP memiliki tanah, sudah saatnya OAP mengola tanah dan hidup dari kebun hasil keringat sendiri. OAP harus menumbuhkan kesadaran: “Lebih enak makan hasil olahan tangan sendiri ketimbang orang pendatang yang beracun, lebih enak masakan sendiri dengan penuh kasih, daripada masakan orang pendatang yang bercampur racun yang mematikan.”

Proses memperpanjang kehidupan OAP adalah hanya dengan “kerja”. OAP harus sadar, bahwa saat-saat ini “kerja” itu sangat penting, bukan bergantung penuh pada orang pendatang yang belum tentu punya niat baik terhadap OAP.

*). Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana di Malang, Jawa Timur

688 kali dilihat, 38 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares