Pengungsi Nduga dianaktirikan, Wamena diintikan oleh Pemerintah Pusat

Oleh: Angginak Sepi Wanimbo

PEMERINTAH Pusat dan Pemerintah Provinsi Papua harus netral dan jujur baik dan merata jangan melihat dari kaca mata politik tetapi harus melihat dari nilai kemanusiaannya karena nilai manusia lebih berharga dan mahal. Sehingga tangani pengungsi masyarakat Nduga dan masyarakat Jayawijaya [Wamena] dalam penanganan bantuan sosial bagi masyarakat pengungsi dari Kabupaten Nduga dan Wamena harus netral.

Karena saya melihat dengan mata kepala saya sendiri menilai, penanganan pengungsi longsor di Sentani dan Wamena lebih cepat Pemerintah Pusat dan Provinsi Papua membuka mata telinga, lalu memberikan tanggapan lebih cepat dibanding pengungsi masyarakat Kabupaten Nduga. Padahal pengungsi masyarakat Nduga sudah terbengkalai, hidupnya tidak nyaman, selama sembilan bulan membutuhkan pertolongan dari Pemerintah.

Sementara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Papua tidak melihat dan tidak memperhatikan secara serius, utuh, dan adil untuk menangani warga pengungsi dari masyarakat Kabupaten Nduga yang sudah sejak sembilan bulan lalu hingga kini tidak ada bantuan dari pemerintah.

seharusnya Pemerintah Pusat dan daerah penanganan pada pengungsi dilakukan secara adil, netral, jujur, dan merata. Sebab manusia itu gambar dan rupa Allah sendiri tidak ada perbedaan nilai manusia sama tidak ada perbedaan. Ini juga sesuai dengan prinsip negara Indonesia yang mengaku akan mewujudkan nilai keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Pengungsi masyarakat dari Nduga dan Wamena sama-sama mencari perlindungan dan kenyamanan yang sama di mata pemerintah dan hukum Pancasila yang berlaku di Republik Indonesia sehingga pemerintah harus mengambil sikap yang netral karena mereka itu rakyatmu.

Dan saya melihat konflik bersenjata yang sudah terjadi di Nduga sejak Desember 2018 sampai hari ini masih membuat ribuan warga mengungsi di kabupaten tetanga seperti Wamena, Lanny jaya dan daerah lainnya.

Mendapat laporan dari tim kemanusiaan lokal melaporkan bahwa 184 pengungsi Nduga sudah meninggal dan 41 di antaranya adalah anak-anak berusia sekolah.

Demonstrasi besar-besaran dan kericuhan akibat rasisme bukanlah satu-satunya isu mendesak di Papua. Setelah konflik bersenjata di Kabupaten Nduga berlangsung sembilan bulan lamanya, masa depan sekolah ratusan anak-anak [dari wilayah ini] masih suram. Kehidupan yang memprihatinkan di Wamena membuat mereka kesulitan untuk bertahan hidup, apalagi belajar di sekolah dan pelayanan di gereja.

Sebab, itu kami meminta kepada pejabat Pemerintah Pusat dan Provinsi Papua untuk bantuan kasus Nduga harus jujur, netral, adil dan merata karena saya melihat bangtuan dari pemerintah sampai hari ini tidak jelas. Sedangkan untuk Sentani miliaran rupiah sudah masuk. Apalagi bantuan untuk para pengungsi dari Wamena yang ada di Jayapura di posko pengungsian maupun pengungsi yang ada di Wamena.

Manusia zaman sekarang lebih suka menolong sesama karena alasan persamaan ideologi dan politik, ketimbang karena nilai kemanusiaan. Manusia zaman sekarang rupanya hampir semuanya penakut dan mendukung para pembunuh kemanusiaan yang penuh impunitas yang di sisi lain berlaku seperti superman sementara di sisi lain berlagak seperti setan pembunuh.

Harap kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah di Papua jangan membedakan rakyat West Papua yang sangat membutuhkan pertolongan darimu juga jangan mementingkan diri tetapi merangul semua rakyat lalu memberikan bantuan secara netra, jujur, merata kepada semua rakyat karena mereka itu rakyatmu. [*]

*) Penulis adalah Ketua Pemuda Baptis di Tanah Papua, tinggal di Jayapura

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares