Kekurangan stok darah, RSUD Nabire harap bantuan donor darah dari masyarakat

Jayapura, [WAGADEI] – Melihat kebutuhan darah yang masih jauh dari harapan, pihak Rumah Sakit mengharapkan adanya sumbangan secara sukarela dari masyarakat setiap empat bulan sekali.

“Kebutuhan darah untuk setiap bulannya terus mengalami peningkatan dan bahkan rata-rata diperlukan. Dan dari dulu kekurangan darah,” kata Direktur RSUD Nabire, dr. Andreas Pekey, Sp.PD kepada wagadei.com, Selasa, [1/10/2019].

Pasien yang butuh darah banyak, Menurut Dokter Pekey darah yang tersedia terbatas sebab pihaknya belum punya pendonor sukarela yang tetap.

Masalah utama kata Pekey, belum adanya kantor Palang Merah Indonesia (PMI) membuat stok darah di Unit Trasfusi Darah Rumah Sakit Umum Daerah (UTD RSUD) Nabire selalu kekosongan.

“Selama ini untuk memenuhi kebutuhan pendonor tetap hanya aparat keamanan (TNI dan Polri). Kasian, harus ada kelompok donor darah sukarela. Kalau masyarakat perlu darah biasa mereka lari ke Batalyon, Zipur atau Polres Nabire,” kata Pekey.

Ia menegaskan, hingga kini Kabupaten Nabire belum memiliki PMI sehingga ie mendesak Pemda setempat segera buka tempat donor tetap.

“Nabire tidak ada PMI, yang ada itu UTD RS. Maka, harus pemerintah buka PMI, karena PMI itu organisasi vertikal dari pusat. Tidak ada dana khusus untuk UPTD. Kalau PMI ada dana khusus. UPTD bergantung pada dana operasional RSUD.

Ketua Ornanisasi Muda/i Peduli Perempuan dan Anak Pegunungan Tengah (OMP2APTP), Paola S. Pakage mengatakan, pihaknya yang bergerak di bidang penanganan ODHA telah menemukan hampir semua pasien anak kekurangan darah pada 28 September 2019.

Menurut Pakage, Situasi itu membuat orangtua mencari darah ke Polres, Denzipur dan Batalyon Nabire sehingga dirinya tergerak untuk membantu dan menolong dengan mengajak anggotanya melakukan aksi kemanusiaan dengan menyumbangkan darah secara sukarela.

“Dan berjalan kaki dari sekertariat di Jl Bucen Kodim 17P5 Siriwni hingga ke ruang UTD RS. Setelah pemeriksaan ada yang bergolongan darah A,O dan hanya satu orang yang bergolongan B,” kata Pakage.

Paola mengatakan, melalui beberapa pemeriksaan ternyata belum bisa pengambilan darah dikarenakan tensi tinggi, juga rendah serta nadi lemah bahkan HB rendah.

“Disarankan istirahat, makan teratur selama tiga hari. Dan syukur setelah kami beraksi kami juga dikunjungi dokter spesialis anak, dr. Agnes dari RSUD Nabire juga turut serta menyumbangkan darahnya. Hasil sumbangan darah itu sekarang tinggal tiga pasien anak yang belum,” ungkapnya.

Ia menyarankan pihak RSUD maupun Pemkab Nabire agar harus ada tanggap cepat bencana sebab orang hidup dengan darah maka wajib hukumnya didirikan PMI.

“Darah yang kami berikan suka rela ke RSUD. Namun keluarga pasien diminta membayar kantong darah di UTD RS, ada dua pasien yang tidak ada uang untuk bayar jadi pulang. Untuk hal itu sangat disayangkan,” katanya. [Abeth A.You]

 

 

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares