Saat-saat terakhir OAP memasuki gerbang kemerdekaan bangsanya

“Apa yang harus dilakukan?”

Oleh: Goo Egedy

 MELIHAT semua gejolak politik yang terjadi antara bangsa West Papua dan bangsa Indonesia sejak tahun 1962 melalui New York Agreement dan seterusnya hingga kini tahun 2019, rakyat bangsa Papua merasa tidak pantas tinggal bersama Negara Republik Indonesia atau [NKRI]. Indonesia telah berupaya melobi banyak negara, juga berupaya mengambil hati rakyat Papua namun dirasa usahanya menuai kegagalan dan sia-sia.

Indonesia gagal meng-Indonesia-kan Papua. Inikah saat-saat terakhir rakyat Papua berpisah dengan NKRI atau menyatakan sikap untuk mendirikan sebuah negara sendiri [Papua Barat] yang terpisah dari NKRI, baik secara konstitusional, hukum maupun teritorial. Bahwa Rakyat Papua sudah saatnya merdeka secara absolut dari Indonesia sebagai negara penjajah. Di saat-saat perpisahan ini, apa yang perlu dilakukan oleh orang Papua? Bagaimana menuju dan memasuki gerbang kemerdekaan bangsa Papua? Beberapa hal terpenting yang mesti dipersiapkan dalam jalan menuju kemerdekaan, di antaranya:

Pertama, orang Asli Papua saat-saat ini harus kerja, harus mampu mandiri tanpa bergantung pada orang Pendatang. Makan dan minum harus ambil dari usaha sendiri. Hal ini dikarenakan barang-barang yang dijual oleh orang pendatang telah disemprot dengan racun mematikan. Untuk menghindari pemusnahan orang Papua melalui racun ini orang Papua harus kerja dan makan-minum dari hasil keringat sendiri. Kalau pun membeli harus pandai-pandai memiliki tokoh atau kios mana yang pantas untuk melakukan transaksi. Namun yang mau ditekankan di sini adalah kerja, kerja dan kerja.

Kedua, orang Papua harus hati-hati dalam memberikan komentar-komentar atas postingan atau berita-berita yang sifatnya hoax, memaki atau diskriminatif. Orang Papua harus mampu menunjukkan sikap sebagai manusia yang sedang mewartakan kebenaran dan punya kepekaan terhadap harkat dan kemanusiaan, entah siapa pun. Orang Papua mendirikan negara Papua atas kebenaran sejarah dan mendirikan negara yang berlandaskan kebenaran. Mengutamakan kebaikan, kejujuran, keadilan, kedamaian dan cinta. Artinya jangan orang Papua termakan hasutan atau isu-isu hoax yang diciptakan pihak tak bertanggung jawab untuk memecah belah antar orang Papua sendiri. Benar bahwa orang Papua adalah satu: satu pulau, ras [Melanesia]. Sedangkan Indonesia adalah Melayu. Dalam komentar apa pun juga dalam menyelesaikan kasus apa pun harus mengedepankan martabat kemanusiaan, karena manusia adalah yang paling mulia yang diciptakan Yang Termulia.

Ketiga, orang Papua harus mampu menjaga diri. Artinya, dalam setiap aktivitas baik siang maupun malam harus berhati-hati supaya tidak terperangkan atau terjerat setingan musuh. Yang membawa kendaraan harus mampu mengendalikan diri, yang pejalan kaki harus mampu mengukur atau mempertimbangkan secara matang tentang akibat dan konsekuensi yang ditanggung. Pastikan semua orang Papua ada untuk saling menjaga dan melindungi, bukan sebaliknya saling menjual dan membunuh.

Keempat, Orang Papua sudah saatnya meninggalkan sikap dan sifat buruk yang merugikan bangsa. Dalam arti ini sikap mencari kambing hitam dan sikap saling menjatuhkan baik antar pribadi, keluarga, marga atau suku sudah saatnya diubah bahkan dihentikan. Orang Papua adalah sebangsa dan setanah air, sedarah dan saudara, sekeluarga dan sekerabat, karena itu tinggalkan sikap benci, arogan, dendam, dengki, iri, selanjutnya membangun bangsa Papua yang bermartabat, bermoral dan ber-Tuhan, saling memahami, merasakan, melihat, memandang dan memperlakukan anak bangsa sebagai pemberian rahmat Tuhan yang harus saling mendukung, membantu, melayani, membebaskan dan menyelamatkan. Dengan meninggalkan sikap negatif, orang Papua membangun negara Papua yang suci dan Kudus, negara yang layak dihuni oleh Allah sumber kekudusan dan Ia menjadi Raja dan semua orang Papua menjadi warga Kerajaan-Nya.

Kelima, orang Papua kini bukan saatnya membeda-bedakan siapa Intel siapa bukan. Saat ini baik intel maupun yang bukan intel berjuang bersama untuk merebut kemerdekaan bangsa Papua. Dalam arti ini, Intel-intel orang asli Papua, terlebih para pemerintah dan pejabat saatnya “revolusi mental” bertobat atas kesalahan dan bersatu dengan seluruh elemen masyarakat, bersama-sama bersatu untuk menggolkan kemerdekaan bangsa Papua. Saat-saat terakhir ini adalah waktu yang pas untuk orang asli Papua yang menyerahkan seluruh diri, dengan jiwa dan raganya kepada NKRI harus berbalik dan meminta maaf kepada semua orang Papua, terlebih kepada tanah Papua sebagai sang mama yang dikhianati.

Keenam, Orang asli Papua jangan ada yang tinggal diam. Artinya semua harus bergerak, berkreasi dan berinovasi dalam mencetak bibit kemanusiaan unggul bangsa Papua. Tentang ini, orang Papua yang selama ini masa bodoh, acu tak acu, hanya cuci tangan dan berpangku tangan, semua harus kompak kerja, baik kerja fisik maupun non fisik untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terukur unggul dan berbobot untuk mencapai target “duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi” bersama seluruh negara di dunia. Untuk itu, pendidikan yang telah ditempuh, kemampuan yang dimiliki setiap orang Papua, kini saatnya untuk beraksi dan beroperasi. Saatnya orang Papua membentuk kemanusiaan unggul untuk menjaga dan mengolah wilayah teritorial bangsa Papua termasuk semua yang terkandung di dalamnya. Saatnya orang Papua menciptakan kemanusiaan unggul yang dapat menghargai, menghormati dan mempercayai kemampuan masing-masing orang Papua, saling memberikan peluang dan menciptakan ruang kerja sesuai keahlian dan bukan bersifat nepotisme, yakni keluargais, margais dan sukuis. Bahwa bangsa Papua, semua harus bertanggung jawab menjaga dan memelihara kesejahteraan bangsa Papua berdasarkan kemampuan dan keahlian masing-masing.

Ketujuh, mendokumentasikan sejarah kelabu bangsa Papua. Orang asli Papua mencari, menggali dan mengumpulkan serta menuliskan sejarah penderitaan bangsa Papua, semua data secara terperinci sebagai pendidikan sejarah bangsa Papua yang harus dipelajari turun temurun oleh rakyat bangsa Papua betapa rakyat Papua telah diperlakukan sangat tidak manusiawi. Sekaligus menciptakan nasionalisme dan patriotisme dalam diri rakyat bangsa Papua, untuk menghargai jasa-jasa para pahlawan sekaligus membela teritorial bangsa Papua dari perampasan dan bahkan penjajahan dari negara lain.

Kedelapan, Orang Asli Papua mulai memupuk dan mendarah-dagingkan iman yang benar, moral yang baik dan nilai-nilai budaya yang menyelamatkan bangsa. Dirikan bangsa Papua di atas dasar Iman [takut akan Tuhan], moral [tindakan maupun perkataan yang baik] juga di atas dasar budaya Papua yang berdimensi adi-kodrati, yang humanis dan sosialis, yang dialogis dan komunikatif. Selalu saling menjunjung tinggi kemanusiaan yang beradab dan beradat juga kemanusiaan yang ber-Tuhan. Negara yang menjadikan Tuhan menjadi Dasar dan penopang, agar semua orang menjalankan tugas sesuai kehendak Tuhan secara berani dan bertanggung jawab.

Kesembilan, Orang asli Papua harus sujud dan berdoa tak henti-hentinya kepada Tuhan. Orang Papua harus bersyukur sepenuh hati atas segala penyelenggaraan Ilahi, atas perlindungan dan penyertaan sepanjang perjalanan sejarah bangsa Papua hingga saatnya memasuki gerbang kemerdekaan bangsa Papua Barat. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk meminta Tuhan menyelenggarakan karya-Nya yang agung untuk seluruh kehidupan orang Papua, termasuk seluruh perjalanan sejarah panjang bangsa Papua ke depan entah kapan Tuhan sendiri datang menyatakan Kerajaan dan Kemuliaan-Nya.

Beberapa hal ini menjadi hal-hal penting dan mendesak dipraktekan sekaligus diciptakan dalam usaha-usaha menyongsong dan memasuki gerbang kemerdekaan bangsa Papua yang makin mendekat ini. Di mana orang Papua memasuki negara Papua yang kudus karena Allah menjadi dasar sekaligus menjadi Pemimpin utama. Selamat mempersiapkan diri dan memasuki kemerdekaan bangsa Papua.

*). Penulis adalah tokoh pemuda Papua, tinggal di Polimak, Port Numbay.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares