Pelanggaran HAM diredam penyebaran hoax, Filep Karma: Jangan saling serang!

Jayapura, [WAGADEI] – Penyebaran isu hoax dan provokasi akhir-akhir ini di tanah Papua ibarat dua striker yang sekali serang demi banyak menciptakan gol. Itu tiada lain, hanya untuk meredam banyaknya isu pelanggaran Hak Asasi Manusia [HAM] yang terjadi hampir tiap hari.

Mahasiswa Papua, Alleb Koyau mengatakan, buah gol yang berikut adalah negara dan penguasa ketika menetapkan hoax dan provokasi sebagai tersangka [dalil], maka masalah dasar seperti pelanggaran HAM dan gencarnya aspirasi penentuan nasib sendiri [The Right To Self Determination] disederhanakan.

“Bahkan dikaburkan menjadi persoalan kriminal biasa, atau ikut-ikutan akibat terhasut hoax dan provokasi oleh oknum tertentu,” ungkap Alleb Koyau kepda wagadei.com di Jayapura, Sabtu, [28/9/2019].

Ia mengatakan, bukan karena inisitif rakyat Papua dan haknya untuk menyampaikan pendapat untuk menentukan nasib sendiri. Dalil seperti ini lanjutnya, sudah berkembang pesat.

“Padahal simplifikasi dan distrosi masalah pada kenyataannya tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah,” ucapnya.

Sebagai contoh, kata dia, menanggapi kondisi demo damai yang berujung pengrusakan di Jayapura pada 29 Agustus 2019 lalu, Kapolri dan Panglima TNI telah berkantor di Papua. “Terjadi penambahan 6000-an pasukan dengan harapan dapat meredam dan menyelesaikan masalah,”katanya.

“Akan tetapi, berselang beberapa minggu saja kini meletus lagi aksi di Jayapura [Ekspo] dan Wamena akibat pencetus yang sama, yakni soal rasisme yang berujung tuntutan kemerdekaan,” ujar Alleb.

Ia menegaskan, perlu digaris bawahi apabila kanal-kanal ekspresi terus dibungkam dengan kekerasan, substansi masalah terus diabaikan, keterlibatan militer dalam pembunuhan terus merajalela.

“Ya, kriminalisasi terus terjadi dan nilai kemanusiaan terus direndahkan. Maka dampak terburuk yang bakal terjadi adalah pemberontakan dan perlawanan rakyat yang meluas dan serentak,” katanya.

Ia menyarakan negara Indonesia musti berkaca dari peristiwa Timor Leste dan Aceh yang berdarah-darah karena pola pendekatan militeristik dan represif menjadi pilihan dalam menekan serta membungkam aspirasi kemerdekaan terutama di Timor Leste yang berujung masuknya intervensi asing.

“Sehingga menyebabkan bebasnya Timor Leste merdeka dan berdaulat. Papua tidak berbeda jauh karena sedang “on the way”  pada jejak Timor Leste,” ungkapnya.

Tokoh West Papua, Filep Karma menegaskan semua komponen di tanah Papua jangan saling serang menyerang lantaran adanya informasi bohong (hoaks). Mestinya harus pilahkan mana yang benar dan tidak agar terhindar dari permusuhan.

“Kalau ada yang jadi korban karena hoaks, mari kita menahan diri. Jangan saling balas membalas. Kekerasan tidak menyelesaikan permasalahan di tanah West Papua,” ujar Filep Karma dilansir http://jubi.co.id.

a menyarankan pihak kepolisian jeli melihat situasi ini agar konflik saling balas membalas tidak berkepanjangan. “Kita jernihkan masalah lalu lihat duduk masalah, silahkan tangkap pelaku dan lanjutkan proses hukum,” ucap Karma.

Menurutnya rakyat asli Papua dan non Papua di tanah Papua, saat ini menjadi  korban.

“Jangan kita diadu domba. Karena orang-orang besar di Jakarta yang menikmati uang keamanan. Buktinya datangkan pengamanan dari berbagai provinsi, itu bunyinya miliar,” katanya. [Abeth A. You]

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares