Mahasiswa dan pelajar di luar Papua sudah pulang

Pemerintah Papua masih masa bodoh!

Oleh: Marius Goo

MAHASISWA dan pelajar yang kuliah di luar Papua yakni Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya sudah meninggalkan studi dan pulang ke kampungnya di Papua. Mereka berkomitmen pulang ke Papua pasca  ujaran rasis di Surabaya oleh organisasi masyarakat [Ormas] reaksioner dan aparat gabungan TNI dan Polri pada tanggal 16 Agustus 2019 dengan mengatakan; orang Papua monyet.

Mahasiswa dituduh menjatuhkan bendera Merah Putih ke parit, namun pada akhirnya tidak menemukan kebenaran bahwa Mahasiswa Papua yang melakukan. Tuduhan yang berujung pada rasis membuat mahasiswa Papua hampir seluruh kota studi tidak menerima dan mengambil sikap untuk pulang kembali.

Sikap mahasiswa tersebut diambil karena mereka mengalami, diskriminasi, intimidasi, teror di hampir setiap asrama, kos dan kontrakan. Hampir semua tempat didatangi Intel, ormas bahkan TNI dan Polri dan mendata, meminta data lengkap, dan menginterogasi mahasiswa. Mahasiswa merasa tidak nyaman. Melihat kenyataan itu, gubernur Papua Lukas Enembe juga pernah memberitahu mahasiswa bahwa “jika memang di tempat studi  tidak merasa nyaman pulang saja dulu.” Berdasarkan pemberitahuan itu, juga niat mahasiswa yang merasa tidak betah tinggal bersama manusia yang rasis dan diskriminatif pulang kembali ke Papua. Diperkirakan hingga kini hampir semua mahasiswa Papua telah pulang kembali ke Papua dengan mengorbankan studi. Niat mahasiswa pulang kembali ke Papua untuk mendorong pemerintah, juga meminta semua rakyat bersatu mendorong “Penentuan Nasib Sendiri.”

Diperkirakan pada pertengahan atau akhir Oktober semua mahasiswa Papua di luar sudah pulang ke Papua. Hampir semua kota kabupaten, bahkan provinsi, mahasiswa sudah mendirikan posko pengungsian. Diperkirakan hampir 6.000 mahasiswa Papua di luar  sudah pulang kembali ke Papua dan mereka tidak menjalankan  aktivitas perkuliahan saat ini.

Mahasiswa dan pelajar Papua yang pulang dari luar sementara belum bisa menjalankan studi. Mereka minta pemerintah propinsi baik Papua maupun Papua Barat harus melakukan mogok sipil nasional. Mereka meminta aktivitas kampus dan perkantoran ditutup dan sama-sama mendorong penentuan nasib sendiri. Permintaan mahasiswa ini harus ditanggapi serius oleh pemerintah.

Jika pemerintah, baik kabupaten maupun propinsi menanggapi secara negatif aksi kedatangan mahasiswa ke Papua dapat dinilai tak berbobot. Niat pemerintah untuk mengembalikan mahasiswa ke tempat studi masing-masing juga tidak tepat. Sebab mereka telah terluka dan masih trauma dengan intimidasi dan teror yang di alami pada bulan-bulan sebelumnya. Pemerintah memulangkan kembali mahasiswa ke tempat studi masing-masing adalah kurang tepat dan tidak mempunya alasan yang kuat karena akan menambah luka dan trauma bagi mahasiswa dan pelajar di tempat studi. Karena itu, pemerintah harus mengambil jalan lain, jalan yang tidak merugikan siapa pun.

Pemerintah secara aktif menjalankan roda pemerintahan di Papua, termasuk pendidikan adalah menciptakan ketidakadilan bagi mahasiswa Papua di luar yang sudah Pulang. Semua mahasiswa sama, semua ingin belajar dan semua ingin memperoleh gelar. Mahasiswa Papua di luar mengorbankan harapan itu dan pulang ke Papua, sedangkan mahasiswa dan pelajar di Papua masih menjalankan proses perkuliahan secara aktif. Kenyataan ini tidak adil, karena mahasiswa Papua yang pulang dari luar  dikorbankan. Termasuk mahasiswa dan pelajar yang aktif studi di Papua juga tidak peka dan tidak setia kawan dengan mahasiswa Papua yang pulang dari luar. Mahasiswa Papua yang studi di Papua tidak peduli dan tidak simpati dengan saudaranya yang berkorban untuk kebaikan bersama bagi rakyat Papua.

Adakah mahasiswa dan pelajar Papua yang sekolah di Papua mempunyai sikap simpati bagi kawannya yang pulang dari luar? Ataukah masih buta dan tutup mata dengan semua yang terjadi ini? Mahasiswa Papua di luar yang sudah pulang ke Papua mempunyai harapan untuk mahasiswa dan pelajar Papua di Papua bergabung dalam misi yang sama, ialah bersama mendorong Penentuan Nasib Sendiri bagi rakyat Papua. Aksi nyatanya, semua Mahasiswa dan pelajar Papua tidak masuk sekolah, tidak ikut kuliah sampai permintaan penentuan nasib sendiri berlangsung.

Mahasiswa dan pelajar Papua yang kuliah di Papua jangan tutup mata, jangan menganggap enteng dan remeh dengan aksi kepulangan mahasiswa Papua dari luar. Mereka pulang ke Papua demi kebaikan bersama bagi manusia dan tanah Papua. Karena itu, semua masuk dalam satu komando, persatuan mahasiswa untuk mogok sipil nasional, melakukan aksi tutup sekolah mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi dan bersama mendorong Penentuan Nasib Sendiri bagi rakyat Papua.

Aksi ini jika memungkinkan, pemerintah mengeluarkan satu maklumat atau perintah untuk semua sekolah tutup, semua kantor tutup sampai “Penentuan Nasib Sendiri” dilakukan. Semoga aksi mahasiswa Papua yang datang dari luar ini menjadi aksi bersama semua orang Papua, baik orang asli Papua maupun orang pendatang di Papua agar dengan terselenggaranya “Penentuan Nasib Sendiri” semua yang ada di atas tanah Papua hidup bebas dan damai, tanpa tekanan dan intimidasi, bahkan tidak terjadi korban kekayaan dan nyawa seperti yang sedang terjadi diakhir-akhir ini. (*)

*) Penulis tinggal di Malang

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares