Jangan bilang aman, Deiyai masih belum kondusif!

Jayapura, [WAGADEI] – Kabupaten Deiyai sampai saat ini masih belum aman, keberadaan masyarakat dalam kondisi trauma, bahkan siswa dan siswi pergi ke sekolah juga masih ketakutan, pelayanan kesehatan dan RSU juga kurangi jam kerja. Apa penyebabnya?

Fabianus Mote, Kepala Distrik Tigi di ibukota Kabupaten Deiyai,  menegaskan hingga kini kondisi di wilayah kerjanya belum normal dari semua segi pasca kejadian unjuk rasa yang berujumg pada penembakan di Waghete, Deiyai pada 28 Agustus 2019 lalu.

“Kejadian penembakan itu terjadi di Waghete persis di distrik Tigi, wilayah kerja saya. Dan saya mau tegaskan bahwa kondisi di Tigi sampai hari belum normal kondusif,” ujar Fabianus Mote kepada Jubi melalui selulernya, Jumat, [20/9/2019].

Belum kondusif, kata dia, karena aparat keamanan entah Polisi, TNI dan Brimob masih saja melakukan datangi ke sejumlah kampung mencari satu pucuk senjata yang masih belum ditemukan.

“Untuk sekolah dan RSU dan Puskesmas sudah laksanakan aktivitas tapi belum efektif. Akses pasar masih belum lancar. Masih 80 persen, masih membutuhkan 20 persen, tapi satu minggu lebih ini agak baik,” ujar Mote.

Ia mengaku, aparat keamanan sering mendatangi dirinya lalu sempat diberitahukan empat hal. Pertama, kata dia, perlu adanya komitmen bersama dalam bentuk acara perdamaian. ” Beberapa hari lalu di Duwamo juga aparat masuk tanpa izin, setelah saya cari tahu mereka crai senjata yang hilang itu,” ucapnya.

“Jadi tindakan ini membuat masyarakat sampai sekarang masih trauma (takut),” katta Mote.

Selanjutnya, terkait pembangunan kantor Polsek Tigi dan diminta agar Pemerintah Kabupaten Deiyai tegas dalam mencari satu pucuk senjata yang hingga kini belum ditemukan itu.

“Mereka (aparat) juga singgung soal biaya keamanan dan biaya makan minum. Jadi saya pikir ini masalah serius yang mesti dipikirkan secara serius oleh kita bersama,” ungkapnya.

Berkaitan dengan perdamaian, ia menyarankan agar perlu berikan jaminan kenyamanan kepada korban yang akhirnya ditahan di Polres Paniai serta korban luka lainnya yang masih melakukan perawatan.

“Ada komponen tertentu bilang Deiyai sudah aman tapi saya Kepala Distrik masih belum merasakan aman. Jadi kami berharap sekali perlu adanya komitmen bersama semua pihak,” katanya.

Hal perdamaian dan beraktivitas kembali seperti biasa, pihaknya telah menyampaikan kepada Petrus Waine, perwakilan Kapolri yang datangi Deiyai beberapa waktu lalu.

Jika tak segera ditanggapi serius ia meyakini telah ada benih konflik susulan sehingga diminta jelih melihat dan mencegah akar masalah yang sebenarnya.

“Ada yang ditahan di Polres Paniai padahal sudah jadi korban dan masih sakit itu kita harus pikirkan sebelum lakukan komitmen perdamaian,” ucapnya.

“Setelah insiden ini setiap kali aparat keamanan datang ke rumah saya dan kantor.  Ujungnya mereka meminta uang dengan berbagai macam alasan. Saya selaku Kepala Distrik kota biasa menghadapinya, namun sudah capek dan bosan ketika setiap hari berhadapan terus apalagi kesedian uang operasional kantor saya habis bagi-bagi dgn teman-teman keamanan, tuturnya.

Senada juga dikatakan Wakil ketua II DPRD Deiyai, Petrus Badokapa bahwa pihaknya sedang berupaya semaksimal mungkin untuk mencari satu pucuk senjata yang sampai saat ini belum dapat.

“Pak Kapolda Papua dan Pak Pangdam VII/Cenderawasih beri kami kesempatan, kami sedang berupaya. Kami DPRD dan pihak eksekutif tidak tinggal diam,” ujar Petrus.

Dikatakan, sembilan pucuk senjata awalnya kerja sama dan mendapatkan dalam waktu yang singkat. Maka diharapkan agar jangan berlebihan melakukan sweeping terhadap masyarakat sipil di Deiyai terutama warga asli.

“Saya nyatakan Deiyai masih belum kondusif, masih belum aman. Aparat keamanan masih lakukan sweeping. Tapi kami legislatif dan eksekutif juga bekerja sama mencari senjata itu,” ujarnya.

Tokoh pemuda Deiyai, Moses Douw mengatakan, masih minim akses ke pasar karena trauma dengan TNI dan Polri yang berkeliaran di jalan sekeliling danau Tigi dengan menggunakan pakaian dan senjata lengkap.

“Sementara sekolah masih mogok, belum menjalankan proses belajar mengajar. Pada hari Rabu, (19/9) siswa SD YPPK Waghete membubarkan diri karena TNI dan Polri memantau siswa di depan sekolah. Hingga tadi siang siswa datang namun memulangkan diri sebelum jam 11.00 WP,” katanya kepada Jubi.

Ia juga mengatakan, pelayanan di Puskesmas dan RSUD untuk hari Rabu, (19/9) mengurangi jam kerja selama berapa hari ke depan. Bahkan kantor pemerintahan masih belum efektif menjalankan birokrasi.

“Itu semua karena trauma. Sebagian ASN mengatakan akan aktif apabila pegawai ASN sembuh gara-gara kena peluru dan keluar dari tahanan Polres Paniai,” ujarnya.

Menurutnya, ada pegawai ASN bernama Simon Petrus Ukago juga jadi korban tapi ditahan di Polres Paniai setelah keluar dari RSUD Paniai.

“Pedagang dan minimarket milik orang non Papua sepi dan non Papua juga sangat marah terhadap TNI Polri yang hadir kacaukan situasi perekonomian non Papua di Deiyai,” katanya.

Kepala Suku Tigi, Jack Adiii mengatakan juga bahwa himbauan Bupati Deiyai Ateng Edowai untuk kembali beraktivitas seperti biasa mestinya melalui mufakat bersama semua pihak.

“Seharusnya berdasarkan hasil rapat atau musyawarah dan mufakat beberapa elemen di Deiyai. Apabila himbauan sepihak akan ada terus trauma dan kekerasan di Deiyai,” kata Adii.

Setelah dikeluarkan himbauan Bupati kata dia, masih ada aparat kemanan memantau perkerjaan masyarakat, siswa di sekolah, kantor dan transportasi. [*]

Editor: Aweidabii Bazil

Sumber: http://jubi.co.id

banner 120x600

Respon (34)

  1. Priligy Au Bottes [url=https://cialibuy.com/]cialis generic release date[/url] Propecia Coupon Cialis Buying 60 Mg Orlistat Outside The Us

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *