Rakyat Papua; Berjuanglah dengan doa di sini, sekarang ini!

Oleh: Marius Goo

PAPUA dikenal seluruh dunia, bukan hanya karena kekayaan alamnya yang berlimpah, melainkan juga karena konflik-konflik, baik konflik vertikal [pemerintah dengan rakyat] maupun konflik horizontal [rakyat dengan rakyat sendiri]. Rakyat Papua mengetahui perisis konflik vertikal [pemerintah dengan rakyat] terjadi sejak Papua dimasukan dalam Negara Indonesia melalui New York Agreement 15 Agustus 1962 dan melalui jajak Pendapat PEPERA 1 Desember 1969. Hasil dari kedua moment terpenting politik rakyat Papua ini, rakyat Papua merasa dirugikan atau dikorbankan. Konflik demi konflik terjadi di atas tanah Papua.

Rakyat Papua merasa dirasial, didiskriminasi, bahkan dijajah oleh negara. Rakyat Papua mengambil oposisi untuk melawan sistem negara Indonesia yang mengorbankan rakyat Papua, dengan membentuk kelompok-kelompok perjuangan kemerdekaan Papua, untuk memisahkan diri dari Indonesia. Kasus terakhir, diskriminasi ras dengan menyebut orang Papua monyet tanggal 16-18 Agustus 2019. Kasus ini menyuburkan identitas orang Papua sebagai satu bangsa Melanesia yang berbeda dengan Indonesia. Keperbedaan inilah yang menguatkan rakyat Papua mengungkapkan asprasi-aspirasi rakyat Papua: Referendum, minta Penentuan Nasib Sendiri bahkan menyerukan Papua merdeka.

Memperjuangkan aspirasi-aspirasi ini tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan kodrati, harus melibatkan kekuatan adi-kodrati. Membawa kepada Yang Ilahi untuk menjadikan semua aspirasi orang Papua ini menjadi aspirasi-Nya. Karena itu, waktu kini orang Papua adalah waktu untuk berjuang dan menyerahkan selebihnya kepada Yang Ilahi menyempurnakan.

Sekarang ini, rakyat Papua berjuang di sini

Saat ini juga rakyat Papua menyadari secara sungguh bahwa sejak 15 Agustus 1962 telah dibodohi, didiskriminasi oleh negara adi-kuasa Belanda, Amerika dan Indonesia. Sejak saat itu pula konflik menjadi makin subur yang mengorbankan tidak sedikit nyawa manusia rakyat Papua untuk membela kebenaran dan orang Indonesia untuk merebut  tanah Papua menjadi bagian dari Indonesia. Dalam lingkaran status politik yang belum tuntas kekerasan-kekerasan merambah bumi cenderawasih, baik kekerasan langsung maupun tidak langsung, baik kekerasan fisik maupun non fisik. Dampak dari semua kekerasan ini menimbulkan dilema dan trauma, bukan hanya orang Papua namun juga orang Indonesia yang ada di Papua.

Diskriminasi rasial pada tanggal 16-18 Agustus 2019 terhadap mahasiswa Papua di Surabaya juga  bagian dari kekerasan-kekerasan yang dialami oleh rakyat Papua. Stigma monyet yang dilontarkan Ormas Reaksioner dan militer gabungan TNI/Polri saat itu makin memperkuat jati diri orang Papua sebagai satu bangsa, atau satu ras melanesia yang memang berbeda dengan Indonesia-melayu. Kekecewaan rakyat Papua atas stigma menguatkan nasionalisme dan patriotisme terhadap tanah leluhurnya. Hal ini terungkap dalam aksi-aksi penolakan diskriminasi rasial.

Diskriminasi rasial yang dialami rakyat Papua menghidupkan barah perjuangan: rakyat Papua menjadi satu, kompak, kuat dan bersemangat untuk melawan sistem Indonesia yang rasial selama ini. Kasus rasial di asrama Surabaya semacam menjadi bom yang membongkar diskriminasi-diskriminasi yang dialami rakyat Papua selama ini sejak tahun 1962, karena selama ini Indonesia telah menjadikan rakyat Papua adalah “warga kelas dua” seperti dikatakan Dr. Benny Giyai dalam dialog Intraktif bersama Mata Nadjwa pasca-aksi rasis.

Aksi-aksi penolakan atas diskriminasi rasial mengantarkan aspirasi-aspirasi rakyat Papua di meja Perserikatan Bangsa-Bangsa [PBB]. Aksi-aksi yang dilakukan dapat dikatakan berhasil karena setidaknya masyarakat dunia mengetahuai percaturan politik yang terjadi antara Papua dan Indonesia secara tertutup. Melalui aksi-aksi rakyat Papua juga dunia luar makin peka, makin mengerti bahkan prihatin dengan status politik Papua. Tentu hasil-hasil ini digapai rakyat Papua karena adanya kesadaran akan dirinya sebagai manusia di satu sisi, dan di sisi lain adanya kesadaran akan kesatuan ras dan kultur dalam satu pulau, Papua.

Yang perlu dilakukan rakyat Papua adalah barah perjuangan, semangat persatuan melawan diskriminasi, rasisme, stigma yang sudah mendunia jangan menjadi dingin, radup bahkan padam. Harus ada aksi-aksi non-stop, aksi berkelanjutan untuk menjaga aspirasi-asprasi yang telah sampai dikuping masyarakat dunia, teristimewa PBB. Rakyat Papua mesti ingat bahwa saat ini adalah saat untuk berjuang. Pertama dan utama, mogok menjalankan roda pemerintahan Indonesia baik Negeri maupun Swasta.

Selanjutnya, fokus pada tujuan perjuangan, seluruh diri orang Papua apa pun yang dilakukan saat-saat ini diarahkan atau disatukan hanya untuk merebut keinginan utama rakyat Papua keseluruhan. Rakyat Papua semuanya bersatu, bersekutu dan kompak mengerahkan semua daya, kekuatan, cara untuk mencapai tujuan dan cita-cita luhur rakyat Papua. Bahwa untuk mencapai cita-cita luhur rakyat Papua tinggal selangkah lagi sudah tercapai. Penuh berharap dan semangat untuk berjuang di sini dan saat ini adalah yang paling pokok dan terpenting untuk setiap dan semua rakyat Papua.

Sekarang ini, rakyat Papua berdoa di sini

Aspirasi rakyat Papua telah sampai di meja PBB dan banyak negara turut prihatin dengan situasi yang sedang terjadi di Papua. Demonstrasi menolak rasisme oleh semua rakyat Papua dengan cara dan gayanya, berhasil membawa keluar persoalan Papua ke masyarakat dunia. Karena itu, persoalan rakyat Papua sekarang bukan hanya menjadi tanggung jawab rakyat Papua, namun telah menjadi tanggung jawab masyarakat dunia.

Rakyat Papua harus bersyukur bahwa semua itu karena kebaikan Tuhan. Tuhan memihak dan prihatin dengan situasi Papua. Karena itu, supaya perjuangan rakyat Papua menjadi perjuangan Tuhan dan sebaliknya, rakyat Papua di sini dan saat ini harus berdoa. Rakyat Papua harus melibatkan Tuhan dalam seluruh perjuangan. Beberapa hal yang dapat menjadi intensi doa dalam perjuangan rakyat Papua:

Pertama, para pejuang. Mendoakan semua pejuang baik orang Indonesia maupun rakyat Papua agar Tuhan berkenan menjaga dan melindungi perjuangan mereka, terlebih para pejuang kebenaran, sehingga kebenaran dapat terwujud di atas tanah ini dari berita-berita hoax yang membingungkan.

Kedua, mendoakan semua orang Papua baik yang sudah pernah ada, sedang ada dan yang akan ada. Semoga semua orang Papua senantiasa ada dalam lindungan Tuhan, mempuk cinta dan damai demi membangun Kenegaraan-Nya di bumi Papua.

Ketiga, tanah Papua. Semoga tanah Papua tetap menjadi tanah yang layak dihuni oleh Tuhan sendiri dan semua ciptaan-Nya, terlebih manusia yang diberi hak penuh untuk menjaga dan merawat. Semoga tanah menghasilkan segalanya untuk keberlangsungan manusia Papua yang berbobot tinggi. Dan semoga Tuhan menjauhkan tanah Papua dari pengurasan, pengrusakan, eksploitasi dan perampasan.

Keempat, Intel-intel Papua. Mendoakan intel Papua agar dapat mencintai dengan sepenuh hati dusun dan saudara sebangsanya sendiri. Juga semoga mereka menyadari dan berbalik dari kesesatan karena telah menjual atau menggadaikan tanah yang adalah mamanya sendiri.

Kelima, negara Indonesia. Mendoakan negara Indonesia supaya selalu dalam lindungan Tuhan. Semoga mereka dapat disadarkan bahwa menjajah dan menindas orang lain: individu maupun kelompok adalah dosa. Mendoakan mereka untuk mencintai tanah mereka sendiri dan tidak merampas tanah milik orang lain. Dan mendoakan mereka supaya setiap persoalan dapat diselesaikan tidak dengan rapresif militeristik.

Keenam, PBB. Mendoakan supaya PBB segara mengambil langka yang tepat dan cepat untuk menyelesaikan status politik Papua, untuk menghindari korban, baik kekayaan maupun dan terutama nyawa manusia. Semoga Roh Allah berkarya dalam diri PBB untuk menyelesaikan persoalan Papua. [*]

*) Penulis tinggal di Malang

 

747 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares