Polisi hadang dan todong senjata kepada Direktur Eksekutif ULMWP Dalam Negeri dan ketua KAP Papua

Jayapura, [WAGADEI] – Aparat keamanan [Polri] berpakain preman menggunakan sepeda motor yang berjumlah sekitar lima, dengan kendaraan roda empat lainnya menghadang sebuah mobil yang ditumpangi Direktur Eksekutif Dalam Negeri, United Liberation Movement for West Papua [ULMWP], Markus Haluk dan Ketua Umum Kamar Adat Pengusaha [KAP] Papua, Musa Haluk, sekretaris umum Dewan Adat Papua [DAP, Willem Rumaseb dan Hendrik Kodi salah satu mahasiswa.

Penghadangan dan penodongan itu terjadi pada, Minggu, 15 September 2019 pukul 19.50 WP pertama di puncak gunung antara Perumnas IV dan Perumnas I persis tempat pembuangan sampah selanjutnya kedua terjadi di Kantor DAP, Jalan Raya Abepura – Sentani, disrik Heran, Kota Jayapura, Papua.

“Salah satu anggota Polisi yang menggunakan motor dari arah depan, menghadang di depan mobil kami. Anggota tersebut, berhenti dan parkir [sandar] motor di depan mobil kemudian langsung angkat dan todangkan Pistol langsung ke arah sopir mobil,” ujar Markus Haluk kepada wagadei.com, Selasa, [17/9/2019].

Dengan muka bengis dan seram, sang Polisi itu berteriak; ‘Stop! Jangan bergerak. Jangan maju. Berhenti. Berhenti! Buka pintu mobil, buka cepat. Buka Kaca, cepat buka kaca. Awas segera buka pintu mobil’, Haluk menirukan.

Ia menceerikan, pada saat yang bersamaan empat motor dan satu buah mobil anggota Polisi yang saat itu sedang mengikuti korban dari belakang tiba di lokasi yang sama. Merekapun membantu rekan anggota yang sebelumnya sedang todongkan pistol. “Anggota Polisi yang baru bergabung semua angkat pistol masing-masing dan menodongkan kepada kami semua. Pak Musa dan Pak Willem Rumaseb yang duduk bagian kursi tengah langsung membuka pintu mobil,” katanya.

“Pada saat yang bersamaan anggota membuka pintu di jok belakang dan di sebelah kiri, tengah dan depan kiri tempat saya duduk. Aparat periksa semua isi kendaraan. Aparat bertanya nama yang bawa mobil kemudian yang duduk di bagian belakang. Mereka tidak tanyakan nama [identitas] Markus Haluk yang duduk di depan sebelah kiri,” ungkapdia.

Setelah tanyakan nama dan pemeriksaan isi dalam mobil, kata dia, tidak ada respon dari Polisi dan seakan semua diam. Melihat reaksi aparat demikian, Musa Haluk hidupkan mesin mobil dan jalan ke depan menuju ke kantor Dewan Adat Papua.

“Kami merasa heran, karena Polisi tidak sampaikan apa dan siapa yang mereka cari atau targetkan. Hanya menodong pistol dan bersuara keras, buka pintu, buka jendela mobil setelah itu tidak ada penjelasan dari mereka,” ujarnya.

Lanjutan penodongan di kantor DAP

Pukul 19.55WP, lanjut Markus, pihaknya menuju ke kantor DAP yang berlokasi di Ekspo dengan maksud mengantar Sekretaris DAP, Willem Rumaseb. Sekitar pukul 20.15 WP tiba di kantor DAP Sesampai di kantor tersebut, ia turun dari mobil kemudian masuk ke dalam kantor untuk istirahat sejenak, sedangkan Musa, Willem dan bersama staf dan beberapa orang yang ada di kantor itu masih sedang diskusi depan kantor sambil berdiri.

“Pukul 20.20 WP,hanya berselang lima menit, rombongan aparat yang tadi cegat, menggunakan motor dan mobil memasuki area halaman kantor DAP. Setelah turun dari mobil, mereka langsung teriak, sambil menuju kepada Musa Haluk, siapa-siapa yang tadi segera datang. Anggota yang lainnya, dengan senjata lengkap putar mengelilingi kantor Dewan Adat Papua. Aparat kembali berteriak ‘segera buka pintu mobil. Segera buka dan periksa’,” ungkapnya.

Tidka lama kemudian, lanjut dia, menodongkan senjata kepada Musa Haluk dari tiga orang Polisi, satu di bagian testa kepala bagian depan, satu di kepala bagian belakang dan yang lainnya lagi di samping kanan. Dalam posisi sedang ditodong dengan senjata, Musa menjawab pertanyaan aparat.

“Ketika itu, HP Musa sudah di tangan aparat. Aparat memaksa Musa untuk mengaku siapa saja yang dalam mobil tadi. Aparat sesungguhnya tidak menyampaikan siapa sebenarnya yang mereka incar. Mereka juga tidak menunjukkan surat ijin pemanggilan atau penangkapan,” katanya.

Setelah penodongan senjata oleh tiga aparat berpakaian preman, lanjut dia, seorang yang diduga komandan timnya mendekat dan merekam wajah Musa.  Naskah penyampaian pesan Musa melalui video disampaikan oleh aparat yang diduga komandannya itu, sebagai berikut, ‘katakan, kami tidak cegat dan ditodong dengan senjata. Katakan juga saya sekarang baik-baik saja di kantor DAP Ekspo, sebutkan namamu Musa Haluk”. Musa pun menyampaikan pesan itu sesuai petunjuk aparat tersebut, yang secara nyata sedang dalam tekanan psikologis karena todongan senjata.

“Terror dan intimidasi seperti ini sama sekali tidak layak dilakukan oleh lembaga seprofessional kepolisian,” katanya menegaskan.

Musa Haluk mengatakan, kurang lebih satu jam mereka ada di sekitar kantor DAP Ekspo dengan tujuan yang tidak jelas. Mereka sempat ke belakang rumah warga mencari orang yang juga mereka tidak tahu persis siapa yang diburuh.

“Menodong senjata pada ibu dan balita sambil bersuara keras, ‘mana dua orang yang lari kebelakang’. Tak seorangpun mereka dapatkan dari proses pengejaran yang penuh dengan tindakan terror ini,” ujar Musa.

Selanjutnya, pukul 22.30 WP, Markus dan Musa meninggalkan DAP kantor lalu pulang ke rumah masing-masing. Setelah peristiwa ini aparat Brimob dengan seragam lengkap masih terus berlalu lalang hampir di sepanjang jalan Ekspo, Waena dan Abepura.

“Aparat keamanan [TNI/ dan Polri] terus mempratekan kriminalisasi kepada siapa saja terutama orang di Papua dan di Indonesia. Kapan saja, di mana dan kepada siapa saja mereka melakukan kriminalisasi, melakukan pembunuhan karakter serta psikologis,” ungkapnya.

Pihaknya menegaskan, apa yang dialami oleh keempat orang ini merupakan salah satu fakta prakter tebar ancaman kriminalisasi kepada siapa saja orang Papua.

“Atas nama hukum mereka melanggar hukum. Hukum tidak berlaku pada TNI dan Polri dan semua perangkat Pemerintah Indonesia, namun sebaliknya hukum dijadikan alat untuk menangkap, menindas, membunuh orang Papua,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari Polda Papua. Wagadei.com telah berupaya menghubungi Kabid Humas Polda Papua, A.M Kamal namun tidak ada balasan. [Abeth A. You]

banner 120x600

Respon (13)

  1. Іt’s perfect time to make some plans for the longer term and it’s time to be һappy.

    I have read this post and if I could I desire to counsel you some fascinating issues оr suggestions.
    Maybe you can write next articlеs relating to this article.
    I ⅾesire to read more issuеs about it!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *