Tangkap dan tembak pendemo, NKRI benarkan stigma orang Papua ‘Monyet’

Negara membenarkan sendiri dengan menangkap bahkan menembak pendemo yang adalah orang asli Papua

Oleh: Marius Goo

AKHIR-AKHIR ini dalam hari besar kemerdekaan NKRI yang ke 74 tahun, Indonesia merayakan hari besar dengan stigma kepada orang asli Papua [OAP] adalah monyet.

Selain menstigma orang asli Papua monyet menjadi lengkap dengan yell-yell yang diucapkan untuk mengusir orang Papua, yakni para Mahasiswa Papua di asrama Papua Surabaya. Sebutan Indonesia untuk orang Papua monyet dan pengusiran orang Papua dari Surabaya jika disandingkan merupakan satu kesatuan yang tak dipisahkan, bahwa memang monyet tidak bisa tinggal dengan kelompok manusia.

Karena mahasiswa diusir, maka hampir semua mahasiswa pulang. Mereka pulang karena martabatnya dihinakan. Manusia Papua disamakan dengan monyet. Monyet pulang ke tanahnya untuk membangun rumah bangsanya.

Baca: https://wagadei.com/2019/09/13/lakukan-jajak-pendapat-penentuan-nasib-sendiri/

Aksi mahasiswa pulang ke Papua merupakan  satu bentuk perlawanan, aksi-aksi yang dilakukan, bukan hanya di Indonesia atau seluruh pelosok Papua, melainkan juga oleh masyarakat dunia, bahkan PBB pun menyoroti aksi ketidakmanusiaan yang dialami masyarakat Papua keseluruhan dan khususnya Mahasiswa Papua di Surabaya, Malang dan Semarang.

Aksi-aksi protes yang dilakukan hampir seluruh tanah Papua dihadang oleh militer, bahkan berakhir dengan korban nyawa. Hingga saat ini, banyak aktivis Papua, juga para pendemo Papua yang ditahan dan dipenjarakan oleh militer. Kira-kira hampir ratusan pendemo, atau aktivis telah diselkan dan apa yang terjadi atas mereka di dalam penjara belum diketahui.

Aparat Kemanan tangkap para demonstran sebagai pembenaran

Kelihatannya militer sendiri sengaja menstigma orang Papua monyet, supaya jika orang Papua demo, bisa ditangkap dan dipenjarakan. Logika ini dapat dibenarkan karena hingga kini hampir ratusan pendemo ditahan dan dipenjarakan. Ditahan pun dengan aneka cara dan dalam situasi yang berbeda pula. Ada aktivis yang ditahan saat demo, ada juga yang ditahan sekalipun tidak berdemonstrasi.

Baca: https://wagadei.com/2019/09/11/siapa-lagi-yang-akan-dituduh-sebagai-pelaku-teror-ular/

Aksi penangkapan militer terhadap orang Papua ini bukan menyelesaikan masalah melainkan malah memperbesar masalah bagi rakyat bangsa Papua. Dengan penangkapan-penangkapan yang terjadi saat ini, status politik Papua makin meningkat dan makin mendunia. Apalagi dengan menuduh pihak-pihak atau oknum-oknum tertentu sebagai provokator, penghasut, dalang dan lainnya. Misalnya Benny Wenda dan Veronica Koman.

Siapa sebenarnya yang bermain dibalik semua stigma atas orang Papua monyet? Hingga kini belum secara tuntas terungkap. Namun yang jelas bahwa orang Papua telah terlukai. Dirasa luka orang Papua akan disembuhkan hanya melalui kemerdekaan, tidak tinggal hidup bersama NKRI. Ketika orang Papua terus berada bersama NKRI, stigma negatif terhadap orang Papua akan terus dirasakan, apalagi yang melakukan adalah militer sendiri.

Baca: https://wagadei.com/2019/09/11/monyet-tidak-boleh-paksakan-tinggal-bersama-super-manusia/

Militer sendiri yang mengatakan orang Papua monyet sekaligus Negara sendiri melalui militer menangkap bahkan menembak rakyat sipil Papua dengan senjata negara. Misalnya: kasus di Deiyai, Sorong, Timika dan di Jayapura. Seolah-olah Indonesia mengadakan amunisi perang untuk menghabiskan orang Papua.

Dengan melihat segala macam alat perang yang didrop ke Papua termasuk para prajurit perang, yang menangkap aktivis Papua diakhir-akhir ini, orang Papua merasa semua skenario ini dibuat oleh Negara Indonesia sendiri untuk menangkap semua aktivis Papua demi meredam demonstrasi-demonstrasi berkesinambungan, sekaligus Negara membenarkan  stigma militer Indonesia kepada orang Papua bahwa orang Papua itu monyet.

*) Penulis mahasiswa Pasca Sarjana, tinggal di Malang

1,669 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares