‘Kami dipantau drone dan ditembak pakai sniper’

Deiyai, [WAGADEI] – Korban insiden Deiyai berdarah 28 Agustus 2019 yang ditembak oleh aparat gabungan diantaranya TNI, Polri dan BKO Brimob di halaman kantor Bupati Kabupaten Deiyai mengaku dipantau drone [camera udara] saat mereka [massa] hilang di hutan karena dikejar aparat.

“Waktu kami bubar, melarikan diri ke hutan karena  ditembak dari halaman kantor Bupati itu kami dipantau dari camera udara [drone],” cerita Pai Mote kepada wagadei.com akhir pekan kemarin.

Pai mengatakan, masyarakat juga ditembak bukan hanya ditembak pakai senjata laras panjang seperti AK-47, M-16, SS-1 dan pistol tapi mereka juga ditembak pakai senjata sniper.

“Kami ditembak juga pakai senjata sniper dari jarak yang jauh, dan langsung kena mati mati. Saya sendiri lihat. Itu murni dilakukan oleh Tentara, Polisi dan Brimon,” katanya.

Ketika mulai penembakan diarahkan kepada massa aksi, ia ceritakan terjadi di depan Bupati, DPRD, pejabat lain dan Kapolres Paniai. “Walaupun Bupati dan DPRD masih dalam ruangan tapi anggaplah itu terjadi depan mereka,” ujarnya.

“Kalau Kapolres juga ada berdiri di depan kantor Bupati Deiyai, Danramil itu baru keluar setelah melihat situasi panas,” ucapnya.

“Memang telah terjadi pembiaraan dari Pemerintah Kabupaten Deiyai terhadap rakyat yang ikut aksi menolak rasis pada 28 Agustus 2019. Puluhan rakyat telah korban luka parah dan kejatuhan nyawa oleh senjata hingga ada RSUD Paniai di Madi sampai tahanan Polres Paniai saat ini, merupakan salah satu pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Pemerintah dan aparat keamanan,” jelas dia.

Padahal, kata dia, agenda demo damai adalah jadwal secara nasional di seluruh tanah Papua yang bukan hanya dilakukan di Deiyai. “Tetapi hampir semua kabupaten yang ada di tanah air Papua, bahkan di luar negeri juga lakukan aksi yang sama. Hal itu harus diketahui,” ungkapnya.

Tokoh pemuda Deiyai, Pitalis Pekei mempertanyakan kepada Kapolres Paniai dan Danramil Deiyai bahwa kenapa masih saja meakukan pengejaran terhadap masyarakat sipil. Salah satunya mendatangi rumah warga dan mengambil secara paksa anak panah dan busur yang merupakan jati diri seorang laki-laki Mee.

“Kami harap Bupati dan DPRD harus menghentikan sweeping dan razia alat-alat kerja dan alat-alat adat terhadap hingga pelosok kampung dan di hutan-hutan. Hal ini sangat keliru, dan kami pertanyakan kehadiran TNI, Polri dan Brimob ini melindungi masyarakat atau mau membunuh?,” imbuhnya bertanya.

Ia mengaku dirinya juga termasuk satu korban yang masih hidup sehingga apabila korban lain mengaku diintai menggunakan drone meruapakan sesuatu yang fakta di lapangan. “Saya adalah salah satu korban  dan masih terluka,” paparnya.

Lebih kejam lagi, semua kendaraan yang diparkir di komplek kantor Bupati diangkat oleh mobil Polisi dan disemnbuyikan. “Sementara semua kendaran d angkat secara tidak wajar, lebih kejam lagi manusia ditembak. Siapa yang akan tanggungjawab semua ini?,” katanya. [Melison Dogopia]

Editor: Aweidabii Bazil

429 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares