Tidak ada jaminan keamanan bagi OAP dari Aparat Kemanan saat aksi

Jayapura, [WAGADEI] – Orang asli Papua [OAP] yang menjadi korban tewas pada aksi serang balik dari masyarakat yang menamakan Panyuban Nusantara di sepanjang Entrop hingga Jayapura Kota pada Sabtu, 30 Agustus 2019 menyatakan sikap bahwa sudah tidak ada lagi kepercayaan kepada aparat keamanan, TNI dan Polri.

Karena bagi Daniel Samon, orangtua kandung dari Almarhum Marselino Samon, anak SMA berusia 15 tahun yang tewas dibunuh oleh Panguyuban Nusantara pada Jumat, 29 Agustus 2019 lalu adalah dibuuh depan aparat dan meminta perlindungan namun tidak digubris.

“Ada pihak keamanan saat aksi itu, kenapa aparat keamana tidak jamin, terus dia [Marselino] minta tolong tapi tidak ada jaminan kemanan dan anak saya jadi korban di situ,” ujar Daniel Samon kepada wagadei.com, Sabtu, [14/9/2019] di Polimak, Jayapura.

Marselino dilaporkan tewas diserang oleh kelompok Nusantara melakukan balasan sepanjang jalan Entrop dan baru diketahui hari Sabtu, mayarnya berada di RS Bhayangkara dan dimakamkan hari Minggu setelah dibawah pulang ke rumah duka yang berlokasi di Batu Putih, Polimak,

Menurut Daniel, pihak keamanan jangan selalu memihak non Papua, harus sebagi bentuk pembuktian ‘Melindungi dan Mengayomi’ harus merata termasuk  orang asli Papua dilindungi jika merasa OAP juga bagian dari mereka. “Jadi di sini aparat Kepolisian dan Tentara itu tidak pernah lindungi orang Papua, padahal orang Papua itu butuh jaminan seperti pada saat aksi,” ujarnya.

“Saya bilang masalah keamann bagi orang Papua tidak ada, namanya orang Papua sudah tidak ada kepercayaan, salah satu saya. Kepercayaan tidak ada. Makanya keras sedikit kata ‘melindungi dan mengayomi’ tidak usah pakai dalam lingkungan Kepolisian. Kita ini setara, kita semua manusia,” ungkapnya.

Kapolri Tito Karnavian mengatakan, kehidupan dan kematina adalah urusan Tuhan sehingga diingatkan tidak boleh ada aksi yang berujung pada anarkis di Kota Jayapura.

“Kematian ini tidak kita inginkan adanya insiden yang terjad. Makanya saya sudah minta kelompok Panguyuban Nusantara tidak boleh ada nama itu, kita semua nasnatara,” kata Tito ketika melayat rumah duka.

Ia mengatakan, apa yang telah terjadi menjadi takdir Tuhan, sehingga manusia di bumi tidak bisa terhindar. “Jadi kita tidak bisa hindarkan, kita percaya bahwa kematian dan kehidupan dalah uurusan Tuhan,” ujarnya.(Abeth A. You)

Editor: Aweidabii Bazil

408 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares