Ini analisis solidaritas anti rasis Dogiyai tentang rasisme

Jayapura, [WAGADEI] – Ketika Indonesia meneriaki orang asli Papua [OAP] itu monyet, maka seluruh masyarakat asli Papua baik itu Gubernur, Walikota, DPRP, DPRD, MRP, para pejabat esekutif, para pejabat legislatif, para pejabat yudikatif, para pengusaha, para intelektual, akademisi, para Menteri RI OAP, staf di Kesekretariatan Negara dan Kementerian Kementerian, para Kepala SKPD, dan lainnya adalah monyet.

Kordinator Solidaritas Anti Rasis [SAR] Dogiyai, Papua, Goo Benny menanyakan, pelecehan rasisme dengan sebutan monyet yang disampaikan dengan sengaja dan sadar oleh orang Indonesia adalah apakah rakyat Papua menerimanya dengan kesungguhan hati? Tentu tidak! Alasan penolakan pelecehan rasisme dengan sebutan monyet, kera, dan gorila dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yang orang mengenal yakni yang pertama menurut sudut pandang negara Indonesia yang dituangkan dalam buku pelajaran Sejarah Indonesia Penerbit Erlangga untuk SMP kelas VII pada kurikulum 1994 Bab I yang mengulas tentang asal usul orang Indonesia di sana menjelaskan bahwa manusia Indonesia yang ber-Ras Melayu berasal dari Kera.

Goo mengatakan, dengan istilah Phitecantropus Erectus and Homo Soloencis. Dalam Buku Geografi juga diuraikan bahwa Eksistensi dan Habitat Kera telah ditemukan di Jawa, Sulaweisi, Kalimantan dan Nusa Tenggara. Lebih banyak ditemukan disekitaran sungai Bengawan Solo Jawa Tengah. Baik itu dalam buku sejarah maupun buku Geografi, sedikitpun tidak menjelaskan bahwa Ras Melaneisia itu berasal dari Kera.

“Yang kedua dari sudut pandang orang Papua, bahwa memang benar, suku di Papua itu lebih dari 200 suku Melanesia di West Papua tetapi semua suku dalam sejarah turun temurun, cerita Mitolologi orang Papua, dan cerita-cerita dongeng orang menjelaskan dan mewariskan bahwa manusia Papua ras Melaneisia itu diciptakan oleh Tuhan Allah sendiri. Contohnya, suku Mee yang ras Melanesia menyakni bahwa suku Mee diciptakan oleh Ugaatame. Dan sudut pandang ketiga adalah menurut sudut Pandang Alkitab, dalam Kejadian Bab I menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah menurut citranya atau gambarnya. Jadi Pandangan orang Mee dan Suku lain di Papua serta Alkitab itu sama ketimbang Sejarah Indonesia,” katanya menjelaskan kepada wagadei.com belum lama ini.

Berdasarkan pelecehan yang panjang dan berkelanjutan oleh Indonesia terhadap orang asli Papua itu tidak pernah terbukti dalam sejarah Indonesia, geografi Indonesia. Bahkan dalam cerita cerita Mitologi Papua dan Alkitab. Yang ada dalam Alkitab dan keyakinan orang Papua adalah manusia Melanesia diciptakan oleh Allah sendiri menurut citra dan gambarnya sendiri.

“Kemudian, dalil pengalihan isu itu sedang diciptakan dengan pengkondisian istilah melalui pelecehan dan persekusi serta mengalihan isu isunya tetapi rakyat Papua berterima kasih kepada Indonesia karena hanya melalui rasisme ini rakyat Papua bangkit dan bersatu melawan hingga isu rasisme menjadi isu internasional,”  lanjutnya.

“Ini bukti rasis terhadap orang Papua menjadi isu Internasioanl seperti negara-negara Philipina,  Timor Leste, Hongkong, Australia dan PNG kemudian gereja-gereja di Pasifik, International Leagua of Peoples Struggle (ILPS) Hongkong and Macau pun melakukan aksi protes di Konsulat Jenderal RI, dan ada banyak dukungan mengalir dari luar tentang rasisme terhadap orang Papua,” ucapnya.

Menurutnya, dengan bertambah banyaknya dukungan luar maka Indonesia hari ini sedang dalam ketakutan. Bukti ketakutan Indonesia hari ini adalah jaringan internet di wilayah Papua sudah diputuskan, begitupun tanggapan politikus negara Indonesia Amien Rais, mantan Ketua MPR dan Ketua Partai PAN dalam media gatra.com Jumat 23 Agustus 2019 di Pluit Jakarta Utara.

“Menyatakan Papua akan masuk dalam agenda Majelis Umum PBB bulan Desember 2019 oleh karena itu Presiden Jokowi jangan anggap sepeleh tetapi hati hati dan serius menangani masalahnya. Karena dirinya kuatir nasib Indonesia akan sama dengan Uni Soviet dan Yugoslavia jika Papua Lepas dari Indonesia sebab negara yang kuat dengan ekonomi, militer dan inteligen itu akan Hancur berkeping keping dalam satu minggu atau bulan,” katanya menirukan.

Selain dari itu juga,lanjutnya  Rektor STF Driyakara Jakarta, Prof. Dr. Frans Magnis juga menyatakan bahwa jangan jadikan masalah rasisme terhadap Papua itu sama dengan Timor Leste karena Papua itu sah dalam NKRI.

Hari ini, lanjut dia, Presiden Repblik Indonesia Jokowi mengajak Papua sebagai pemaaf di Indonesia dan minggu depan orang nomor satu di Indonesia akan memanggil perwakilan rakyat Papua untuk bertemu karena Papua sudah aman dan aktifitasnya lancar.

“Maka, pertanyaan rakyat Papua adalah jika Papua sudah aman dan lancar kenapa militernya didrop ke Papua terutama di Jayapura, Manokwari, Sorong, Deiyai dan Fak-Fak?, Kenapa Jaringan Internet wilayah Papua diputuskan?,” katanya bertanya. [Abeth A. You]

487 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares