Siapa lagi yang akan dituduh sebagai pelaku teror ular

Kebenaran selalu berpihak kepada orang benar

Oleh: Daniel W.Gobai

SENIN, 9 September 2019 subuh mahasiswa Papua di asrama mahasiswa Papua di Surabaya Jawa Timur kembali diteror. Bentuk teror kali ini agak berbeda. Bukan diancam akan diusir, dibunuh dan lain sebagainya, seperti yang diserukan pada aksi pengepungan asrama sebelumnya. Melainkan diteror kali menggunakan ular. Ini dasyat. Ini adalah gambaran negara yang katanya negara demokrasi, berpedoman UUD 1945 dan Pancasila. Namun kejadian seperti ini masih dibiarkan terjadi. Kejadian bermula, saat empat orang tak dikenal [OTK] menggunakan dua sepeda motor membawa tiga karung berisi ular. Karung yang berisi ular tersebut kemudian dilempar ke halaman asrama tersebut.

Kasus teror dengan menggunakan ular tersebut sejatinya bukan merupakan hal baru bagi orang papua. Satu atau dua tahun lalu, di Papua, pernah terjadi kasus di mana seorang polisi menginterogasi orang papua menggunakan ular. Upaya teror semacam ini, boleh dikata unik dan menarik perhatian khalayak luas. Namun cara demikain,  adalah terbilang kolot. Teror bermodus ular adalah teror yang berbahaya dan inilah cara orang-orang yang sengaja menggunakan pola-pola lama, dalam memperkeruh suasana. Kasus teror dengan ular di asrama Papua Surabaya, tentu mengangetkan semau pihak. Akan tetapi, kejadian seperti itu, sebagai tanda bahwa sebuah negara yang disebut Indonesia belum sepenuhnya menjalankan segala janji di mana akan memberikan rasa aman dan damai kepada semua warga negara, terutama mahasiswa Papua. Kejadian di atas boleh jadi sebagai tanda bahwa Indonesia akan runtuh, habis dan porak-poranda.

Dalam peristiwa ini, Pemerintah Indonesia, boleh mendaya-upayakan segala cara untuk memutarbalikkan fakta. Boleh berdalih dan menuduh siapa saja. Namun negara indonesia harus tahu bahwa, semua akan tersingkap. Tidak ada hal yang akan tersembunyi rapih tapi pada saatnya tersingkap. Saatnya akan tiba. Dan akan segera tiba, saatnya NKRI ini akan kehilangan harga diri dan martabat di mata siapa saja di planet ini. Mengingat bahwa, perlakuan yang tidak berimbang dan tidak manusia ini, kendati ditutup rapat, namun perlu digarisbawahi bahwa Tuhan akan menyatakan kemuliaan dan kemahakuasaan-Nya bagi yang sedang menderita dan tersingkir. Pengalaman telah membuktikan untuk itu.

Peristiwa teror menggunakan ular ini, tidak terlepas dari rangkaian teror lannya. Yang berbeda, hanyalah motif atau cara. Barangkali polisi melalui badan intelijen bisa bisa mengungkap, siapa pelakunya, namun hal itu tidak dilakukan. Sesungguhnya, sebelum terlambat, polisi seharusnya harus segera menindak. Tanpa kompromi. Hal ini penting. Bahkan penindakan tegas mesti diambil pemerintah agar pelaku-pelaku yang diketahui berjumlah empat tersebut diproses secara hukum. Toh hingga kini dibiarkan berkeliaran, buat onar dan masalah sana sini.

Mengapa pengejaran dan penindakan harus secepatnya dilakukan? Supaya tindakan ini dapat memberi citra positif atas kinerja kepolisian dalam mengatasi masalah-masalah atau teror-teror yang nantinya bisa berpotensi memecah belah bangsa Indonesia. Selain itu, dengan penindakan yang cepat dimaksudkan untuk menghindari tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar pada fakta. Masalah teror menggunakan ular ini menjadi suatu masalah serius nantinya. Untuk itum, Pemerintah harus mengambil langkah tegas, demikian juga pihak keamanan. Dan dalam menghusut persoalan, pemerintah maupun pihak kepolisian, tidak berat sebelah. Harus adil dalam menegakkan dan menyelesaikan persoalan.

Semua pihak harus waspada

Semua pihak di Papua yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran harus waspada. Jaga diri. Karena segala kemungkinan bisa terjadi. Semuanya dapat berpotensi mendapat dakwaan atau tuduhan sebagai pelaku pelempar ular kepada mahasiswa papua di Surabaya. Segala kemungkinan dakwaan bisa saja terjadi, sejauh pelakunya belum terungkap. Menurut penulis, orang pertama yang berpotensi dipersalahkan atau dituduh sebagai otak dibalik teror dengan ular di Surabaya adalah Benny Wenda (Ketua ULMWP). Ia harus terus waspada dengan tuduhan sebagai pelaku. Hal ini rasanya aneh, namun inilah kenyataan negeri dongen (Indonesia). Mengapa Benny Wenda harus waspada dan segera tanggap? Karena, barangkali Beny Wenda akan dipandang Menkopolhukam RI, Wiranto dan koloninya sebagai mengompori masyarakat Papua, agar situasi yang telah kondusif [kondusif versi pemerintah] kembali chaos atau memanas agar masalah Papua dibahas di PBB. Untuk menghindari hal ini, Benny Wenda mesti/harus menegaskan bahwa pelaku teror dengan ular di Surabaya sama sekali tidak melibatkan dirinya. Tn. Benny Wenda harus segera seruhkan bahwa, apa yang dia perjuangkan adalah murni melalui jalan damai tanpa kekerasan [non violence]. Mengapa hal ini penting, sebab segala kemungkinan dapat terjadi.

Selain itu, mahasiswa Papua yang berada di Surabaya perlu waspada pula. Bahaya sedang mengintai mereka. Mereka berpotensi didakwah/dituduh oleh militer atau pemerintah sebagai pelaku. Menurut akal sehat tidak mungkin korban dijadikan pelaku teror, namun itu tidak berlaku bagi negara kolonial Indonsia. Untuk itu semua pihak perlu waspada. Kendati kebenaran akan terungkap nantinya, namun siap siaga penting. Mahasiswa dalam hal ini, harus membuat pernyataan bahwa mereka bukan pelaku teror yang membawa dan membuang ular di asrama mahasiwa Papua di Surabaya.

Pemerintah Indonesia, melalui pihak keamanaan seharusnya harus segera mengejar dan memberi efek jerah kepada pelaku teror dengan ular di Surabaya.  Tindakan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab bila ada pembiaraan terjadi dan tidak ingin mengusut tuntas siapa pelakunya, dan pemerintah memilih menuduh mahasiswa Papua atau Benny Wenda sebagai pelaku yang mendalangi, aksi teror menggunakan ular tersebut, maka Indonesia dikhawatirkan akan kehilangan reputasi baik di mata dunia. Negara hukum seperti Indonesia harus bertindak secara dewasa dan profesional. Tuduhan tanpa pembuktiaan atau pembungkaman kebenaran menjadi jalan-jalan yang lurus bagi kemerdekaan Papua. Bukan mustahin bahwa kebenaran akan berpihak kepada orang tidak bersalah.

Ingat kebenaran tidak pernah berpihak kepada kejahatan. Kebenaran dan keadilan, bagaimana pun upaya pemerintah dan pihak keamanan untuk menutup-nutupinya, khususnya oleh orang-orang yang bertabiat buruk dan jahat namun pada dasarnya kebenaran akan selalu berpihak kepada orang benar. Jika Pak Beny Wenda sang pejuang kebebaan dan kebenaran seandainya tidak mendalangi kasus teror dengan ular ini maka berbagai dukungan akan berdatangan. Dari semua benua akan menyatakan dukungan. Kebohongan atau pembodongan publik seperti yang sedang dilakukan oleh otoritas yang berkuasanya harnya menambah musuh bangsa. Hal tersebut hanya akan mempercepat kalau Papua akan segera berpisah. Merdeka dan mandiri. Betapa pun kelicikan, kejahatan, dan pembodohan yang dibangun oleh pemerintah, semua niscaya jika tidak bersadar pada fakta atau fakta yang rekayasa maka bukan mustahil Papua akan segera menjadi negara tetangga Indonesia. (*)

*) Penulis tinggal di Malang

banner 120x600

Respon (14)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *